Lukisan Perahu di Liang Kabori Muna
Seni Budaya

Galeri Seni Liang Kabori Bercerita Akar Budaya Maritim Sulawesi Tenggara

Di sebuah warung kopi di pusat Kota Raha, sejarah tidak datang dari buku teks yang kaku. Ia datang dari kepulan asap rokok Surya dan aroma kafein di atas meja kayu. Di sana duduk Ajuk Wagembo, pria 37 tahun yang lebih mirip seorang aktivis jalanan ketimbang seorang pegawai di bawah Kementerian Kebudayaan. Namun, di tangannya, kunci-kunci gerbang masa lalu Pulau Muna digenggam erat.

Ajuk bukan sekadar penjaga warisan budaya. Ia adalah Sarjana Arkeologi Universitas Hasanuddin yang memilih pulang ke tanah leluhur dengan sebuah alasan yang sangat personal, menjaga ibunya yang menua dan menjaga warisan peradaban yang mulai terlupa.

Sambil menyesap kopi pahitnya, Ajuk bercerita tentang kehidupannya. Ia adalah sosok yang sulit didikte, seorang idealis yang melahap pemikiran Marxisme dan narasi-narasi sejarah.

“Saya sedang membangun rumah sendiri,” ujarnya tenang. Di antara tugasnya sebagai pimpinan juru situs di Kabupaten Muna, Ajuk tak sungkan mengotori tangannya menjadi tukang batu di rumahnya sendiri. Selang-seling antara menyusun batu bata rumah dan menjaga batu-batu karst yang menyimpan rahasia ribuan tahun.

Baginya, Pulau Muna adalah sebuah identitas yang berdiri sendiri di Sulawesi Tenggara. Menurut Ajuk, Sejarah maritim kawasan ini bukanlah cerita tentang tentang perang, melainkan tentang jejak-jejak perahu di dinding gua yang membuktikan bahwa Muna adalah titik awal budaya maritim  di Sulawesi Tenggara.

Setelah dua jam membedah sejarah Maritim Pulau Muna secara sporadis, hasil dari perpaduan bacaan akademik dan wawancara dengan tetua kampung serta hasil diskusi dengan peneliti dalam negeri dan luar negeri yang pernah berkunjung di Muna. Ajuk kemudian memutuskan untuk mengakhiri cerita dan mengajak kami melihat realitas lapangan.

“Ayo, ikut di belakang,” ajaknya singkat.

Ia menaiki motor honda hitamnya. Tanpa helm, hanya sebuah topi yang menjadi ciri khas penutup kepalanya, ia membelah jalanan Muna. Kami mengekor di belakang, menuju bukit karst Liang Kabori di Desa Liang Kabori, Kecamatan Lohia, Kabupaten Muna.

Sebelum benar-benar menyentuh inti sejarah di Liang Kabori, Ajuk menghentikan motornya di sebuah gundukan karst. Ia mengajak kami mendaki ke sebuah kuburan tua seorang tokoh lokal.

“Begini dulu orang di sini dikubur. Nisannya menggunakan karst,” kata Ajuk sambil menunjuk bongkahan batu kapur yang telah menyatu dengan tanah.

Di mata Ajuk, gua karst bukan hanya tempat tinggal zaman dahulu, melainkan sekaligus rumah terakhir warga lokal. Tradisi ini belum mati hingga hari ini. Masyarakat sekitar Kawasan Karts Muna masih menggunakan karst sebagai penanda nisan, memanfaatkan kekayaan alam yang melimpah di tanah mereka.

Kami kemudian melanjutkan perjalanan. Sisa jarak sekitar satu kilometer menuju situs utama. Aspal di jalanan mulai tampak seperti narasi sejarah yang diceritakan Ajuk di warung kopi sebelumnya, sepotong-sepotong dan penuh lubang.

Rumah penduduk telah hilang dari pandangan, digantikan oleh barisan pepohonan meranggas dan hamparan alang-alang yang tumbuh tangguh di sela-sela bebatuan tajam.

