
Solidaritas warga Desa Torobulu, Kecamatan Laeya, Kabupaten Konawe Selatan, Sulawesi Tenggara, mengemuka di tengah polemik aktivitas pertambangan nikel yang dinilai telah mendekati kawasan permukiman.
Warga yang tergabung dalam Gerakan Peduli Torobulu mulai membangun rumah baru bagi Made (66), warga yang rumahnya terancam longsor akibat aktivitas tambang PT Wijaya Inti Nusantara (WIN).
Pembangunan rumah tersebut dimulai pada Senin (15/6/2026). Lahan untuk rumah baru merupakan hibah dari sesama warga Torobulu, sedangkan bahan bangunan seperti batu, pasir, dan semen berasal dari hasil swadaya masyarakat.
“Kami juga membuka donasi untuk pembangunan rumah keluarga Pak Made dan secara terbuka akan melaporkan hasil penggunaan dana pada akun kolektif warga @torobulu_melawan,” kata Hermina, warga Torobulu, Selasa (16/6).
Menurut warga Torobulu, Ayunia Muis, Made bersama keluarganya kini mengungsi karena khawatir rumah mereka sewaktu-waktu terdampak longsor. Kekhawatiran itu muncul karena lokasi galian tambang sedalam sekitar 50 meter disebut hanya berjarak sekitar 15 meter dari rumah yang mereka tempati.
“Penambangan perusahaan itu sampai mendekati rumah-rumah warga. Salah satu rumah dekat penambangan itu adalah rumah Pak Made. Dari galian tambang itu, keluarga Pak Made merasa terancam dan ketakutan untuk tinggal di situ,” ujar Ayu.
Aktivitas pertambangan yang semakin mendekati permukiman pada Februari 2026 disebut menyebabkan munculnya retakan pada dinding rumah berukuran sekitar 35 meter persegi tersebut. Sebelumnya, kandang ayam milik Made dilaporkan lebih dahulu ambruk akibat longsor.
Ayu mengatakan, keluarga Made telah menyampaikan kekhawatiran mereka kepada pihak perusahaan. Namun, menurut dia, keluhan tersebut tidak mendapatkan respons hingga persoalan itu mendapat perhatian publik melalui pemberitaan media massa.
“Perusahaan, aparat penegak hukum, dan pemerintah baru merespons setelah ramai diberitakan. Tetapi, yang terjadi justru ada dugaan intimidasi sehingga keluarga Pak Made semakin ketakutan,” katanya.
Ia menduga terdapat upaya tekanan terhadap Made setelah persoalan tersebut menjadi perhatian publik. Menurut Ayu, bukan hanya pihak perusahaan, tetapi juga sejumlah warga dan aparat keamanan mendatangi Made.
“Banyak hal yang terjadi. Bukan hanya perusahaan, tetapi juga warga dan aparat keamanan mendatangi beliau,” ungkapnya.