Tanduale : Sumpah Persaudaraan Moronene dan Bugis
Sejarah - Seni Budaya

Tanduale : Sumpah Persaudaraan Moronene dan Bugis

Di sebuah lanskap yang dibentuk oleh hutan, ladang, dan garis-garis sejarah yang tak pernah benar-benar lurus, Bombana tidak hanya menyimpan tanah. Ia menyimpan ingatan. Tentang orang-orang yang datang, menetap, bekerja, berkonflik, lalu belajar untuk hidup bersama.

Di tanah yang sejak lama dihuni oleh Suku Moronene, sejarah kemudian bergerak pelan dari arah laut. Gelombang kecil manusia perantau datang dari selatan Sulawesi, orang Bugis Bone, membawa harapan, cangkul, dan keyakinan bahwa tanah yang subur selalu layak diperjuangkan.

Dalam catatan etnografis dan sejarah lokal yang dihimpun dalam Jurnal Sorume Universitas Halu Oleo (2023), migrasi Bugis ke wilayah Bombana, termasuk Desa Pallimae Kecamatan Poleang, telah berlangsung sejak awal abad ke-20, sekitar tahun 1905 hingga seterusnya, dipelopori oleh kelompok kecil perintis yang mencari lahan baru untuk hidup dan bertani.

Mereka datang sebagai pencari ruang hidup. Namun setiap ruang hidup selalu memiliki batas yang tidak hanya fisik, tetapi juga sosial dan kultural.

Dalam struktur sosial Moronene, tanah bukan sekadar aset ekonomi. Ia adalah bagian dari tatanan adat, bagian dari identitas yang dijaga melalui sistem kepemimpinan tradisional seperti mokole.

Ketika para pendatang Bugis mulai membuka lahan dan menetap, hubungan sosial yang semula bersifat ekonomi perlahan memasuki wilayah yang lebih sensitif terutama kepemilikan, batas, dan legitimasi.

Di titik inilah sejarah tidak selalu berjalan dalam bentuk konflik besar yang tercatat dalam arsip negara. Ia berjalan dalam bentuk percakapan di ladang, negosiasi di kampung, dan ketegangan yang hanya hidup dalam ingatan kolektif.

Seperti banyak daerah pertemuan budaya di Nusantara, Bombana menjadi ruang di mana dua tradisi bertemu, satu berakar di tanah, satu berakar pada mobilitas laut.

TANDUALE

Dari kebutuhan untuk menjaga keseimbangan itulah lahir sebuah kesepakatan adat yang dikenal sebagai Tanduale (Tandoale).

Dalam kajian Taufik Ahmad (2017) dari Balai Pelestarian Nilai Budaya Sulawesi Selatan, Tanduale dipahami sebagai sumpah persaudaraan antara Suku Moronene dan Suku Bugis yang berfungsi mengatur relasi sosial, ekonomi, dan wilayah hidup bersama.

Sumpah itu diyakini pertama kali melibatkan tokoh adat antara Bolong Daeng Maketi (Bugis) dengan Mokole Lababa (Moronene)

Dalam ingatan masyarakat, ia memiliki lapisan makna yang lebih dalam: sebuah ikatan yang dipercaya bersifat magis. Pelanggaran terhadap sumpah ini diyakini akan membawa konsekuensi berat, bahkan penyakit atau kematian.

Hukum tidak hanya hidup dalam aturan tertulis, tetapi dalam keyakinan yang menembus batas rasionalitas sehari-hari.

Pada akhir 1950-an hingga awal 1960-an, wilayah Sulawesi Tenggara tidak sepenuhnya tenang. Gerakan DI/TII Kahar Muzakkar menjadi salah satu periode paling genting dalam sejarah lokal.

Dalam situasi itu, relasi Bugis dan Moronene kembali diuji. Dalam Catatan Taufik Ahmad (2017) menyebut bahwa pada masa ancaman tersebut, solidaritas antar kedua kelompok justru menguat. Bahkan, dalam beberapa peristiwa, masyarakat Bugis disebut turut membantu menyelamatkan tokoh-tokoh Moronene, termasuk Mokole Pimpie, dari ancaman eksekusi.

Peristiwa itu kemudian menjadi semacam pembuktian sosial bahwa Tanduale bukan sekadar simbol, tetapi mekanisme hidup yang bekerja di saat krisis.

Namun Tanduale tidak pernah berdiri sebagai benda yang kaku. Dalam perspektif yang digunakan Taufik Ahmad, dengan merujuk pada pemikiran Stuart Hall, identitas budaya seperti Tanduale bukanlah sesuatu yang tetap. Ia adalah konstruksi sosial yang dibentuk oleh sejarah, kepentingan, dan relasi kuasa.

Ia bisa menguat ketika dibutuhkan, dan bisa meredup ketika tidak lagi menjadi pusat perhatian. Ia lebih mirip arus: kadang tenang, kadang menguat mengikuti tekanan zaman.

Bombana tidak lagi berada dalam situasi yang sama seperti satu abad lalu. Jalan-jalan sudah terbuka, batas administratif sudah jelas, dan negara hadir dalam bentuk yang lebih formal.

Namun di balik itu, Tanduale tetap hidup sebagai ingatan sosial.

Ia hidup dalam cara masyarakat mengingat siapa yang datang lebih dulu, siapa yang membuka ladang, siapa yang menjaga ketika ancaman datang, dan siapa yang memilih untuk tidak mengkhianati janji lama.

Tanduale adalah cara masyarakat Moronene dan Bugis merawat kemungkinan untuk tetap hidup bersama di tanah yang sama, tanpa saling menghapus jejak satu sama lain.

Dan mungkin, di banyak tempat seperti Bombana, sejarah tidak pernah benar-benar selesai. Ia hanya berpindah bentuk: dari konflik menjadi kerja sama, dari kerja sama menjadi ingatan, dan dari ingatan kembali menjadi janji.

REFERENSI

  • Ahmad, Taufik. 2017. Tondoa(le): Dari Tradisi ke Agenda Politik-Ekonomi, Era Reformasi di Bombana Sulawesi Tenggara. Balai Pelestarian Nilai Budaya Sulawesi Selatan.
  • Jurnal Sorume, Universitas Halu Oleo. 2023. “Sejarah Kedatangan Orang Bugis Bone di Desa Pallimae Kecamatan Poleang Kabupaten Bombana: 1905–2019.”