
Film dokumenter Kocika menghidupkan kembali pengetahuan leluhur Cia-Cia, mengajak generasi muda membaca warisan budaya di tengah era digital.
KENDARI – Tepuk tangan panjang menutup pemutaran film dokumenter Kocika di Gedung Kesenian, Taman Budaya, Sulawesi Tenggara, Sabtu malam, 11 Juli 2026. Ratusan penonton yang memenuhi ruang pertunjukan menyaksikan film dan diajak memasuki cara masyarakat Cia-Cia Pulau Buton membaca waktu, alam, dan harapan melalui sebuah pengetahuan yang diwariskan lintas generasi.
Di balik layar, Arif Relano Oba dan Haeruddin menyimpan perjalanan panjang untuk menghadirkan film yang berbicara tentang pengetahuan tradisional.
Usai pemutaran film, dua akademisi Universitas Halu Oleo, Aswan Zanynu dan Irianto Ibrahim, menjadi penanggap. Diskusi kemudian berkembang menjadi perbincangan tentang hubungan antara tradisi, agama, teknologi, dan masa depan kebudayaan.
Baca juga : Fadli Zon Mendorong Kebudayaan Berkelanjutan Sultra dari Museum dan Taman Budaya
Sejarah Pembuatan Film
Bagi Arif Relano Oba, tantangan terbesar sejak awal bukanlah mencari narasumber ataupun lokasi pengambilan gambar. Kesulitan sesungguhnya justru muncul ketika ia harus menerjemahkan Kocika ke dalam bahasa visual.
“Awalnya saya pusing. Kocika adalah pengetahuan tradisional. Bagaimana memvisualkannya? Bagaimana memperlihatkan sesuatu yang hidup dalam keyakinan masyarakat?”
Pertanyaan itu terus menghantuinya selama proses produksi. Sebab, Kocika bukan benda yang dapat direkam kamera, melainkan cara berpikir masyarakat dalam memaknai kehidupan.
Menurut Arif, Film tersebut juga sempat tertunda penyelesaiannya karena berbagai dinamika selama masa produksi. Namun, penundaan itu justru memberi kesempatan untuk memahami Kocika secara lebih mendalam.
Baginya, dokumenter yang merekam fakta, dapat menyampaikan cara pandang sebuah masyarakat terhadap dunianya.
Baca juga : Galeri Seni Liang Kabori Bercerita Akar Budaya Maritim Sulawesi Tenggara
Membaca Awal, Bukan Menentukan Takdir
Dalam tradisi masyarakat Cia-Cia, Kocika sering dipahami sebagai pedoman menentukan waktu yang dianggap baik untuk memulai suatu aktivitas.
“Kalau memulai aktivitas pada hari yang dianggap baik, harapannya hasilnya juga baik. Tetapi hasil akhirnya tetap dikembalikan kepada Yang Maha Kuasa.” Kata Haeruddin
Menurut Haeruddin, Kocika lebih tepat dipahami sebagai bentuk ikhtiar.
“Kocika melihat titik awal sebuah aktivitas. Orang berharap memulai sesuatu dari hari yang baik agar memperoleh hasil yang baik. Tetapi apakah panennya berhasil atau tidak, semuanya tetap berada dalam kuasa Allah.”
Dengan demikian, Kocika bukanlah praktik meramal masa depan. Ia adalah pengetahuan yang lahir dari pengalaman panjang masyarakat membaca siklus alam, musim, dan kehidupan, kemudian diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Baca juga : Filosofi Perahu Boti dan Kapita Lau Buton
Pengetahuan yang Harus Diselamatkan
Bagi Aswan Zanynu, Kocika bukan hanya milik masyarakat Cia-Cia. Tradisi serupa hidup pula dalam masyarakat Bugis dengan nama Kotika.
“Kocika, masyarakat Cia-Cia menyebutnya Kocika, orang Bugis menyebutnya Kotika. Ini adalah warisan pengetahuan yang diwariskan turun-temurun oleh orang tua kita.”
Ia menilai pengetahuan lokal menghadapi ancaman terbesar bukan karena dianggap kuno, melainkan karena tidak lagi diwariskan.
Aswan mengingat pengalaman yang membekas ketika masih menjadi mahasiswa. Seorang perempuan yang menjadi maestro pembangunan rumah adat meninggal dunia tanpa sempat mewariskan seluruh pengetahuannya.
“Saat beliau meninggal, tidak ada seorang pun yang mewarisi ilmunya. Menurut saya, satu pengetahuan ikut hilang.”
Menurut Aswan, pengalaman itu menjadi pengingat bahwa pengetahuan tradisional tidak cukup hanya dipertahankan melalui cerita lisan. Ia harus didokumentasikan dan didigitalisasi agar tetap hidup.
Ia juga melihat manusia modern perlahan kehilangan kemampuan membaca alam.
“Dulu orang tua kita bisa mengetahui cuaca hanya dengan melihat laut atau membaca arah angin. Sekarang anak-anak lebih panik ketika tidak ada sinyal internet.”
Baginya, kemampuan tersebut bukanlah sesuatu yang mistis, melainkan hasil pembelajaran panjang manusia dengan lingkungannya.
Aswan juga mengingatkan bahwa dalam tradisi Islam dikenal anjuran memilih waktu-waktu yang baik untuk melakukan pekerjaan tertentu. Karena itu, Kocika tidak perlu dipertentangkan dengan nilai-nilai agama, melainkan dipahami sebagai bentuk kearifan lokal yang tumbuh dalam kehidupan masyarakat.
Baca juga : Ritual Larung Untuk Menjaga Harmoni Manusia dan Air di Kota
Dari Kearifan Lokal Menuju Teknologi
Irianto Ibrahim melihat Kocika sebagai sistem pengetahuan yang memiliki logika tersendiri.
Ia mengenang cerita Prof. La Niampe yang pernah menanyakan terkait praktik Kotika ketika hendak melakukan perjalanan dari Buton. Menurut Cerita itu, pilihan waktu dipercaya dapat membantu seseorang menghindari risiko berdasarkan pengalaman kolektif yang diwariskan turun-temurun.
Bagi Irianto, pengetahuan seperti itu justru menarik untuk dikaji menggunakan pendekatan modern.
“Hari ini orang belajar coding. Mengapa tidak mencoba membuat aplikasi berbasis Kocika?”
Menurutnya, generasi muda lebih mudah menerima pengetahuan apabila disajikan melalui media yang akrab dengan kehidupan mereka.
Kata dia, digitalisasi bukan berarti menghilangkan tradisi, tetapi menghadirkan cara baru agar tradisi tetap dapat dipelajari.
Baca juga : Bencana Datang Karena Kearifan Lokal Memudar
Tantangan Kocika di Era Modern
Diskusi itu akhirnya bermuara pada satu persoalan besar, bagaimana mempertahankan pengetahuan tradisional di tengah derasnya perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.
Hairuddin meyakini Kocika tidak harus berhadapan dengan modernitas.
“Kocika cantik, pengetahuan modern juga cantik. Yang penting bagaimana Kocika dapat terintegrasi dengan teknologi era sekarang.”
Pandangan itu diamini para penanggap. Mereka menilai digitalisasi, penelitian akademik, hingga film dokumenter merupakan jalan penting untuk menyelamatkan pengetahuan lokal dari kepunahan.
Melalui film Kocika, Arif Relano Oba dan Hairuddin yang mendokumentasikan sebuah tradisi, mengajukan pertanyaan yang jauh lebih penting yakni apakah masyarakat modern masih memberi ruang bagi pengetahuan leluhur untuk hidup, atau justru membiarkannya hilang bersama para maestro yang satu per satu pergi.
Di tengah dunia yang semakin bergantung pada algoritma dan kecerdasan buatan, Kocika mengingatkan bahwa manusia pernah belajar langsung dari langit, laut, musim, dan pengalaman hidup. Pengetahuan itu mungkin lahir pada masa lalu, tetapi tetap relevan untuk masa depan.
1 thought on “Film Kocika Lestarikan Tradisi Cia-Cia”
Comments are closed.