Jenderal Maruli Simanjuntak Siap Sulap 318 Jembatan Putus di Aceh
Bencana

Jenderal Maruli Simanjuntak Siap Sulap 318 Jembatan Putus di Aceh

ACEH — Percepatan pemulihan infrastruktur vital, khususnya konektivitas, menjadi prioritas utama pemerintah dalam penanganan pascabencana di Aceh. Presiden Prabowo Subianto menginstruksikan jajaran TNI dan Kementerian Pekerjaan Umum untuk segera memulihkan akses masyarakat yang terisolasi. TNI Angkatan Darat (AD) menyatakan kesiapan penuh memobilisasi personel dan teknologi taktis guna menyambung kembali 318 jembatan yang rusak.

Hal tersebut mengemuka dalam Rapat Terbatas (Ratas) penanganan bencana yang dipimpin langsung oleh Presiden Prabowo Subianto di Pangkalan Udara (Lanud) Sultan Iskandar Muda, Kabupaten Aceh Besar, Aceh, Minggu (7/12/2025) malam. Rapat dihadiri oleh jajaran menteri Kabinet Merah Putih, Panglima TNI, Kapolri, dan Kepala BNPB.

Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD) Jenderal Maruli Simanjuntak menegaskan, di bawah koordinasi Panglima TNI, matra darat siap menutupi segala kekurangan dukungan yang dipetakan oleh Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB).

“Dari segi personel tidak ada masalah. TNI saja sudah lebih dari 30.000 (personel) siap digerakkan,” ujar Maruli dalam laporannya.

Solusi “Jembatan Aramco” Fokus utama TNI AD kini tertuju pada perbaikan 318 unit jembatan yang rusak akibat bencana. Maruli memaparkan strategi percepatan perbaikan dengan menggandeng Kementerian Pekerjaan Umum (PU) menggunakan teknologi Aramco—struktur baja bergelombang berbentuk ring atau gorong-gorong besar yang lazim digunakan untuk jembatan skala kecil hingga menengah.

“Kami sudah berkoordinasi dengan PU menggunakan jembatan Aramco yang menggunakan ring seperti baja. Jadi, pengerjaannya lebih cepat dan kami akan coba terapkan,” jelas Maruli.

Suasana rapat yang serius sempat mencair ketika Presiden Prabowo menanggapi istilah teknis tersebut dengan seloroh khasnya. Mendengar kata “Aramco”, Presiden teringat pada raksasa minyak dunia asal Arab Saudi.

“Jembatan apa itu?. Aram itu kayak perusahaan minyak ya, di Saudi sana. Lu punya hubungan apa dengan Saudi?” tanya Prabowo yang langsung disambut tawa para peserta rapat.

Menanggapi kelakar Presiden, Maruli menjelaskan spesifikasi teknisnya. Jembatan dengan konstruksi baja ini fleksibel dan mampu menampung diameter hingga 5 meter. Namun, untuk kondisi lapangan saat ini, mayoritas yang dibutuhkan adalah ukuran kecil.

“Kalau sudah besar pasti mintanya (Jembatan) Bailey, Pak. Kalau diameter 3 meter kita susun, itu bisa cukup panjang. Kami akan memastikan keamanannya dengan Kementerian PU,” terang mantan Pangkostrad tersebut.

Nadi Kehidupan Warga Selain infrastruktur fisik, TNI AD juga menyiagakan dukungan tenaga medis (dokter) dan personel untuk pembangunan hunian sementara (huntara). Kesiapan ini merupakan respons atas kesulitan tenaga di lapangan.

Di hadapan Presiden, Jenderal Maruli juga menyampaikan rasa bangganya dipercaya memimpin operasi krusial ini. “Kehormatan bagi saya bertugas sebagai Komandan Satgas Jembatan. Di tempat ini kami buktikan, dan juga nanti seluruh Indonesia. Kami akan segera kerjakan,” tegas Maruli.

Menutup pembahasan tersebut, Presiden Prabowo menekankan bahwa jembatan bukan sekadar beton dan baja, melainkan urat nadi perekonomian dan sosial. “Jembatan ini sumber kehidupan masyarakat,” pungkas Presiden, menggarisbawahi urgensi penyelesaian masalah tersebut.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *