Wakil Presiden Republik Indonesia, Gibran Rakabuming Raka, menuntaskan rangkaian kunjungan kerja yang padat dan penuh tantangan di Kepulauan Nias, Sumatera Utara, pada hari Minggu (21/12/2025). Dalam satu hari perjalanan, orang nomor dua di Indonesia ini tidak hanya meninjau kesiapan perayaan Natal, tetapi juga turun langsung ke lapangan untuk mengurai benang kusut masalah infrastruktur di wilayah 3T Terdepan, Terluar, Tertinggal.
Kunjungan ini memilih menembus medan ekstrem menggunakan motor trail demi mencapai sekolah di pelosok, dan komitmennya dalam pemerataan energi Listrik dan ucapan selamat natal untuk warga.
Rangkaian kegiatan dimulai saat pesawat yang membawa rombongan Wakil Presiden mendarat di Bandara Binaka, Gunungsitoli. Kedatangan Gibran didampingi langsung oleh Penjabat Gubernur Sumatera Utara. Di landasan pacu, lima kepala daerah yang merepresentasikan seluruh wilayah administratif Kepulauan Nias telah bersiap memberikan sambutan hangat.

Para pemimpin daerah tersebut adalah Bupati Nias Ya’atulö Gulö, Bupati Nias Selatan Hilarius Duha, Bupati Nias Utara Amizaro Waruwu, Bupati Nias Barat Eliyunus Waruwu, dan Wali Kota Gunungsitoli Sowa’a Laoli.
Hal ini menjadi fondasi penting dalam mempercepat pembangunan di Nias, sebuah wilayah kepulauan yang memiliki tantangan geografis tersendiri dibandingkan wilayah lain di Sumatera Utara.
Aksi Tembus Pedalaman Nias Selatan
Agenda Wapres Gibran memutuskan untuk meninjau SMK Negeri 1 Boronadu. Sekolah ini terletak di Desa Sifalago Gomo, Kecamatan Boronadu, Kabupaten Nias Selatan. Lokasi ini dikenal memiliki akses yang cukup sulit dijangkau kendaraan roda empat biasa.
Melihat kondisi infrastruktur jalan yang belum sepenuhnya memadai dan medan yang menanjak, Gibran memilih cara yang tak biasa. Ia menaiki sepeda motor jenis trail, dibonceng menembus jalur pedalaman untuk melihat dengan mata kepala sendiri apa yang dialami warga setiap harinya. Pilihan moda transportasi ini kebutuhan teknis untuk efisiensi waktu dan aksesibilitas.
Sesampainya di SMK Negeri 1 Boronadu, suasana berubah menjadi haru dan penuh emosi. Gibran langsung menggelar dialog terbuka dengan para siswa dan siswi. Dalam percakapan tersebut, terungkap sebuah realitas pahit yang harus ditelan para pelajar demi menuntut ilmu.

Sekolah mereka dipisahkan oleh sungai yang hingga kini belum memiliki jembatan. Akibatnya, setiap hari para siswa harus bertaruh nyawa menyeberangi sungai.
“Jadi ini yang berdiri di depan, ini yang tiap hari melewati sungai ya?” tanya Gibran
“Iya, Pak,” jawab seorang siswi dengan polos.
Gibran kemudian menggali lebih dalam mengenai kesulitan teknis yang mereka hadapi, terutama saat musim penghujan tiba. “Jadi itu basah-basahan, sepatu dilepas dulu? Seragam basah juga ya?” tanya Gibran lagi. Para siswa pun membenarkan hal tersebut.
Lebih memprihatinkan lagi, jika debit air sungai naik atau banjir meluap pasca-hujan deras, aktivitas belajar mengajar terpaksa berhenti total karena risiko keselamatan yang terlalu tinggi. Sungai yang seharusnya menjadi sumber kehidupan, justru menjadi penghalang mimpi anak-anak Boronadu.
Mendengar keluhan langsung dari para siswa, langsung memberikan instruksi tegas kepada jajarannya untuk segera membangun infrastruktur penghubung secepatnya.
“Kita bangun jembatan, biar adik-adik enggak basah-basah lagi,” tegas Gibran.
Ucapan tersebut sontak disambut tepuk tangan riuh dan sorak sorai bahagia dari para siswa, guru, dan warga yang hadir. Rencana pembangunan jembatan gantung ini dinilai sebagai solusi untuk memulihkan akses pendidikan di wilayah tersebut. Jembatan ini nantinya tidak hanya akan melancarkan akses sekolah, tetapi juga diprediksi akan menggerakkan roda perekonomian warga desa yang selama ini terisolasi saat sungai meluap.

