Gatot Strenkali Surabaya
Lingkungan - Seni Budaya

Ritual Larung Untuk Menjaga Harmoni Manusia dan Air di Kota Surabaya

Saat pemerintah kota sering kali memandang pemukiman bantaran sungai sebagai sumber kekumuhan, warga Strenkali Surabaya justru menjawabnya dengan filter air, kompos Takakura, Toga dan ritual adat. Melalui kegiatan Larung Sungai di Kampung Jagir, komunitas ini mempertegas identitas mereka sebagai Penjaga Sungai atau Jogo Kali. Sebuah strategi mengubah nasib dari target penggusuran menjadi pelopor kemandirian ekologi berbasis kearifan lokal di Kota Surabaya.

Di bawah langit biru putih yang menggantung di atas Sungai Jagir, sebuah perahu bambu kecil yang sarat dengan tumpeng nasi, bunga tujuh rupa, dan jajanan pasar berwarna-warni perlahan-lahan dihanyutkan ke arus air yang tenang. Di tepiannya, sekitar 300 warga yang sebagian besar adalah pemuda menundukkan kepala dalam doa yang khusyuk.

Warga melakukan ritual sebelum melepaskan tumpeng dan makanan lainnya di Sungai Strenkali Surabaya. Dok Gatot Strenkali

Pemandangan pada Minggu pagi (14/12/2025) itu tampak seperti sekadar pelestarian budaya. Namun, di balik aroma kemenyan yang bercampur dengan bau air sungai, terdapat sebuah manifestasi perlawanan sipil yang telah berlangsung selama lebih dari dua dekade. Ritual Larung Sungai, sebuah tradisi yang bukan sekadar tentang membuang sesaji, melainkan tentang mempertahankan hak atas tanah dan rumah untuk membuktikan bahwa kemiskinan perkotaan tidak berarti ketidakpedulian lingkungan.

“Larung Sungai adalah cara kami berbicara dengan alam dan kekuasaan,” ujar Gatot, seorang sesepuh berusia lanjut yang rambut peraknya berkilau tertimpa cahaya sore. Sebagai salah satu pendiri Paguyuban Warga Strenkali Surabaya (PWSS), Gatot telah menyaksikan bagaimana sungai ini berubah dari sumber ancaman menjadi sekutu politik.

Istilah strenkali merujuk pada pemukiman yang menempati sempadan atau bantaran sungai. Di banyak kota besar dunia, wilayah ini sering kali dicap sebagai Kampung kumuh atau Kampung liar. Di Surabaya, kota pelabuhan terbesar kedua di Indonesia, label tersebut hampir saja membuat ribuan orang kehilangan rumah mereka.

Ritual Larung yang secara mandiri dibiayai dan dikelola oleh warga sejak tahun 2003, berfungsi sebagai tolak bala, sebuah upaya spiritual untuk menolak marabahaya. Namun, bahaya yang mereka maksud bersifat ganda, bencana alam berupa banjir, dan bencana sosial berupa penggusuran paksa.

“Bagi kami ini adalah ruwatan komunal,” jelas Gatot.

“Kami meminta maaf kepada alam atas segala kerusakan yang mungkin kami timbulkan, dan memohon agar alam membalasnya dengan keselamatan. Ini bukan kepercayaan takhayul, tetapi manifestasi kepasrahan dan rasa syukur.” Ungkap Gatot

Menurut Gatot, Sejarah perjuangan ini dimulai pada tahun 2002. Saat itu, Pemerintah Kota Surabaya berencana melakukan pembersihan besar-besaran di sepanjang bantaran sungai demi alasan keindahan kota dan pencegahan banjir. Warga Strenkali dipandang sebagai penyebab utama pendangkalan dan pencemaran sungai.

Alih-alih menyerah pada buldoser, warga mengorganisir diri. Mereka menyadari bahwa untuk bertahan, mereka harus mengubah citra diri dari perusak menjadi penjaga sungai. Mereka memulai kampanye Jogo Kali menjadikannya sebuah identitas baru.

