Peta Lokasi Banjir di Balangan
Bencana - Lingkungan

Kerusakan Hutan Meratus dan Tekanan Industri Tambang Picu Banjir Bandang di Balangan

Banjir yang menggenangi pemukiman warga dengan ketinggian hingga atap rumah di Balangan. Sumber video netizen/istimewa

Sejumlah video amatir di media sosial mendokumentasikan kondisi memprihatinkan banjir bandang di Kabupaten Balangan. Rekaman tersebut memperlihatkan dampak luapan air yang menerjang wilayah itu pada Sabtu, 27 Desember 2025. Dalam rekaman tersebut, terlihat ketinggian air di tiga kecamatan terdampak telah melampaui tinggi bangunan dan mencapai atap rumah warga.

Intensitas hujan tinggi di hulu Meratus memicu banjir bandang di Balangan yang viral di media sosial. Laporan visual dari warga menunjukkan evakuasi mandiri dilakukan di tengah kepungan air yang telah menenggelamkan rumah hingga ke bagian atap.

Peristiwa banjir bandang ini melanda sejumlah desa di Kecamatan Tebing Tinggi, Halong, dan Awayan. Berdasarkan data yang dihimpun Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Balangan melalui Berita dilansir media Antara, banjir merendam rumah warga.

Kecamatan Tebing Tinggi, wilayah Terdampak Terparah, kerusakan terjadi di Desa Juuh, Auh, Sungsum, Tebing Tinggi, dan Mayanau. Polres Balangan mencatat banjir bandang tersebut merendam 1.466 unit rumah di delapan desa. Bencana ini berdampak langsung pada sedikitnya 1.615 Kepala Keluarga (KK) di wilayah kecamatan tersebut.

Luapan air di Kecamatan Awayan menggenangi permukiman di Desa Muara Jaya, Desa Pulantan, Desa Putat Basiun, dan Desa Awayan Pasar. Banjir juga merendam wilayah Desa Badalungga Hilir, Desa Badalungga, serta Desa Awayan Hilir dengan cakupan RT yang luas.

Kecamatan Halong meliputi wilayah terdampak mencakup Desa Mauya, Mantuyan, dan Tabuan, di mana aktivitas warga lumpuh total akibat genangan air.

Sejarah Banjir

Catatan kelam banjir di Kabupaten Balangan seolah menjadi lonceng peringatan yang berbunyi semakin keras setiap tahunnya. Kejadian pada Sabtu (27/12/2025) ini menambah panjang daftar hitam sejarah bencana di Kalimantan Selatan.

Jika menengok ke belakang, tepatnya pada 16 Januari 2021, Balangan pernah luluh lantak oleh banjir yang merendam 3.571 unit rumah. Saat itu, BNPB mencatat sebanyak 11.816 jiwa harus bertahan di tengah kepungan air setinggi 1,5 meter yang merata di enam kecamatan.

Kala itu, Kecamatan Awayan dan Tebing Tinggi sudah tercatat sebagai wilayah dengan dampak sosial terbesar.

Belum hilang trauma warga, dua tahun berselang pada 12 Maret 2023, bencana serupa kembali terulang. Data dari Kementerian Kesehatan dan BNPB mengonfirmasi bahwa banjir besar kembali menerjang pusat pemukiman di Kecamatan Awayan, Halong, dan Juai, yang membuktikan bahwa wilayah ini berada dalam garis merah kerentanan bencana tahunan.

Penyebab Banjir Bandang

Peta Lokasi terdampak banjir di 3 Kecamatan di Balangan yang berada di sekitar pertambangan. Sumber google map

Berdasarkan data citra satelit Google Maps atau pencitraan udara menunjukkan secara jelas bahwa wilayah Kecamatan Halong, Awayan, dan Tebing Tinggi berada dalam kepungan aktivitas industri ekstraktif berskala besar. Terlihat bukaan lahan tambang yang sangat masif, salah satunya ditandai sebagai Tambang PT BUMA Adaro Tutupan. Hamparan lahan terbuka berwarna cokelat terang tersebut menunjukkan hilangnya tutupan vegetasi hutan secara permanen dalam area yang sangat luas.

Area pertambangan aktif berada sangat dekat dengan batas administratif kecamatan terdampak, menciptakan tekanan lingkungan langsung pada aliran sungai yang melintasi pemukiman.

Selain tambang utama Adaro Grup, terlihat titik-titik bukaan lahan lain di sekitarnya yang mengindikasikan banyaknya perusahaan tambang lain yang beroperasi di wilayah hulu dan sekitar perkampungan.

Secara teknis, bentang alam yang terbuka ini menjadi jalur utama air larian permukaanyang membawa material sedimen langsung ke arah hilir Kecamatan Halong, Awayan, dan Tebing Tinggi). Bukaan lahan yang terdokumentasi dalam foto udara ini menjelaskan mengapa daya serap tanah menghilang dan sungai mengalami pendangkalan masif, yang berujung pada terjadinya banjir bandang ekstrem hingga mencapai atap rumah warga.

Selain itu, fakta mengenai kerusakan ekosistem di Kabupaten Balangan kini diperkuat oleh hasil riset akademis. Merujuk pada jurnal Enviro Scienteae Vol. 19 No. 4, November 2023, yang ditulis oleh Randy Saputra, Fatmawati, Mijani Rahman, dan Idiannor Mahyudin, Sungai Balangan secara saintifik telah mengalami degradasi kualitas air yang signifikan.

Dalam riset berjudul Analisis Kualitas Air Sungai Balangan di Kabupaten Balangan, Berdasarkan Parameter Fisik dan Kimia, para peneliti menyoroti bahwa aktivitas di sepanjang Daerah Aliran Sungai (DAS) telah memicu masuknya logam terlarut dan bahan pencemar fisik ke badan sungai.

Ancaman Logam Terlarut dan Sedimentasi Kajian tersebut menegaskan bahwa parameter kimia dan fisik sungai sangat dipengaruhi oleh penggunaan lahan di sekitarnya, termasuk aktivitas industri ekstraktif. Penelusuran spasial melalui citra satelit menunjukkan adanya bukaan lahan luas dari perusahaan skala besar dan puluhan perusahaan tambang lainnya yang beroperasi di hulu dan sekitar perkampungan masyarakat.

Kondisi ini menciptakan dua dampak bagi warga Balangan. Pertama, Masuknya residu limbah industri yang menurunkan kelayakan air untuk kebutuhan domestik (MCK).

Kedua, Erosi dari tutupan lahan yang terbuka menyebabkan pendangkalan sungai secara masif. Hal ini sinkron dengan temuan riset yang menyatakan adanya perubahan beban polutan yang masuk ke sungai, yang pada akhirnya mereduksi kemampuan sungai dalam menampung debit air hujan.

Selain itu beberapa riset menyebutkan kerusakan benteng terakhir Meratus secara tersirat memberikan sinyal bahaya terhadap kerusakan kawasan hutan lindung di Pegunungan Meratus. Sebagai hulu utama Sungai Balangan, kerusakan hutan lindung ini menjadi faktor determinan terjadinya banjir bandang. Tanpa sistem akar hutan yang kuat untuk menahan air, curah hujan tinggi langsung berubah menjadi air larian permukaan yang mengangkut material lumpur dari lahan tambang terbuka menuju pemukiman warga di hilir.

Data membuktikan bahwa akumulasi tekanan industri ekstraktif merusak daya dukung lingkungan dan menyebabkan banjir di Balangan