TANJUNG PRIOK – Di balik kepulan asap tipis dari wajan minyak, Dwi Iswati (34 tahun) berdiri tegak, meracik nasibnya. Di sudut Jalan RT 13 RW 13 Warakas, sebuah tempat bagi anak-anak sekolah yang mengejar gorengan renyah dan es kopi saset.
Penghasilannya, “kurang lebih 2 juta rupiah per bulan,” katanya, sebuah angka yang tipis, namun harus mampu meregang untuk menopang tiga jiwa anaknya.
Siang itu, di bangku reyot dekat kiosnya, obrolan kami bergeser dari harga cabai yang mencekik ke program Makanan Bergizi Gratis (MBG). Wajah Dwi yang sebelumnya fokus pada hitungan receh, kini sedikit mengendur. Ia mengangguk, sorot mata lelahnya menyimpan sedikit kelegahan yang tersembunyi. Anaknya adalah penerima manfaat di SD 05 Warakas.
MBG adalah program yang menjamin asupan gizi lengkap, secara logis seharusnya memangkas uang jajan. Namun, Dwi menyajikan sebuah paradoks, Apakah dengan adanya MBG, pengeluaran anak di sekolah jadi berkurang? “Sama saja, Mas. Jajannya tetap Rp 10.000 rupiah sehari.” Ungkapnya.
Fenomena ini adalah irisan tipis antara harapan program dan realitas saku anak-anak. Uang jajan tetap utuh, tetapi kualitas asupan gizi sang anak yang kini telah disubsidi negara. Iritasi ekonomi keluarga Dwi setidaknya tidak teratasi di kantin sekolah, melainkan bergeser ke balik kompornya di dapur rumahnya.
Perhitungan Dwi sederhana namun berdampak. Ia memperkirakan nilai satu porsi MBG berkisar antara Rp 10.000 hingga Rp 15.000 per hari. Jika kita ambil nilai teratas, maka selama 20 hari sekolah dalam sebulan, ada potensi pengeluaran makan yang dihemat keluarga sebesar Rp 300.000.
Bagi keluarga dengan pendapatan Rp 2 juta, angka Rp 300.000 itu bukan sekadar receh. Jumlah itu setara dengan 15% dari total pendapatan bulanan.
“Bantuan ini tidak mengurangi uang jajan, Mas. Tapi ini meringankan beban belanja bahan makanan di rumah. Itu yang paling terasa,” Tegas Dwi.
Beban dapur yang selama ini ia pikul sendiri dari hasil dari keringat menjual kopi dan gorengan, kini diampu oleh kebijakan negara.
Angka Rp 300.000 itu adalah nafas. Uang itu bisa dialihkan untuk membayar tunggakan listrik, membeli seragam yang jahitannya mulai lepas, atau menjadi modal darurat agar ia tak terjerat pinjaman mendadak. MBG bagi Dwi, adalah efisiensi finansial yang diselundupkan lewat piring makan anak.
Manfaat lain hadir sebagai karunia tak ternilai. “Alhamdulillah, sekarang anak saya tidak jajan sembarangan lagi,” ungkap Dwi. Ini adalah pengakuan pahit seorang pedagang jajanan, bahwa dagangannya sendiri, meski dicari, kerap ia nilai bukan pilihan terbaik untuk darah dagingnya.
Ia memberi rapor 8 dari 10 untuk program itu. Sebuah pujian yang tulus, meski diselipi kritik yang jujur. “Namun kadang tumisannya pada tidak disukai anak-anak,” Dwi mengutip keluhan anaknya, menunjukkan bahwa standar rasa anak-anak tetap tak bisa ditawar.
Namun, menu selingan di hari Jumat, “ada susu, kadang roti, jeruk ada”, salah satu menu favorit anaknya. Ini adalah asupan gizi, sebuah benteng pertahanan dari risiko cemaran jajanan pinggir jalan.
Mengenai isu keracunan yang sempat menjadi viral di media sosial, Dwi menepisnya dengan ketenangan khas ibu-ibu Warakas yang realistis. “Anakku baik-baik saja, Mas. ‘Nda ada gejala terhadap anak saya.’ Menurut saya, yang heboh itu memang terjadi di luar, tapi diviralkan saja.”
Dwi Iswati di tengah kepulan asap wajan dalam kios kecilnya menyaksikan program MBG yang telah menjadi modal sosial berharga. Ia bukan hanya menyuntikkan gizi, melainkan juga menyuntikkan efisiensi anggaran ke dalam struktur ekonomi mikro keluarganya. Keringanan ini yang memungkinkannya terus berjuang, satu demi satu gelas kopi dan gorengan di tengah kerasnya kehidupan Ibukota Jakarta.