Di gerbang objek wisata, sebuah papan informasi menyambut kami dengan kondisi memprihatinkan. Catnya memudar dimakan cuaca, membuat tulisan di atasnya nyaris tak terbaca. Namun, rasa ingin tahu memaksa kami berhenti. Di sana tertulis 28 jumlah total gua dan ceruk yang terdata di kawasan ini.

Ajuk kemudian menimpali dengan nada koreksi. “Itu data lama. Hasil penelitian terbaru mahasiswa S2 UGM sudah mengidentifikasi 34 lokasi yang memiliki nilai sejarah,” tegasnya.

Papan penunjuk arah gua
Papan petunjuk arah gua di Liang Kabori, Kabupaten Muna. Foto Tim Aequitas

Etika Masuk Gua

Kami tiba di depan Gua Metanduno, salah satu titik penting di gugusan ini. Namun, Ajuk tak serta-merta melangkah masuk. Ia berhenti, mengeluarkan rokok Surya, dan menyulutnya di bawah naungan pohon.

“Isap rokok sebatang dulu di sini sebelum masuk. Tidak boleh merokok di dalam gua,” ajaknya.

Larangan itu bukan sekadar aturan tertulis di atas kertas, melainkan bentuk penghormatan terhadap ekosistem gua. Asap rokok dan sampah bukan hanya mengotori ruang fisik, tetapi bisa merusak pigmen oker purba yang telah bertahan ribuan tahun.

Ajuk menegaskan dengan nada bicaranya yang idealis bahwa siapa pun yang masuk ke dalam gua atau ceruk disini harus datang dengan tangan bersih. Tak boleh ada puntung rokok, tak boleh ada sampah plastik ditinggalkan. Di dalam sana hanya ada ruang untuk menikmati karya seni manusia prasejarah.

Ajuk Wagembo, Penjaga Situs Liang Kabori, Kabupaten Muna
Ajuk Wagembo sedang memotret diluar gua dengan menghisap sebatang rokok surya.
Foto Tim Aequitas

Gua Adalah Apartemen Manusia Purba

Sambil mengembuskan asap rokok Surya yang membubung ke langit Lohia, kami tertegun menatap mulut-mulut gua yang menganga di kejauhan. Sebuah pertanyaan liar muncul, mengapa manusia zaman dahulu tidak membangun sesuatu yang mirip apartemen atau setidaknya rumah kayu yang nyaman ya ?.

Ajuk yang sedang duduk santai di atas bongkahan batu kapur, tersenyum tipis. Ia memandang gua-gua itu bukan sebagai lubang gelap yang primitif, melainkan sebagai arsitektur jenius yang pernah disediakan alam.

“Gua-gua ini letaknya strategis, berada di ketinggian 50 hingga 100 meter di atas permukaan laut,” ujar Ajuk sambil menunjuk ke arah barisan bukit karst. Baginya, gua adalah rumah pertama dalam sejarah peradaban.

Menurut Ajuk, alasan pertama, manusia purba memilih gua adalah karena keberadaan sumber daya yang vital adalah air bersih. Di dalam gua air justru melimpah melalui stalagtit dan stalagmit.

“Penelitian membuktikan gua adalah tempat tinggal paling sejuk. Stalagtit dan stalagmit itu bukan sekadar hiasan batu, mereka adalah filter alami yang meneteskan mata air untuk dikomsumsi orang-orang dahulu,” jelasnya dengan nada serius.

Ia menggambarkan bagaimana manusia purba memanfaatkan ceruk atau bongkahan batu di dalam gua sebagai bak penampungan air bersih yang dingin dan jernih, yang terus terisi meski musim kemarau menyengat di luar sana.

Stalagmit dan Stalagtit sebagai sumber air bersih manusia purba zaman dahulu.
Foto Tim Aequitas

Alasan kedua karena gua merupakan benteng yang susah ditembus binatang buas. Ajuk menjelaskan bahwa dengan hanya memiliki satu mulut masuk yang sempit, manusia prasejarah mendapatkan keamanan dari serangan binatang buas.

