TANJUNG PRIOK – Matahari sore di Warakas merayap pelan, meninggalkan bayangan memanjang di pinggir kali. Di sana, lima orang ibu duduk berderet di beton di depan sebuah kios. Mereka menjalin obrolan harian sesame ibu-ibu. Di antara mereka, Yayah Rokayah (33 tahun), warga RT 14 RW 13, seorang ibu rumah tangga yang menggantungkan hidupnya pada gaji suami.
“Setelah bayar kontrakan dan ini itu, paling dikasih suami Rp 2.500.000 rupiah sebulan,” ungkap Yayah. Angka itu merupakan anggaran rumah tangganya yang berjuang mati-matian melawan kebutuhan bulanan.
Anaknya bersekolah di SD 03 Warakas, salah satu penerima berkah program Makanan Bergizi Gratis (MBG). Begitu nama program itu disebut, Yayah langsung melebarkan senyumnya. “MBG itu betul-betul mengurangi beban orang tua dalam memberikan jajan ke anak,” katanya, menggarisbawahi kelegaan yang ia rasakan.
Di Warakas, seporsi MBG diperkirakan bernilai sekitar Rp 15.000. Sebuah kalkulasi sederhana menunjukkan betapa signifikannya angka itu bagi keluarga Yayah. Jika program berjalan efektif selama 20 hari sekolah, maka terdapat penghematan sekitar Rp 300.000 per bulan.
Bagi sebuah keluarga yang hidup dengan anggaran ketat Rp 2,5 juta, penghematan itu setara dengan 12 persen dari total pendapatan. Persentase ini yang disuntikkan langsung melalui makanan bergizi adalah napas baru. Uang jajan yang tadinya terbuang untuk cemilan tak jelas, kini bisa dialihkan.
“Pengeluaran rumah tangga berkurang, karena anak tidak jajan sembarangan lagi sekarang,” tegas Yayah. Inilah manfaat ganda yang ia rasakan, “anak mendapat gizi terjamin seperti buah dan susu selalu ada dalam menu” katanya. Uang kas rumah tangga menjadi lebih longgar. Tekanan untuk memilih antara gizi dan kebutuhan lain sedikit mereda.
Namun, seperti halnya setiap program yang menyentuh ribuan perut, ada nada sumbang yang tak bisa diabaikan. Yayah, meniru cerita anaknya, menyampaikan keluhan dengan nada hati-hati. “Kadang-kadang enak, kadang-kadang juga tidak enak. Ayamnya misalnya kadang bau.”
Kritik ini muncul dari kejujuran anak-anak adalah alarm penting. Program sebagus apa pun ideologinya akan runtuh di hadapan kualitas yang inkonsisten.
Yayah tidak meminta program diubah. Ia hanya meminta perbaikan menu kedepannya. “Kalau diubah nggak lah ya. Tapi mungkin, susu seharusnya dapat setiap hari.” susu dianggapnya adalah garansi gizi minimal, bahkan saat anak sedang rewel dan menolak makan hidangan utama. “Anak kadang tidak mau makan, tetapi kan minum susu. Gitu kali masukannya,” ungkap Yayah.
Ia memberikan saran penutup yang tegas kepada Badan Gizi Nasional (BGN) “Tingkatin dari segi masakan, supaya anak tambah senang dan cerdas kedepannya.”
Mengenai isu keracunan yang sempat riuh di media sosial yang sempat mengombang-ambing kepercayaan publik, Yayah menepisnya “Keracunan itu mah gak ada. Itu cuma ramai di media sosial saja,” katanya. Seolah mengusir kepulan hoaks yang mengganggu ketenangan program MBG.
Di antara gang – gang sempit dan riak air kali yang keruh, Yayah Rokayah melihat MBG sebagai penolong ekonomi keluarga. Ia bukan hanya menyajikan sepiring makanan yang menyehatkan generasi penerus Warakas, tetapi juga menjadi bantalan yang melindungi ekonomi mikro keluarganya dari kerasnya ibu kota. Keringanan Rp 300.000 per bulan itu adalah modal sosial yang memungkinkannya terus menjadi ibu rumah tangga yang survive di Jakarta.