Langkah mereka jauh melampaui sekadar upacara adat. Kegiatan mengadopsi metode pengomposan Takakura dari Jepang, warga mengolah sampah organik secara mandiri. Sampah anorganik dipilah dan dijual ke pengepul. Sungai yang dulunya dianggap sebagai tempat sampah raksasa, kini menjadi area terlarang bagi limbah domestik.

Mereka melawan narasi bahwa limbah rumah tangga mencemari ekosistem, komunitas ini memasang sistem filter air mandiri. Air sisa cucian yang mengandung deterjen disaring hingga bersih sebelum dilepaskan ke aliran Sungai.

Di gang-gang sempit yang lebar jalannya tak lebih dari dua meter, warga menanam Tanaman Obat Keluarga (TOGA). Mereka menggunakan kompos hasil Takakura untuk menyuburkan lahan, menciptakan paru-paru hijau di tengah kepadatan urban.

Melalui kelompok Tabungan Perempuan, warga mengumpulkan modal secara swadaya. Dana ini tidak hanya digunakan untuk perbaikan rumah, tetapi juga untuk merenovasi infrastruktur kampung agar selaras dengan estetika kota namun tetap fungsional.

Upaya kolektif ini mencapai puncaknya pada tahun 2007. Terkesan oleh kemandirian warga, DPRD Jawa Timur mengesahkan Peraturan Daerah Nomor 9 Tahun 2007. Dokumen hukum ini menjadi preseden penting yang mengizinkan warga tetap tinggal di strenkali dengan status “pemukiman terbatas”, selama mereka terus menjaga kebersihan dan fungsi sungai.

Para Pemuda Kampung Melarung Sesajian di Sungai Surabaya.
Dok Gatot Strenkali

Kemunculan Generasi Baru

Kehadiran ratusan anak muda dalam ritual tahun ini menjadi sinyal bagi keberlangsungan gerakan ini. Di saat banyak anak muda urban mulai meninggalkan tradisi, pemuda Strenkali justru menjadikannya sebagai alat aktivisme.

Acara tidak berhenti setelah sesaji hanyut. Setelah ritual slametan dan pementasan seni kuda lumping, warga berkumpul dalam sebuah Forum Pertemuan Kampung. Di sinilah tradisi spiritual bersinggungan langsung dengan aksi sosial. Dalam forum ini, mereka mendiskusikan masalah sehari-hari.

“Sungai adalah entitas sakral,” kata Gatot. “Ia memberi kehidupan, tapi ia juga bisa mengirim bencana jika kita memperlakukannya sebagai benda mati. Kami melihat bagaimana industri menggunakan sungai untuk kepentingan sepihak, dan kamilah yang pertama kali merasakan dampaknya jika banjir datang.”

Larung Sungai Strenkali adalah sebuah anomali di tengah modernitas Surabaya yang berderap cepat. Di saat kota-kota besar dunia bergulat dengan krisis iklim dan pengungsian urban, Strenkali menawarkan model alternatif dengan pemukiman berbasis komunitas yang menjaga ekosistem melalui kearifan lokal.

Tradisi yang berpindah-pindah lokasinya, mulai dari Jagir hingga Wonokromo memastikan bahwa semangat Jogo kali atau Penjaga Sungai merembes ke Kampung ke Kampung Kota. Sebuah pengingat bahwa harmoni antara manusia dan alam bukanlah sebuah konsep abstrak di buku teks, melainkan praktik harian yang melibatkan doa, kerja keras, dan keberanian politik.

Saat matahari muali naik di ubun – ubun kepala menunjukkan pukul 13.00, di balik jembatan di atas Sungai Jagir, ritual berakhir. Warga membubarkan diri, kembali ke rumah-rumah mereka di sepanjang tepian sungai. Mereka pulang dengan keyakinan bahwa untuk satu tahun ke depan, mereka telah membayar izin kepada alam untuk tetap menetap, tetap menjaga, dan tetap melawan penggusuran paksa.

Di Surabaya, sungai bukan sekadar air yang mengalir. Ia adalah garis pertahanan terakhir bagi sebuah komunitas yang menolak untuk dilupakan oleh sejarah.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *