Konser Jhon Tobing
Seni Budaya

Selamat Jalan John Tobing, Pencipta Lagu Darah Juang

Kabar duka menyelimuti dunia dunia gerakan sosial di Indonesia. John Tobing, aktivis legendaris sekaligus pencipta lagu himne pergerakan Darah Juang, mengembuskan napas terakhir , sekitar pukul 20.45 WIB di Yogyakarta. Kepergian sosok yang dikenal sebagai seniman aktivis ini meninggalkan duka mendalam bagi rekan seperjuangannya, termasuk Nezar Patria.

Dalam catatan kenangannya, Nezar Patria menggambarkan John Tobing sebagai sosok yang tak pernah tua. Di awal 1990-an, John adalah pemandangan ikonik di bulevar Universitas Gadjah Mada (UGM). Dengan rambut ikal panjang yang berkibar dan gitar yang diselempangkan di punggung, ia berdiri menantang teriknya siang dan kerasnya rezim Orde Baru melalui megafon.

“Dia adalah kakak angkatan yang beda empat tingkat. Gaya komunikasi kami dari dulu memang menyala, mungkin karena anak Batak ketemu anak Aceh, kami biasa bercakap dengan suara yang terdengar galak,” tulis Nezar mengenang kawan karibnya sesama alumnus Filsafat UGM tersebut.

Salah satu warisan paling berharga dari John Tobing adalah lagu Darah Juang. Diciptakan sekitar tahun 1991 di sebuah beranda kos di Karangjati, Yogyakarta, lagu ini awalnya adalah balada keprihatinan atas penindasan. Namun, dalam hitungan tahun, lagu tersebut menjalar bak mantra pemanggil keberanian di seluruh simpul gerakan mahasiswa Indonesia, mencapai puncaknya pada Reformasi 1998.

Nezar mengenang bagaimana John tetap membumi meski karyanya menjadi milik sejarah. Pernah suatu kali John bertanya dengan lugu mengenai royalti lagunya, yang kemudian dijawab Nezar bahwa lagu itu telah menjadi milik publik dan harus diikhlaskan bagi perjuangan.

Di balik sosoknya yang galak dalam berdebat, John adalah pribadi yang hangat. Meski sempat terjun ke politik praktis pasca-reformasi, ia akhirnya memilih kembali ke jalan seni di Yogyakarta. Namun, kondisi kesehatannya menurun drastis setelah beberapa kali terserang stroke, yang membuat bicaranya menjadi lamban dan pelo.

Interaksi terakhir Nezar dengan John terjadi melalui pesan WhatsApp pada awal November tahun lalu, saat John meminta bantuan untuk menggelar konser musik karyanya.

“Bantu aku, coy. Cuma kau yang bisa,” pesan John saat itu.

Sayangnya, rencana konser tersebut kini harus berpindah panggung. Setelah sempat dirawat di RS Panti Rini dan RSA UGM dengan selang ventilator, sang pendekar gitar itu akhirnya menyerah pada takdirnya.

“Sore tadi… dokter menyatakan John yang gagah itu meninggal. Saya kembali tertegun dan tanpa sadar menyanyikan Darah Juang dengan suara berbisik,” tutup Nezar dalam testimoninya di akun facebook pribadinya.

John Tobing merupakan simbol moral dan keberanian dalam gerakan sosial Indonesia yang akan terus bergema setiap kali bait “Di sini negeri kami, tempat padi terhampar, Samuderanya kaya raya, Pemuda Desa Tak Kerja, Mereka dirampas haknya, Tergurus dan Lapar.” dinyanyikan mahasiswa di jalanan.