Di tengah ancaman krisis regenerasi petani, Kabupaten Bone menghadapi masalah, sekelompok petani milenial kakao berkaliber ahli yang mampu menyiapkan 400.000 bibit unggul teruji iklim lokal, kini terputus total dari program pemerintah. Kelompok ahli Agronomi Kakao lulusan pelatihan intensif ini, yang seharusnya menjadi solusi SDM terbesar negara, justru dibiarkan berjuang sendiri, mengancam keberlanjutan investasi dari program internasional seperti YESS.
Di tengah krisis demografi petani yang mengancam keberlanjutan pangan nasional. Petani di Kecamatan Bengo, Kabupaten Bone, justru memancarkan secercah harapan. Kelompok petani milenial di sini tidak hanya mampu bertahan pasca berakhirnya Program Youth Entrepreneurship and Employment Support Services (YESS), tetapi mereka juga telah menjadi tenaga ahli bersertifikat dan produsen bibit kakao unggul yang teruji iklim lokal.
Namun, di balik kompetensi tinggi dan ambisi besar, termasuk rencana menyiapkan 400.000 bibit kakao siap tanam pada tahun 2026. Mereka kini menghadapi masalah. Koneksi kelompok milenial ini dengan Kementerian Pertanian dan Dinas Perkebunan terputus total.
Akibatnya, aset terbesar negara dalam sektor kakao ini tidak dilibatkan sebagai penyedia bibit dalam program resmi pemerintah, padahal kualitas produk mereka diakui lebih unggul dan tahan terhadap kondisi lokal Bone.
Adrian, salah satu petani milenial kakao di Bengo, mengungkapkan kegelisahannya di sela kegiatan gotong royong sambung pucuk di Nursery Sipakainge. “Kami tetap bergerak dan saling menguatkan. Saat ini kami fokus menyiapkan bahan tanam berkualitas dengan klon bersertifikasi,” ujarnya, Senin (15/12/2025).
Namun, tanpa pelibatan resmi, 400.000 bibit yang mereka siapkan terancam hanya menjadi komoditas pasar bebas, padahal bisa menjadi instrumen vital bagi peremajaan kakao nasional.
Kelompok petani milenial ini tidak bisa dipandang sebagai petani biasa. Mereka adalah Sumber Daya Manusia (SDM) yang telah melalui proses pelatihan dan pemagangan intensif selama 1 hingga 2 bulan di Cocoa Development Centre (CDC) PT Mars di Kabupaten Luwu Timur. CDC PT Mars dikenal sebagai salah satu pusat riset kakao terbesar di Asia Tenggara.
Pengalaman dan keahlian yang mereka serap telah mengangkat level kompetensi mereka hingga menyandang gelar ahli Agronomi Kakao. Tak sedikit pula anggota kelompok yang telah merintis startup bisnis kakao, menunjukkan mereka matang secara pengetahuan, jejaring, dan visi kewirausahaan. Inilah keberhasilan nyata dari kolaborasi antara Indonesia dengan International Fund for Agricultural Development (IFAD) melalui Program YESS.
Namun, kualifikasi tinggi dan ketersediaan stok bibit bersertifikat yang mereka miliki justru luput dari jangkauan program pemerintah. Terputusnya rantai kerja sama ini menciptakan situasi yang membingungkan.
Di satu sisi, pemerintah gencar menggaungkan darurat regenerasi petani. Di sisi lain, aset SDM yang sudah matang secara teknis ini justru dibiarkan berjalan sendirian tanpa pelibatan dalam rantai pasok program daerah.
Ansar, rekan Adrian, menegaskan bahwa harapan mereka sederhana namun strategis. Mereka tidak menuntut bantuan modal cuma-cuma, melainkan akses dan pembinaan berkelanjutan.
“Kami berharap pemerintah bisa kembali membina dan membimbing kami, supaya kontribusi kami di sektor kakao bisa lebih maksimal untuk negara,” ujarnya.
Cerita Sahir, seorang pembibit kakao asal Desa Bengo yang merupakan alumni pelatihan singkat PT Mars, membuktikan bahwa kelompok milenial menghasilkan bibit berkualitas. Setelah hanya mengikuti pelatihan selama satu bulan, Sahir kini menjadi rujukan utama bagi petani yang mencari bibit berkualitas
Permintaan bibit dari Sahir terus meningkat, bahkan dari petani di luar Bengo, yang sebelumnya lebih memilih bibit dari luar daerah. Sahir menjelaskan bahwa keunggulan bibitnya terletak pada adaptasi iklim.