Listrik di Kabupaten Nias
Usai memastikan solusi fisik berupa jembatan di Nias Selatan, Gibran melanjutkan perjalanan ke Kabupaten Nias. Kali ini fokus utamanya adalah infrastruktur dasar lainnya yakni energi listrik.
Wapres mengunjungi Desa Hilisebua, Kecamatan Sogae’adu. Di desa ini, ia meninjau pelaksanaan program Bantuan Pasang Baru Listrik (BPBL). Program ini merupakan salah satu instrumen strategis pemerintah pusat untuk mengejar rasio elektrifikasi 100 persen, khususnya di daerah kepulauan.
Dalam keterangannya, Gibran menegaskan bahwa listrik bukan sekadar komoditas, melainkan hak dasar rakyat. “Pemerataan akses listrik bagi masyarakat di wilayah kepulauan merupakan bagian dari komitmen Presiden Prabowo Subianto dalam memenuhi layanan dasar bagi masyarakat,” ujarnya.
Saat menyaksikan proses penyambungan listrik ke rumah-rumah warga penerima manfaat, Gibran memberikan pesan. Ia menginginkan agar listrik yang menyala tidak hanya digunakan untuk penerangan semata, tetapi juga sebagai sarana produktif, terutama bagi pendidikan anak-anak.
Wapres menyempatkan diri berdialog dengan keluarga penerima bantuan. Ia menitipkan pesan khusus kepada anak-anak di desa tersebut.
“Ini saya mohon karena listriknya sudah tersambung, nanti adik-adik kalau malam tolong dengan listrik yang sudah ada, belajar yang rajin, ya. Bapak, ibu, juga bisa melakukan aktivitas di malam hari,” pesan Gibran.
Tanpa listrik, anak-anak di pedesaan akan tertinggal dalam hal waktu belajar dibandingkan anak-anak di kota. Oleh karena itu, kehadiran Gibran di Desa Hilisebua adalah untuk memastikan kebijakan tersebut tidak hanya berhenti di atas kertas, tetapi benar-benar dirasakan manfaatnya di ruang-ruang tamu dan ruang belajar rakyat kecil.
Pesan Damai Natal
Setelah berjibaku dengan urusan infrastruktur fisik dari pagi hingga sore, Gibran menutup rangkaian kunjungan kerjanya. Pada sore harinya, ia bertolak ke Kota Gunungsitoli untuk mengunjungi Gereja Banua Niha Keriso Protestan (BNKP) Jemaat Petrus Ombulata.
Kunjungan ini untuk mendukung perayaan Natal 2025 dan Tahun Baru 2026. Pemerintah ingin memastikan bahwa setiap warga negara dapat menjalankan ibadahnya dengan aman, nyaman, dan penuh khidmat.
Di hadapan para jemaat, Gibran menyampaikan salam hangat dari Presiden Prabowo Subianto. Ia menekankan pentingnya menjaga persatuan dan kesatuan bangsa di tengah keberagaman.
“Selamat Natal, semoga damai Natal menyertai kita semua, membawa berkah untuk bapak, ibu semua. Semoga bapak, ibu semua sehat selalu, panjang umur,” ucap Gibran.
Wapres juga mengapresiasi keramahtamahan masyarakat Nias yang telah menyambutnya dengan tangan terbuka sepanjang hari. “Saya sangat berterima kasih sekali sudah diberikan waktu untuk menyapa bapak, ibu semua, sudah diberikan waktu untuk mampir ke gereja ini,” tambahnya.
Kunjungan kerja satu hari di Kepulauan Nias ini merangkum prioritas kerja pemerintahan Prabowo-Gibran. Mulai dari pembangunan konektivitas berupa jembatan, pemenuhan kebutuhan dasar berupa listrik, hingga pemeliharaan kerukunan sosial dengan kunjungan ke gereja.
Pemerintah menyadari bahwa tantangan di wilayah kepulauan seperti Nias sangatlah kompleks. Namun, dengan turun langsung ke lapangan, melihat kondisi riil, dan berdialog dengan warga, diharapkan solusi yang dihadirkan akan lebih tepat sasaran. Pembangunan jembatan gantung di Boronadu dan Listrik di Hilisebua hanyalah langkah awal dari upaya panjang pemerintah untuk menghapus ketimpangan antarwilayah di Indonesia.
Melalui kunjungan ini, negara hadir untuk melayani, melindungi, dan memajukan kesejahteraan umum, tanpa terkecuali, bahkan hingga ke pelosok desa yang harus ditempuh dengan motor trail sekalipun.
