Papua Pegunungan — Di tengah lanskap pegunungan yang terpencil, jauh dari sorotan media nasional, sebuah tindakan kecil oleh seorang siswa sekolah dasar telah memicu perbincangan tentang arti sejati dari empati dan pengorbanan di Indonesia.
Pison Kogoya, seorang bocah SD dari Papua, baru-baru ini membongkar celengan Doraemonnya, bukan untuk mewujudkan impian sederhananya berwisata ke Jayapura untuk mandi di pantai, minum air kelapa, dan berjalan di Danau Sentani, tetapi untuk membantu korban banjir bandang di Sumatera, yang ribuan kilometer jauhnya.
Dengan total tabungan satu tahun penuh sebesar Rp 1.653.000, yang merupakan jumlah yang signifikan di wilayahnya, Pison dengan tegas melepaskan rencana liburannya. Setelah menyisihkan hanya Rp 163.000 untuk membeli kalung anjing kesayangannya, ia mengirimkan sisa Rp 1.500.000 kepada orang-orang asing yang hanya ia ketahui dari berita.
Tindakan ini yang awalnya tanpa kamera atau narasi panggung, lahir dari dorongan hati murni seorang anak yang merasakan penderitaan sesamanya. “Untuk teman-teman yang terdampak banjir di Sumatera, semangat ya… peluk jauh dari Papua,” ujar Pison, sebuah pesan yang, bagi banyak pengamat, terasa seperti oase di tengah lanskap politik dan sosial yang sering dituduh kering dari kasih sayang tulus.
Kisah Pison Kogoya tak terhindarkan dan menjadi kontras yang tajam dengan citra publik dari upaya bantuan bencana lainnya. Narasi ini secara implisit membandingkan kepolosan tindakan Pison dengan kepedulian yang ditampilkan oleh pejabat tinggi, termasuk insiden baru-baru ini di mana seorang menteri terlihat memanggul karung beras di depan kamera.
Pison telah mendefinisikan kembali esensi bantuan, bahwa kemanusiaan sejati tidak diukur dari besar kecilnya sumbangan, melainkan pada sejauh mana seseorang berani menunda keinginan pribadi demi merawat luka dan sakit orang lain.
Bantuan tidak harus dipanggul agar dilirik kamera, ia cukup dipanggul dengan ketulusan.
Dari Pegunungan Papua yang sering disalahpahami dan berjuang dengan isu-isu pembangunan dan konflik, Pison Kagoya memberikan sesuatu yang jauh lebih berharga daripada uang, ia mengembalikan harga diri kemanusiaan dan mengajarkan kembali kepada bangsa apa arti sebenarnya dari menjadi manusia.
