Eskalasi konflik di Timur Tengah yang melibatkan Amerika Serikat-Israel melawan Iran terus memberikan tekanan hebat terhadap ekonomi global. Penutupan Selat Hormuz, yang merupakan urat nadi energi dunia, kini memicu lonjakan harga minyak mentah ke level yang mengkhawatirkan.
Berdasarkan data perdagangan per 1 April 2026, harga minyak mentah jenis Brent untuk kontrak Mei terpantau naik 2,92 persen menjadi USD 115,86 per barel. Lonjakan ini tergolong ekstrem mengingat sebelum perang pecah, harga minyak dunia hanya berkisar di angka USD 55 – 66 per barel atau setara dengan Rp6.558 per liter.
Menanggapi situasi ini, Pengamat Ekonomi Wisnu Wibowo memprediksi dampak besar bagi konsumen di Indonesia. Dikutip dari Liputan6, Wisnu mengungkapkan bahwa lonjakan harga minyak dunia ini akan memaksa harga BBM di dalam negeri mengalami penyesuaian signifikan antara 5 persen hingga 10 persen.
“Dengan kisaran kenaikan itu, harga BBM jenis RON 92 (Pertamax) diperkirakan akan naik sekitar Rp1.000 per liter,” ujar Wisnu.
Tekanan ekonomi di dalam negeri kian diperparah dengan melemahnya nilai tukar Rupiah yang menyentuh Rp16.990 per Dollar AS pada penutupan Maret kemarin. Dengan volume satu barel setara 159 liter, maka secara teknis harga dasar minyak mentah saat ini telah mencapai Rp12.380 per liter.
Kenaikan ini merupakan imbas langsung dari terhentinya pasokan di Selat Hormuz. Meski sempat menyentuh angka tertinggi USD 126 per barel pada pertengahan Maret lalu, pergerakan harga hari ini menunjukkan pasar masih sangat fluktuatif dan tetap berada di zona merah.
Penting untuk dicatat bahwa angka Rp12.380 tersebut baru merupakan harga bahan baku mentah. Jika ditambah dengan komponen biaya kilang, biaya distribusi, serta pajak (PPN dan PBBKB), harga keekonomian BBM di tingkat SPBU diprediksi akan jauh melampaui angka dasar tersebut.