WARAKAS – Untuk mencapai rumah Marniatun (51 tahun) di RT 15 RW 13 Kelurahan Warakas, Jakarta Utara, kami harus menyusuri gang sempit yang hanya cukup dilewati satu motor. Di dalam rumahnya, puluhan orang berkerumun. Mereka tengah mengadakan rapat Kelompok Mekar, program simpan pinjam yang juga diampu negara. Nuansa perjuangan ekonomi terasa kental di setiap sudut gang dan ruangan.
Marniatun dengan penghasilan “kurang lebih 5 juta rupiah per bulan”, sebuah lapisan masyarakat yang terbebani biaya hidup kelas menengah bawah Jakarta. Ia menyambut kami di ruangan sebelah. Perhatiannya langsung tertuju pada anak bungsunya, seorang siswa SMP Al Jihad yang menjadi penerima manfaat Makanan Bergizi Gratis (MBG).
Sebelum ada MBG, anak Marniatun membawa uang harian sebesar Rp 20.000. Angka itu terbagi, Rp 8.000 untuk ongkos mobil pulang-pergi dan Rp 12.000 untuk jajan.
“Dengan adanya MBG, uang jajan berkurang Rp 10.000 rupiah setiap hari,” ungkapnya. Pengurangan Rp 10.000 per hari selama 20 hari sekolah berarti keluarga Marniatun menghemat Rp 200.000 setiap bulan. Jumlah ini mungkin hanya sekitar 4% dari total pendapatan suaminya. Namun, uang ini bisa menjadi dana darurat, tambahan tabungan, atau jaminan biaya transportasi harian anak.
Menu MBG yang bernilai Rp 15.000 per porsi terkadang monoton. “Anak saya tidak semua suka makanan. Sayuran, atau lauknya suka gak suka yang monoton rasanya,” keluh Marniatun. Inti masalahnya terletak pada inkonsistensi selera anak zaman sekarang dengan standar sajian massal pemerintah.
“ayam itu kan dikecapin mulu” katanya dengan penekanan, menyuarakan protes anaknya. “Anak sekarang mah maunya menu kekinian seperti ayam Teriyaki”
Perbedaan antara ayam kecap yang sederhana dan permintaan “ayam teriyaki” adalah cerminan celah antara program gizi dasar dan tuntutan selera modern yang terpapar media sosial. Anak cenderung melewatkan MBG yang membosankan, lalu meminta uang jajan lagi, memicu konflik kecil di rumah.
Namun, di tengah semua keluhan selera dan kebosanan yang ia rasakan, Ibu Marniatun memberikan putusan akhir “Kami lebih paham selera anak, cuman anak suka boring, tidak selera, tetapi MBG tetap membantu ekonomi keluarga”.
Program itu mungkin tidak sepenuhnya memuaskan lidah generasi anak-anak sekarang karena hal baru, tetapi MBG berhasil menopang dapur orang tua.
Bagi Marniatun, Program MBG adalah sebuah penopang ekonomi rumah tangga, karena mengurangi jatah makan anak di rumah dan jajanan yang tidak sehat.