“Mudah bagi mereka mendeteksi kalau ada binatang buas yang mau mengganggu. Mereka cukup berjaga di depan pintu, dan seluruh keluarga yang ada di dalam terlindungi,” tambahnya.

Sebuah sistem keamanan tunggal yang jauh lebih efektif daripada membangun rumah kayu di tengah hutan yang terbuka dari segala sisi.

Terakhir, Ajuk menyinggung soal perubahan cuaca. Di saat dunia luar dilanda badai besar atau panas matahari, gua tetap tenang dalam suhunya yang stabil.

“Iklim di dalam gua itu unik. Ketika panas atau hujan terjadi, gua menciptakan sirkulasi udara yang normal. Itu semacam AC alami yang membuat manusia purba tetap bisa bernapas lega dan beristirahat dengan layak,” jelas Ajuk.

Baginya, pilihan manusia purba tinggal di gua bukanlah karena mereka tidak mampu membangun rumah, melainkan karena mereka tahu persis bagaimana cara beradaptasi dengan alam tanpa merusaknya. Sesaat setelah puntung rokok dimatikan, Ajuk berdiri dan mengajak kami melangkah masuk ke dalam gua.

“Sudah, ayo masuk. Sekarang lihat sendiri bagaimana apartemen manusia purba ini bekerja dan bagaimana mereka menciptakan karya seni yang bertahan hingga ribuan tahun” ajaknya sambil melangkah menuju kegelapan Gua Metanduno.

Begitu kami melangkah melewati ambang mulut gua, cahaya senter menyentuh dinding batu, dan tiba-tiba saja ribuan tahun sejarah di depan mata.

“Siapa yang pertama kali menemukan gua di tengah hutan Muna, Ajuk ?” tanya kami, masih tertegun menatap karya seni manusia purba.

Ajuk tidak langsung menjawab. Ia mengarahkan senternya ke sebuah sudut, memastikan setiap detail lukisan tidak ada yang terkelupas. Sambil berdiri tegak di tengah ruang batu yang lembap, ia mulai merajut kronologi perjalanan ilmu pengetahuan yang panjang di tanah kelahirannya.

“Gua ini tidak ditemukan oleh orang asing seperti dalam film Indiana Jones,” buka Ajuk dengan nada khasnya.

“Awal mulanya masyarakat sekitarlah yang menemukannya. Mereka sudah lama tahu ada karya seni di sini, tapi belum tahu betapa berharganya bagi dunia ilmu pengetahuan.”

Kesadaran itu baru memuncak ketika laporan dari warga sampai ke telinga Pusat Penelitian Arkeologi Nasional (Puslit) di Jakarta. Itulah awal mula gerbang ilmu pengetahuan dibuka lebar-lebar untuk Pulau Muna.

Ajuk menceritakan bahwa pada tahun 1977, seorang peneliti  bernama Kosasih datang ke tempat ini. Bayangkan betapa sunyinya Lohia saat itu. Kosasih masuk ke ceruk-ceruk ini dengan peralatan seadanya, mulai mencatat, memotret, dan mengklasifikasikan karya seni ini.

“Eksplorasi itu tidak sebentar. Kosasih dan tim Puslit bolak-balik ke sini sampai tahun 1986,” lanjut Ajuk.

Selama hampir satu dekade, Muna menjadi pusat perhatian arkeologi nasional. Mereka mencoba memecahkan teka-teki, siapa pelukisnya dan apa makna dari karya seni ini .

Narasi penelitian ini kemudian memasuki babak baru pada awal 1990-an. Ajuk sebagai alumnus Universitas Hasanuddin (Unhas), tampak bangga saat menceritakan bagian ini. Setelah fondasi diletakkan oleh peneliti pusat, para akademisi dari Unhas mulai mengambil alih tongkat estafet. Penelitian menjadi lebih intensif dan bernuansa lokal. “Setelah lahir peneliti-peneliti dari Makassar, eksplorasi tidak pernah benar-benar berhenti,” ungkapnya.

Namun dalam lima tahun terakhir, gelombang peneliti baru kembali membanjiri Muna. “Terakhir, teman-teman dari Universitas Gadjah Mada (UGM) dan Universitas Indonesia (UI) yang paling sering datang. Mereka membawa teknologi baru, pemikiran baru, bahkan data-data lokasi baru yang belum pernah terjamah sebelumnya,” terang Ajuk.

Mendengar penjelasan Ajuk, kami menyadari bahwa Liang Kabori adalah sebuah buku besar yang halamannya baru terbuka setengah. Setiap generasi peneliti datang untuk membaca satu paragraf baru, demi memahami tujuan nenek moyang kita begitu terobsesi pada laut dan kegelapan gua.

Tim Aequitas memotret berbagai jenis karya seni di dinding liang kabori.
Foto Tim Aequitas

Galeri Seni Ribuan Tahun

Senter di tangan Ajuk berhenti pada sebuah panel besar di dinding gua. Sorot lampunya yang kuning pucat membuat relief dinding karst tampak lebih bertekstur. Di sana, seolah-olah sebuah galeri raksasa sedang dipamerkan.

“Kawasan Liang Kabori ini bukan sekadar gua,” suara Ajuk bergema, memantul di antara langit-langit batu.

“Ada sekitar 800 karya seni manusia purba yang tersebar di sini. Warnanya pun beragam, hitam, cokelat, hingga merah yang paling dominan.” Kata Ajuk.

Kami bertanya-tanya, bagaimana mungkin warna-warna ini tetap hidup setelah ribuan tahun terkubur dalam kelembapan gua yang ekstrem. Ajuk dengan pengetahuannya menjelaskan rahasia manusia purba.

“Menurut peneliti-peneliti yang sering kudampingi, mereka tidak menggunakan tinta sembarangan,” jelas Ajuk. Ia menyebutkan tiga bahan utama yakni Oker ochre, darah hewan, dan getah pohon.

“Darah hewan dan getah pohon itu fungsinya seperti lem alami,” tambahnya. Manusia purba mencampurkan bubuk mineral oker dengan cairan organik tersebut. Darah memberikan protein pengikat, sementara getah memberikan kelenturan dan daya rekat. Campuran inilah yang menjadi tinta abadi bagi para seniman prasejarah Muna.

Ajuk kemudian membagikan temuan paling mutakhir. Ternyata, misteri umur lukisan ini mulai terkuak lewat teknologi dating atau penanggalan terbaru.

“Penelitian terbaru dari Universitas Indonesia yang menggunakan metode penanggalan pada bahan lukisan memperkirakan karya-karya ini berumur antara 5.000 hingga 3.000 tahun yang lalu,” terang Ajuk. Nenek moyang Pulau Muna sudah sibuk mendokumentasikan kejayaan maritim mereka di dinding karts ribuan tahun yang lalu.

Pertanyaan paling mengganjal adalah soal ketahanannya. Di dunia luar, cat rumah paling mahal sekalipun akan memudar dalam sepuluh tahun. Namun di sini, cat purba ini menolak menyerah.

“Kenapa bisa tahan ribuan tahun dan tidak terkelupas?” kami bertanya dengan nada heran.

Ajuk tersenyum, seolah sudah menduga pertanyaan itu. “Bahan-bahan organik tadi nampaknya mengalami reaksi kimia. Mereka merekat dengan karst, menyatu dengan pori-pori batu kapur. Cat itu bukan lagi berada di atas batu, tapi sudah menjadi bagian dari batu itu sendiri,” jelasnya.

Ia menggambarkan proses ini seperti tato. Kalsit yang tumbuh perlahan di permukaan dinding gua justru berfungsi sebagai lapisan pelindung transparan, mengunci pigmen oker di dalamnya, melindunginya dari udara dan waktu.

