Katedral Jakarta
Seni Budaya

Dari Istiqlal Menuju Katedral

Sebuah kontradiksi tersaji di Jakarta Pusat, memarkir motor di masjid istiqlal untuk mencari katedral. Di balik kemegahan menara besi yang menjulang dan sakralnya pintu suci atau Porta Sancta, Katedral Jakarta menyimpan teguran keras bagi jiwa melalui rupa Yesus yang terbaring lapar dan haus. Perjalanan ini membuktikan bahwa sejarah panjang sebuah bangunan cagar budaya hanya akan hidup jika kita mampu melihat wajah Tuhan pada diri mereka yang terpinggirkan.

Siang itu, di bawah langit Jakarta Pusat, perjalanan kami bermula dari sebuah kontradiksi. Kami memarkir sepeda motor di pelataran Masjid Istiqlal, namun tujuan utama kami berada tepat di seberangnya di Gereja Katedral Jakarta.

Mesjid Istiqlal Jakarta
Mesjid Istiqlal Jakarta. Foto Tim Aequitas

Alih-alih menyeberangi jalan raya yang ramai, seorang petugas dengan ramah mengarahkan kami menuju Terowongan Silaturahmi. Berjalan di lorong bawah tanah ini terasa seperti melintasi lorong waktu yang sejuk. Di dindingnya, desain arsitektur berupa dua tangan yang saling merangkul menjadi pengingat visual yang kuat di kota ini. Perbedaan tidak memisahkan, melainkan mempererat. Terowongan ini bukan sekadar beton, melainkan media toleransi hidup antara umat Islam dan Kristen.

terowongan silaturahim jakarta antara istiqlal dengan katedral
Terowongan Silaturahmi antara Mesjid Istiqlal dengan Gereja Katedral Jakarta. Foto Tim Aequitas

Begitu melangkah keluar dari terowongan dan memasuki pelataran gereja, kami langsung disambut oleh kemegahan arsitektur Neo-Gotik. Tiga menara besi yang menjulang tinggi seolah mencoba menyentuh langit, memberikan kesan agung bagi siapa pun yang memandangnya. Perhatian kami tertuju pada kerumitan Jendela Mawar dan lengkungan-lengkungan lancip yang khas, membawa nuansa Eropa abad pertengahan tepat ke jantung kota Jakarta.

Bangunan Katedral Jakarta. Foto Tim Aequitas

Gereja yang berlokasi di Jl. Katedral No. 7B, Pasar Baru ini merupakan gereja induk atau pusat dari sebuah Keuskupan. Di dalamnya terdapat sebuah Cathedra takhta atau kursi simbolis Uskup yang menjadikannya pusat kegiatan liturgi serta administrasi keagamaan bagi umat Katolik di wilayah Keuskupan Agung Jakarta.

Menelusuri sejarahnya, Katedral Jakarta adalah simbol perjalanan panjangnya dimulai pada tahun 1808, saat izin resmi pendirian gereja diberikan oleh Gubernur Jenderal Daendels. Namun, bangunan gereja pertama yang berlokasi di kawasan Senen mengalami kebakaran pada 27 Juli 1826.

Pasca-kebakaran, umat Katolik memperoleh izin untuk menggunakan lahan bekas kediaman dinas pejabat tinggi Belanda. Di atas tanah seluas 34 x 15 meter inilah, Gereja Katedral Jakarta berdiri kokoh hingga sekarang. Ujian kembali datang pada tahun 1890 ketika bangunan lama tersebut runtuh.

Peristiwa runtuhnya gedung lama justru menjadi cikal bakal lahirnya gedung megah yang kita lihat sekarang. Proses pembangunan memakan waktu satu dekade, yakni dari tahun 1891 hingga 1901. Mahakarya ini dirancang oleh arsitek Antonius Dijkmans, SJ, dan pembangunannya diselesaikan oleh arsitek Marius J. Hulswit.

Karena memiliki arsitektur unik dan nilai sejarah tinggi, Pemerintah menetapkan Gereja Katedral Jakarta sebagai Bangunan Cagar Budaya pada tahun 1993. Hingga kini, negara terus melindungi gedung ikonik ini sebagai warisan bangsa

Bangunan Katedral Jakarta. Foto Tim Aequitas

Setelah melewati pemeriksaan ketat di pintu masuk, langkah kami terhenti di Taman Pancasila. Namun, sebuah pemandangan mengejutkan mencuri perhatian, sebuah Patung Yesus yang sedang terbaring.

Di dekat patung tersebut, terpahat pesan dari Matius 25:31-46: “Apa yang kamu lakukan ketika Aku sakit, tunawisma lapar, haus, tidak punya pakaian…” Patung ini seolah menampar. Ia bertanya tanpa suara, Mengapa kamu menyembahKu dalam rupa estetika, namun mengabaikanKu saat Aku hadir dalam wujud tunawisma di pinggir jalan.

Foto Yesus Terbaring Sakit di Katedral Jakarta
Yesus Terbaring Sakit di Kawasan Katedral Jakarta. Foto tim Aequitas

Berjalan lebih jauh, kami menemukan jejak Camino de Santiago dengan tulisan “The Way Begins: The Jacobean route, Somport to Pamplona”. Meskipun rute aslinya berada ribuan kilometer di Spanyol, kehadirannya di sini memancing rasa ingin tahu untuk berkunjung kesana.

Momen puncak tiba saat kami melangkah masuk melalui Porta Sancta atau Pintu Suci. Di Tahun Yobel 2025 ini, pintu yang biasanya tertutup ini dibuka lebar. Melaluinya terasa seperti masuk ke dalam dekapan kasih. Katedral Jakarta memberikan kesempatan bagi umat untuk merasakan pintu keselamatan, pertobatan, dan rahmat Allah, di mana umat yang melewatinya dengan sikap saleh dapat memperoleh pengampunan dosa.

Porta Sancta atau Pintu Suci di Katedral Jakarta
Porta Sancta atau Pintu Suci di Katedral Jakarta. Foto Tim Aequitas

Di dalam keheningan interior katedral, kami menemukan sudut favorit, sebuah Patung Santo Yosef Tidur. Tokoh suci yang sangat dihormati Gereja, suami Maria dan bapa piara Yesus

Sambil berhenti sejenak, kami membayangkan Yosef yang memimpikan segala kekhawatiran kami. Sosok pelindung ini terus bekerja dalam keheningan demi menjaga keselamatan Keluarga Kudus

Patung Santo Yosef Tidur
Patung Santo Yosef sedang Tidur di dalam Katedral. Foto Tim Aequitas

Kunjungan ke Katedral hari ini bukan sekadar wisata arsitektur. Dari Terowongan Silaturahmi hingga Pintu Suci, kami pulang dengan satu keyakinan bahwa iman sejati selalu berjalan beriringan dengan kasih kepada sesama yang paling menderita.