JAKARTA – Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) merilis pembaruan data dampak bencana hidrometeorologi parah yang melanda tiga provinsi di Sumatera—Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat. Hingga minggu malam (7/12/2025) pukul 21.15 WIB, jumlah korban meninggal dunia tercatat mencapai 921 jiwa, sementara 392 orang masih dinyatakan hilang.
Data terbaru ini menunjukkan skala kerusakan dan dampak yang masif di 52 kabupaten/kota se-Sumatera yang terdampak. Total korban terluka dilaporkan mencapai 5.000 orang, dan jumlah pengungsi telah menembus angka 975.000 orang.
Aceh menjadi provinsi dengan jumlah korban meninggal tertinggi, mencapai 366 jiwa dan 97 jiwa hilang. Kerusakan terparah berpusat di Kabupaten Aceh Utara dengan 128 korban meninggal, disusul Aceh Tamiang (57 jiwa), dan Aceh Timur (47 jiwa).
Di wilayah Sumatera Utara, korban meninggal mencapai 329 jiwa dan 82 jiwa hilang. Kabupaten Tapanuli Tengah mencatat angka kematian tertinggi dengan 102 jiwa, diikuti Tapanuli Selatan (85 jiwa), dan Kota Sibolga (53 jiwa).
Sementara itu, Sumatera Barat mencatat 226 jiwa meninggal dunia. Provinsi ini juga memiliki jumlah korban hilang terbanyak, yakni 213 jiwa, serta 112 korban terluka. Sebagian besar korban meninggal di Sumbar berasal dari Kabupaten Agam (170 jiwa).
Selain korban jiwa, bencana ini juga mengakibatkan kerugian material yang sangat besar. Data BNPB mencatat:
- Rumah Rusak: 147.300 unit
- Fasilitas Umum Rusak: 1.300 unit
- Fasilitas Pendidikan Rusak: 701 unit
- Rumah Ibadah Rusak: 420 unit
- Jembatan Rusak: 405 unit
Tingginya angka kerusakan infrastruktur ini menjadi tantangan dalam upaya penyaluran bantuan dan pemulihan, mengingat hampir satu juta warga saat ini berstatus pengungsi dan membutuhkan tempat tinggal sementara yang layak.
