Replika Perahu Boti di Buton
Seni Budaya

Filosofi Perahu Boti dan Kapita Lau Buton

Dalam kelanjutan jelajah budaya maritim di Sulawesi Tenggara, Tim Aequitas menggali kisah orang lokal untuk mengungkap bagaimana alam membentuk identitas orang Buton sebagai pelaut ulung, baik melalui filosofi perahu maupun ketangguhan sistem pertahanan maritim.

Identitas maritim Buton lahir dari keterpaksaan geografis yang menempa mentalitas penduduknya. Saharuddin atau biasa dipanggil Udin, seorang aktivis lingkungan dan masyarakat adat di Kota Bau-Bau, menjelaskan bahwa masyarakat di wilayah Sampolawa, Tira, dan Bahari adalah representasi nyata dari budaya maritim Buton.

“Di mana kita tinggal, menentukan kita mau jadi apa,” ujar Saharuddin saat ditemui di sebuah kafe di bawah benteng Keraton Buton.

Wilayah Buton Selatan didominasi oleh batuan karts dan tebing-tebing gersang yang tidak memungkinkan untuk pertanian skala besar. Kondisi ini memaksa masyarakat untuk memutar pandangan ke arah laut. Bagai pepatah, di belakang karang, di depan ombak, laut menjadi satu-satunya ruang bagi mereka untuk menyambung hidup.

Keterbatasan lahan di darat justru menjadi berkah. Hal ini melahirkan para navigator ulung yang tidak hanya mampu membaca rasi bintang, tetapi juga memahami anatomi laut di Indonesia timur.

Filosofi Perahu Boti

Miniatur Perahu Boti dijadikan sebagai obyek wisata di Desa Bahari, Kabupaten Buton Selatan. Foto Tim Aequitas

Salah satu poin dari sejarah maritim Buton adalah keberadaan perahu boti. Saharuddin menyoroti perbedaan mendasar antara Boti kebanggaan Buton dengan Phinisi asal Makassar. Jika Phinisi sering kali dikaitkan dengan kegagahan layar dan ukuran besar, Boti memiliki landasan filosofi yang lebih dekat dengan alam pesisir yakni buah kelapa dilihat dari segi bentuknya.

“Perahu Boti itu ibarat buah kelapa yang terapung di laut. Coba perhatikan buah kelapa, bentuknya yang bulat membuatnya tetap stabil meskipun dihantam gelombang. Ia hanya akan terombang-ambing secara dinamis, bahkan di ganasnya perairan Laut Banda sekalipun,” jelas Saharuddin.

Sebaliknya, ia menganalogikan Phinisi seperti pelepah kelapa. Meskipun kuat, ia memiliki sifat yang berbeda dalam memecah ombak. Pengamatan terhadap fenomena alam ini, membuktikan bahwa leluhur Buton sudah menjadi ahli maritim sejak dahulu. Mereka menciptakan teknologi transportasi laut yang tidak hanya fungsional, tetapi juga memiliki ketahanan terhadap karakteristik laut timur Indonesia yang dalam dan berarus kuat.

Replika Perahu Boti yang dianggap Tertua di Pulau Buton berada di Desa Wasuemba, Kabupaten Buton. Foto Tim Aequitas

Struktur Pertahanan Martabat Tujuh

Beralih ke pusat kekuasaan Kerajaan Buton, sejarah maritim Buton semakin diperkuat dengan sistem ketatanegaraan yang dikenal sebagai Martabat Tujuh. Laula (71), seorang Penjaga Mesjid Keraton Buton, memaparkan sistem pertahanan laut kesultanan Buton.

Dalam struktur Kesultanan Buton, laut tidak dibiarkan tanpa pengawasan. Kesultanan membagi komando lautnya menjadi dua jabatan krusial yakni kapita lau barat yang bertugas mengawasi wilayah perairan dari Selat Buton hingga jalur menuju Makassar. Wilayah ini adalah gerbang perdagangan menuju barat Nusantara. Kedua, Kapita Lau Timur yang bertugas menjaga jalur menuju Laut Banda hingga Kepulauan Maluku. Wilayah ini merupakan jalur emas rempah-rempah yang menjadi rebutan bangsa Eropa.

“Kekuasaan kita melampaui batas pulau ini. Pengaruh Buton sampai ke Selayar, Bungku, Marowali, hingga Pulau Buru. Bahkan di NTT, bahkan ada gelar Sangaji yang merupakan pengaruh dari Sultan Buton ketiga,” ungkap Laula.

Pembagian ini menunjukkan bahwa Buton telah memiliki konsep kedaulatan wilayah laut yang modern jauh sebelum konsep negara-bangsa dikenal luas.

Ketangguhan maritim Buton juga teruji dalam diplomasi politik. Laula menceritakan hubungan emosional yang erat antara Kesultanan Buton dan Kerajaan Bone, khususnya terkait perlindungan terhadap Arung Palakka.

Pintu awal kedatangan Arung Palakka, Raja Bone di Kesultanan Buton.
Foto Tim Aequitas

Bagi masyarakat Buton, tanah dan laut mereka adalah suaka bagi siapa saja yang datang dengan itikad baik. Namun, bagi mereka yang datang dengan niat jahat, laut Buton akan berubah menjadi kuburan massal. Penjaga Mesjid Keraton ini merujuk pada kekalahan pasukan luar seperti pasukan dari Makassar di masa perang masa lalu yang mencoba menyerang Buton.

“Siapa saja yang niat jahat di sini, masih di tengah laut sudah hancur lebih dahulu,” tegasnya. Jejak kekalahan musuh-musuh Buton ini masih bisa ditemukan dalam ingatan kolektif masyarakat, seperti lokasi yang diyakini sebagai tempat penguburan massal pasukan lawan di Pulau Makassar, yang berada di dekat Kota Bau-Bau.

Sejarah maritim Buton tidak hanya tentang kayu, layar, dan meriam. Ada dimensi spiritual yang kental di dalamnya. Laula menyebutkan bahwa kemenangan-kemenangan laut Buton sering kali dibantu oleh Ilmu Maritim yang bersifat metafisika.

Ada legenda yang menceritakan bagaimana Perahu Boti digunakan untuk melaut hingga ke Ternate dengan kecepatan yang tidak masuk akal. Bahkan, berkembang cerita tutur mengenai tokoh ulama Buton yang menjadi imam di Masjidil Haram, Mekkah.

Cerita-cerita ini, meskipun bersifat legendaris, mencerminkan keyakinan masyarakat Buton bahwa penguasaan atas laut harus dibarengi dengan kedekatan kepada Sang Pencipta. Mesjid Keraton Buton menjadi saksi bisu di mana doa-doa keselamatan para pelaut dipanjatkan sebelum mereka mengarungi samudra menuju Maluku dan tanah suci.

Gua Arung Palakka bersama pengikutnya di Buton.
Foto Tim Aequitas

Hingga detik ini, jiwa pelaut orang buton tidak pernah padam. Orang Buton dikenal sebagai perantau tangguh yang bisa ditemukan di pelosok Indonesia Timur, mulai dari pesisir Maluku, Maluku Utara, hingga Papua. Mereka membawa serta identitas sebagai pelaut yang mandiri dan ulet.

Jejak maritim Buton merupakan sebuah perpaduan antara tradisi pembuatan perahu Boti, ketegasan sistem tata negara dalam Martabat Tujuh, dan kedalaman spiritualitas. Dari tebing-tebing karts Sampolawa hingga luasnya Laut Banda, Orang Buton telah membuktikan diri bahwa mereka salah satu pelaut ulung di Indonesia Timur.