Di bawah pengawalan Ajuk, kami menyadari bahwa Liang Kabori adalah melahirkan seniman yang hebat, yang mampu mewariskan karya selama puluhan ribuan tahun secara alami. Sebuah teknik menciptakan pesan agar terbaca oleh kita, ribuan tahun kemudian.

Sorot senter Ajuk tidak lagi bergerak liar. Ia tertuju pada satu titik yang menurutnya adalah petunjuk identitas manusia Sulawesi Tenggara. Di dinding Gua Metanduno dan Liang Kabori, narasi maritim itu tidak ditulis dengan tinta, melainkan dengan oker cokelat.

Gambar perahu diisi beberapa orang di Liang Kabori, Muna.
Foto Tim Aequitas

“Tradisi maritim kita bukan baru kemarin sore,” bisik Ajuk. Suaranya berat, bergema di antara rongga batu. “Lihat ini. Inilah alasan mengapa saya berani bilang bahwa Muna adalah Sejarah awal pelaut di Sulawesi Tenggara”.

Satu per satu, Ajuk menunjukkan koleksi lukisan perahu di dinding karst. Karya pertama sebuah perahu dayung berawak delapan orang, Sebuah guratan merah yang menggambarkan kerja kolektif. Delapan sosok manusia tampak serentak menghujamkan dayung, sebuah bukti adanya koordinasi dan kepemimpinan dalam pelayaran prasejarah.

Karya kedua, sebuah perahu cokelat panjang dengan sepuluh awak. Bentuknya yang ramping dan gagah mengingatkan kami pada perahu kora-kora yang legendaris. Ini adalah bukti bahwa konsep kapal cepat sudah ada sejak lima milenium lalu.

Karya ketiga, Sebuah karya seni yang paling mencolok adalah perahu dengan satu tiang dan layar yang terkembang. Inilah lompatan teknologi; manusia purba Sulawesi Tenggara sudah tahu cara menangkap angin.

Gambar perahu dengan menggunakan layar di Liang Kabori Muna.
Foto tim aequitas

Di sudut lain, nampak perahu-perahu dayung yang lebih kecil, menunjukkan aktivitas harian yang tak putus di perairan sekitar Muna.

Terakhir, Satu lukisan menunjukkan satu perahu, satu orang, dan satu dayung. Sebuah simbol keberanian individu menghadapi luasnya lautan.

Selama ini, jika bicara tentang pelaut ulung di Sulawesi Tenggara, ingatan kita selalu tertuju pada orang yang penjelajahannya menyentuh Papua, NTT, hingga Maluku. Namun, Ajuk melempar sebuah pertanyaan besar yang mengguncang teori lama.

“Apakah identitas pelaut Buton dan Wakatobi itu akarnya ada di sini? Apakah mereka adalah keturunan dari para pelukis purba di Muna ini? Entahlah,” Kata Ajuk, membiarkan pertanyaan itu menggantung di udara gua.

Baginya, sebelum ada penelitian di daerah lain yang bisa membuktikan adanya jejak yang lebih tua, maka Muna tetaplah pemegang mandat sejarah maritim tertua. Identitas Manusia Laut Sulawesi Tenggara lahir dari ceruk-ceruk dan gua Lohia.

Identitas yang selama ini hilang dari buku-buku sekolah. Kita sering menganggap sejarah kita dimulai saat kolonial datang, atau saat kerajaan-kerajaan besar berdiri. Padahal, ribuan tahun sebelumnya, seniman purba Muna sudah berkarya lewat dinding gua untuk memberi pesan bahwa mereka bangsa penakluk ombak.

Liang Kabori bukan sekadar tempat perlindungan dari hujan dan sinar matahari serta serangan binatang buas. Liang Kabori adalah pusat peradaban di mana strategi melaut disusun dan kemenangan di laut dirayakan dalam bentuk karya seni lukis.

Perjalanan kami berakhir pada sebuah kesimpulan besar bahwa identitas Sulawesi Tenggara sebagai bangsa pelaut tidak dimulai dari kayu jati muna, melainkan dari karya seni di apartemen manusia purba Pulau Muna.