KENDARI – Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Halu Oleo (UHO) bekerjasama dengan Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) FIB serta jaringan Lembaga Masyarakat Sipil (CSO) menyelenggarakan peringatan Kampanye 16 Hari Anti Kekerasan terhadap Perempuan. Acara yang mengusung tema “Kita Punya Andil Kembalikan Ruang Aman” ini digelar di Gedung Teater FIB UHO, Senin (8/12/2025).
Kegiatan ini melibatkan kolaborasi lintas sektor, menggandeng organisasi seperti Lambu Ina, Aliansi Perempuan (Alpen), Rumpun Perempuan, dan Jaringan Perempuan Pesisir Sulawesi Tenggara.
Mewakili panitia pelaksana sekaligus Direktur Alpen Sultra, Ibu Syarifain dalam sambutannya menekankan pentingnya momentum ini. Ia menjelaskan bahwa peringatan yang berlangsung dari 25 November hingga 10 Desember ini adalah gerakan global untuk memperjuangkan Hak Asasi Manusia (HAM), khususnya dalam menekan angka kekerasan berbasis gender.
“Indonesia sudah mulai melakukan kampanye ini sejak tahun 90-an. Kami berharap perayaan sederhana ini bermanfaat bagi kita semua. Sebelumnya kami juga telah melakukan kegiatan bersama Wali Kota Kendari. Harapannya, sejarah panjang aktivisme perempuan ini bisa terus bermitra dengan pemerintah dan kampus,” ujar Syarifain.
Ketua BEM FIB UHO, Muhamad Arif, menambahkan bahwa mahasiswa memiliki peran krusial dalam isu ini. “Momen ini sangat perlu, terutama bagi mahasiswa. Sesuai tema kita, mahasiswa harus punya andil peduli mengembalikan ruang aman, khususnya mengenai kekerasan terhadap perempuan,” tegasnya.
Acara dibuka secara resmi oleh Dekan FIB UHO, Prof. Dr. Akhmad Marhadi, S.Sos. Dalam sambutannya, ia menegaskan bahwa penanganan kekerasan seksual bukan hanya tugas NGO atau lembaga swadaya masyarakat semata, melainkan tanggung jawab akademisi, kampus, dan pemerintah.
“Edukasi mengenai kekerasan seksual, baik fisik, psikis, ekonomi, maupun KDRT, sangat penting. Bukan hanya pada momen peringatan ini, tapi harus didiskusikan setiap hari,” ujar Prof. Akhmad Marhadi.
Dekan FIB juga membuka peluang kolaborasi riset ke depannya. “Kita perlu ruang diskusi pengetahuan dan informasi riset dari kawan-kawan NGO mengenai isu perempuan untuk menciptakan rasa aman. Ke depan, kita akan tingkatkan kegiatan seperti ini dengan narasumber dari NGO,” tambahnya.
Diskusi Film dan Sorotan Relasi Kuasa
Inti acara diisi dengan nonton bareng (nobar) “Film Piluh” dilanjutkan dengan diskusi publik. Film tersebut memantik reaksi kritis dari mahasiswa. Reihan, salah satu mahasiswa FIB, mengapresiasi film tersebut yang memberikan pelajaran tentang kekerasan seksual di mana pelakunya adalah orang terdekat atau yang memiliki jabatan, seperti pelatih Paskibra dalam film tersebut.
Menanggapi hal itu, Yustin Ferndrita selaku pembicara menyoroti adanya relasi kuasa. “Sering kali tokoh yang memiliki popularitas atau kekuasaan justru menjadi pelaku kekerasan,” ujarnya.
Diskusi semakin menghangat ketika Putri, seorang peserta diskusi, mengungkapkan keresahannya mengenai dinamika di lingkungan kampus. Ia menyinggung adanya kasus kekerasan pada periode 2023/2024 yang terjadi di lingkup fakultas.
“Ada fenomena solidaritas yang bukan pada kebaikan, tapi solidaritas dalam keburukan. Relasi kuasa sangat kental dalam dunia pendidikan, di mana korban sering kali terancam dari sisi nilai akademik. Bagaimana cara kita menangani kasus seperti ini di dunia pendidikan?” tanya Putri kritis.
Kegiatan ini sebagai langkah awal yang konkret bagi civitas akademika FIB UHO untuk menciptakan lingkungan kampus yang bebas dari kekerasan seksual dan memulihkan ruang aman bagi seluruh mahasiswa.