“Perjalanan jauh bisa bikin bibit stres, batang patah, dan cepat layu. Sementara, bibit yang saya kembangkan sudah terbiasa dengan iklim setempat. Jadi ketika pindah ke lahan petani, kondisinya stabil,” kata Sahir.
Ahmad, seorang petani dari Kecamatan Kahu, membenarkan kualitas ini. Meskipun beberapa bibitnya sempat mati karena stres pengiriman yang jauh, Ahmad mengakui bahwa bibit yang berhasil bertahan tumbuh sangat subur. “Yang selamat tumbuhnya bagus sekali, subur. Apalagi klon BB dan S2. Kualitas bibitnya memang bagus,” kata Ahmad.
Sahir juga menawarkan perspektif inovatif, jenis atau klon bukanlah penentu utama kesuksesan. Menurutnya, yang terpenting adalah kemampuan bibit beradaptasi dengan iklim setempat. Bahkan, menanam jenis yang berbeda-beda dalam satu lahan justru dapat meningkatkan hasil.
Sahir membuktikan bahwa inovasi dan kualitas tidak harus selalu lahir dari lembaga besar, tetapi juga dari sudut kecil desa yang ditopang oleh ilmu pengetahuan dan adaptasi lokal. Kehadiran Sahir dan kelompoknya adalah antitesis terhadap anggapan bahwa petani milenial tidak mampu bersaing dalam hal kualitas dan teknologi.
Krisis Demografi Petani
Jika kita sandingkan pengabaian kelompok Adrian dan Sahir dengan data makro pertanian Indonesia, hal ini menjadi semakin kontradiktif, terutama terkait krisis regenerasi. Indonesia memang merupakan negara agraris dengan potensi lahan pertanian luas, mencakup 94 juta hektare terdiri dari 25 juta ha sawah dan 68,6 juta ha lahan kering, dan menopang 33,4 juta petani. Namun, sektor ini menghadapi tantangan serius.
Tantangan paling serius adalah menurunnya minat anak muda terhadap sektor pertanian. Data Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Bone tahun 2023 menunjukkan jurang regenerasi yang menganga. Petani usia 14-24 tahun hanya tersisa 3.085 orang. Kelompok usia produktif 25-34 tahun hanya tercatat 15.862 orang. Angka ini tenggelam oleh dominasi angkatan tua di atas 45 tahun yang jumlahnya mencapai ratusan ribu orang.
Selain usia, tingkat pendidikan petani juga menjadi penghambat. Secara nasional, 66,42% petani hanya lulusan SD atau bahkan tidak tamat sekolah. Rendahnya pendidikan ini memengaruhi adopsi teknologi dan manajemen modern.
Kemiskinan di pedesaan tetap menjadi faktor permasalahan mendasar. Kabupaten Bone pernah mencatat tingkat kemiskinan ekstrem, mencapai 81,33% pada tahun 2020. Kemiskinan ini seringkali membatasi kemampuan petani untuk berinvestasi pada bibit unggul atau teknologi baru.
Program YESS melahirkan para ahli Kakao ini. Sebuah upaya konkret, International Fund for Agricultural Development (IFAD), sebuah lembaga di bawah PBB, mendukung dananya. Program ini merancang solusi untuk memutus mata rantai masalah kemiskinan, rendahnya pendidikan, dan minimnya minat pemuda. Melalui kolaborasi dengan Kementerian Pertanian di bawah Menteri Amran Sulaiman, YESS menyuntikkan dana, memberikan pelatihan kewirausahaan, dan mengadakan magang bersertifikat
Hasilnya sudah nyata, lahirnya startup bisnis kakao dan petani bermental wirausaha yang siap secara teknis di Bone.
Namun, ketika program donor berakhir, keberlanjutan sinergi dengan pemerintah lokal tampak ikut layu. Pemerintah memiliki tanggung jawab untuk memastikan keberlanjutan investasi SDM yang telah dilakukan. Tidak melibatkan para ahli lokal yang teruji, seperti Sahir dan kelompok Adrian, dalam pengadaan bibit resmi pemerintah adalah tindakan yang kontradiktif dengan tujuan regenerasi petani dan peningkatan kualitas komoditas kakao.
Petani milenial kakao Bone kini menjadi representasi harapan baru di tengah tantangan fluktuasi produksi kakao nasional. Mereka bukan hanya siap di lapangan, tetapi matang secara pengetahuan, dan visi usaha. Intinya, yang kini mereka tunggu hanyalah satu hal yakni kehadiran negara untuk kembali berjalan bersama.
Kontributor Affandy
