dapur Pelayanan Satuan Pemenuhan Gizi (SPPG) Bangli Kawan Provinsi Bali
Lingkungan - Pangan

Zero Waste dalam Dapur MBG Mendukung Pengelolaan Lingkungan

Di balik kesibukan harian menyiapkan menu Program Makan Bergizi Gratis (MBG), dapur Pelayanan Satuan Pemenuhan Gizi (SPPG) Bangli Kawan Provinsi Bali, telah menerapkan praktik sederhana namun berdampak besar yakni Ekonomi Sirkular yang berbasis zero waste. Praktik ini tidak hanya memastikan tersedianya makanan bergizi, tetapi juga menjadi model inovatif dalam pengelolaan lingkungan dan sampah.

Dapur yang biasanya membuang sampah, sekarang mengubah sampah itu menjadi sumber daya baru. Inilah esensi dari inovasi di Bangli Kawan, di mana sisa/limbah dipandang sebagai potensi manfaat, bukan hanya sekadar buangan.

Dalam upaya nyata mengurangi beban lingkungan, dapur memisahkan setiap jenis sisa, yaitu minyak jelantah dan sisa makanan.

Pengelola dapur mengumpulkan sisa minyak jelantah dari proses penggorengan. Mereka lalu memproses dan mendaur ulang minyak tersebut agar tidak terbuang ke saluran air. Langkah ini mencegah pencemaran perairan dan mengurangi limbah B3 Bahan Berbahaya dan Beracun rumah tangga.

Pengelola dapur mengalihkan fungsi sisa makanan yang tidak tersaji karena penyumbang terbesar sampah organik menjadi pakan untuk magot atau larva Black Soldier Fly. Proses biokonversi ini secara signifikan mengurangi volume sampah yang harus dikirim ke Tempat Pemrosesan Akhir (TPA).

Inovasi ini mencapai puncaknya pada penciptaan lingkaran manfaat atau closed-loop system. Sistem ini memanfaatkan magot yang tumbuh subur berkat sisa makanan sebagai pakan ternak. Ternak yang dihasilkan dari pakan berkelanjutan bisa kembali diproses masuk ke rantai pasok SPPG dan menopang kebutuhan gizi program MBG.

Model ini secara efektif menciptakan sistem tanpa limbah atau zero waste, di mana sisa dari satu proses dapur menjadi input penting untuk proses lainnya, menjamin keberlanjutan operasional dengan dampak lingkungan minimal.

Kepala Biro Hukum dan Humas Badan Gizi Nasional (BGN), Khairul Hidayati melalui rilisnya memberikan apresiasi tinggi terhadap model ini. Menurutnya, pendekatan tersebut sangat relevan dengan tantangan pangan dan lingkungan saat ini.

“SPPG Bangli Kawan menunjukkan bahwa pengelolaan pangan bergizi dapat berjalan seiring dengan kepedulian lingkungan. Ekonomi sirkular seperti ini memperkuat keberlanjutan program sekaligus memberi nilai tambah bagi masyarakat,” ujar Hidayati.

Lebih dari sekadar aspek teknis, sistem ini juga berfungsi sebagai sarana edukasi lingkungan bagi relawan dan masyarakat sekitar. Keterlibatan langsung dalam proses pengelolaan limbah menumbuhkan kesadaran bahwa sampah organik adalah bagian dari siklus pangan yang harus dipertanggungjawabkan, bukan akhir dari proses.

BGN menilai model inovatif ini mencerminkan semangat Program MBG yang fokus pada proses yang aman, berkelanjutan, dan berdampak luas. Oleh karena itu, BGN menyerukan agar daerah lain mereplikasi praktik pengelolaan sampah berbasis zero waste di Bangli Kawan untuk memperkuat pengelolaan lingkungan di seluruh Indonesia.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *