JAKARTA – Mantan Presiden Joko Widodo (Jokowi) menyampaikan urgensi kesiapan Indonesia dalam menghadapi pergeseran paradigma ekonomi global. Menurut Presiden, dunia sedang bertransisi dari Ekonomi Digital menuju Ekonomi Kecerdasan, sebuah transformasi yang didorong oleh akselerasi penggunaan Kecerdasan Buatan (Artificial Intelligence atau AI) dan Robotika. Pernyataan ini disampaikan Presiden dalam wawancara eksklusif dengan Kompas TV malam ini.
Dalam pandangannya, transisi ini bukan sekadar evolusi, melainkan sebuah revolusi besar yang akan terjadi dalam rentang 5 hingga 15 tahun ke depan. Jokowi memproyeksikan lonjakan drastis dalam produktivitas global dan nasional, menyamakan dampaknya dengan Revolusi Industri yang terjadi pada tahun 1970-an.
“Ini akan menjadi revolusi industri tahun 1970, ini akan terjadi ke depan… produktivitas global naik drastis, terutama AI dan Robotik,” ujar Jokowi.
Jokowi menegaskan bahwa Indonesia memiliki kapasitas untuk menghadapi tantangan ini, asalkan pemerintah dan seluruh elemen bangsa segera mengambil langkah strategis yang fokus pada tiga pilar utama yakni pertama, Kesiapan infrastruktur menjadi fondasi utama. Jokowi mengakui bahwa masalah anggaran kerap menjadi kendala bagi negara berkembang untuk memastikan infrastruktur siap menopang tuntutan teknologi tinggi.
Kedua, peningkatan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) menjadi isu terbesar yang harus diatasi. iA menekankan perlunya pelatihan secara merata di seluruh wilayah Indonesia, khususnya dalam penguasaan AI dan coding, untuk menyesuaikan sumber daya manusia dengan permintaan pasar.
Ketiga, Jokowi menyuarakan kekhawatiran mendalam terhadap potensi penyalahgunaan AI. Oleh karena itu, ia mendorong agar regulasi dan aturan yang ketat segera dirumuskan untuk mengontrol pemanfaatan AI, sehingga tetap memberikan manfaat bagi kehidupan dan ekonomi.
Ia juga menyoroti fakta bahwa kecepatan teknologi dan sektor swasta kerap melampaui regulasi pemerintah, menuntut birokrasi dan sistem lama untuk segera beradaptasi dan bertindak cepat.
Redefinisi Total Sektor Pendidikan dan Kesehatan
Transisi ke Ekonomi Kecerdasan akan membuat sistem dan strategi lama menjadi usang, sehingga menuntut adanya redefinisi ulang secara fundamental. Redefinisi ini bertujuan untuk menghasilkan keputusan yang lebih cepat, tepat, dan akurat dalam ekosistem realtime.
Sektor yang dinilai paling mendesak untuk diubah adalah dunia pendidikan. Perlu ada peninjauan total terhadap kurikulum untuk diubah dan ditambah. Selain itu, sektor kesehatan dan semua sektor lainnya juga harus bersiap menghadapi perubahan masif yang akan datang.
Dalam menghadapi era baru ini, isu kedaulatan data dan keamanan data menjadi tantangan krusial. Presiden menyoroti bahaya jika data aktif masyarakat termasuk kebiasaan, hobi, dan pola pergerakan, jangan sampai berpindah ke kekuatan besar di pihak asing.
“Kedaulatan data yang pasif dan paling penting data aktif… Keamanan data menjadi kunci. Tidak mudah tetapi harus dilakukan,” tegasnya.
Jokowi menutup pernyataannya dengan pesan “jika Indonesia masih bertahan dengan lagu lama dan tidak segera mengejar perkembangan teknologi global yang sangat cepat seperti yang ditunjukkan oleh produk seperti Google Gemini dan Meta AI, maka bangsa ini akan tertinggal secara signifikan di panggung persaingan global”.
