JAKARTA – Menteri Pertahanan (Menhan), Sjafrie Sjamsoeddin dalam kunjungan kerjanya, memberikan kuliah umum di Aula Baruga A.P. Pettarani Universitas Hasanuddin (Unhas) hari ini, Selasa (9/12). Dalam pidatonya, Menhan secara khusus memuji peran historis dan strategis Unhas sebagai institusi penting bagi keutuhan bangsa.
Menhan menyebut Unhas sebagai universitas Sejarah, yang telah hadir sejak masa genting pemberontakan Kahar Muzakkar yang sempat mengganggu keamanan di Sulawesi Selatan.
“Kampus ini sudah ada, dan kampus ini selalu dijaga TNI, agar supaya jiwa dan semangat sesepuh, bahwa di Sulawesi Selatan harus ada kawah candradimuka untuk melahirkan para pengabdi intelektual bangsa yang berasal ataupun yang ada di Sulawesi Selatan,” tegas Menhan.
Menhan menekankan bahwa keberadaan Unhas lebih dari sekadar lembaga pendidikan tinggi, tetapi juga merupakan simbol persatuan nasional yang berasal dari Indonesia Timur.
Menurutnya, simbol-simbol yang menyemangati perjuangan nasional sangat diperlukan, dan Unhas adalah salah satu tempat di mana Indonesia memiliki pejuang-pejuang dengan kapasitas yang sangat tinggi.
“Kita harus menjaga Unhas sebagai Universitas yang menjadi simbol persatuan nasional yang berasal dari Indonesia Timur. Sangat-sangat diperlukan simbol-simbol yang menyemangati perjuangan kita,” tambahnya.
Menhan juga memberikan apresiasi terhadap tokoh-tokoh besar yang lahir dari kampus tersebut.
“Alhamdulillah sudah banyak sekali melahirkan pengabdi-pengabdi yang sangat kita banggakan, antara lain Pak Yusuf Kalla,” ujar Menhan.
Ia menambahkan catatan bahwa meski TNI senantiasa menjaga keamanan kampus dari luar pada masa lalu, belum ada prajurit dari Sulawesi Selatan yang menempuh pendidikan di Unhas hingga mencapai posisi tertinggi di TNI hingga saat ini.
Pidato Menhan ini memperkuat bahwa pertahanan negara bukan hanya tanggung jawab militer, tetapi juga melibatkan peran institusi pendidikan dalam mencetak kader-kader intelektual yang berintegritas untuk mengabdi kepada bangsa.
