Kampung Hilang di Aceh 2025
Bencana - Lingkungan

Kisah Pilu Kampung Hilang di Aceh 2025

Bencana lingkungan yang melanda Aceh pada akhir november 2025 menyisakan luka mendalam. Berdasarkan laporan lapangan, kekuatan air dan material longsor serta kayu gelondongan telah menghapus eksistensi sejumlah desa dari peta. Peristiwa ini meninggalkan trauma bagi warga yang kehilangan segalanya dalam sekejap.

Berikut rangkuman kisah memilukan mengenai fenomena kampung hilang di Aceh yang dirangkum dari berbagai sumber.

Gampong Lhok Pungki

Di Kabupaten Aceh Utara, Dusun Lhok Pungki yang terletak di Gampong Gunci, Kecamatan Sawang, dilaporkan tersapu bersih oleh banjir bandang. Kecepatan dan volume air yang luar biasa membuat pemukiman ini seolah lenyap tak bersisa.

Muntasir Ramli, Juru Bicara Pemerintah Aceh Utara, mengonfirmasi kabar duka ini kepada Antara News Aceh. Ia menyebutkan bahwa seluruh dusun hilang diterjang air bah yang melanda kawasan tersebut.

Selain di Sawang, Bupati Aceh Utara, Ismail A. Jalil (Ayahwa), juga melaporkan kondisi serupa di Kecamatan Tanah Jambo Aye. Melansir Tribun News Aceh, ratusan rumah di sana hilang. Kepiluan kian bertambah karena bantuan belum merata, sehingga banyak warga terpaksa tidur tanpa tenda pengungsian yang layak.

Gampong Alue Kuta

Kisah tragis lainnya datang dari Kabupaten Bireuen. Melansir laporan Kabar Bireuen, geografi Gampong Alue Kuta di Kecamatan Jangka berubah total setelah bencana melanda.

Sedikitnya 40 unit rumah warga hilang terseret arus banjir yang sangat kuat hingga terbawa ke laut. Akibatnya, Dusun Pasi Alue Kuta dan Dusun Beurawang kini hilang dari pandangan. Keuchik setempat, Habibullah, mengungkapkan bahwa lokasi yang dulunya pemukiman padat kini berubah menjadi alur air atau kuala yang terhubung langsung ke laut.

Gampong Kute Reje

Beralih ke dataran tinggi Aceh Tengah, tepatnya di Kampung Kute Reje, Kecamatan Linge. Keganasan banjir bandang di wilayah ini membawa material kayu gelondongan yang menghancurkan bangunan milik warga.

Bencana yang terjadi sejak akhir November lalu ini menyapu bangunan hingga rata dengan tanah. Melansir detikSumut, Bupati Aceh Tengah, Haili Yoga, menyatakan bahwa kondisi di lapangan jauh lebih parah dari yang dibayangkan.

Karena hanya menyisakan fondasi dan puing, Kampung Kute Reje sudah tidak layak untuk dihuni kembali. Oleh karena itu, pemerintah daerah berencana melakukan relokasi total bagi warga Kute Reje ke lokasi yang lebih aman.

Krisis di Peusangan

Di Kecamatan Peusangan, Bireuen, enam desa terisolasi akibat tumpukan lumpur pekat dan ribuan kayu gelondongan. Desa-desa tersebut meliputi : Pante Lhong, Raya Tambo, Kapa, Raya Dagang, Blang Panjoe, Pante Pisang

Kepala Desa Kapa, Evendi, melalui media Berita Merdeka, mendesak pemerintah untuk segera bertindak tanpa menunggu protokoler kunjungan pejabat. Saat ini, rumah-rumah warga hancur lebur dan akses jalan putus total, sehingga proses evakuasi berjalan sangat lambat.

Tragedi kampung hilang di Aceh ini menunjukkan pola bencana yang serupa: arus air yang sangat cepat, hanyutnya kayu gelondongan, dan perubahan bentang alam yang permanen.

Warga terdampak kini tidak hanya membutuhkan logistik instan, tetapi juga kepastian tempat tinggal atau Hunian sementara Huntara. Hal ini dikarenakan lahan yang dulu mereka tempati kini telah berubah menjadi sungai, rawa, bahkan bagian dari lautan.