Pertemuan Multipihak di Kabupaten Bone
Lingkungan

Adaptasi Perubahan Iklim : Perpaduan Tata Kelola Lahan dengan Kesetaraan Gender di Bone

Di tengah ancaman anomali suhu bumi yang menembus +1,42°C menurut Organisasi Meteorologi Dunia (WMO). Kabupaten Bone tidak tinggal diam. Melalui inisiatif Land4Lives atau Lahan untuk Kehidupan, Pemerintah Kabupaten Bone bersama SCF, YLPMI, dan ICRAF meluncurkan strategi Pertanian Cerdas Iklim, sebuah integrasi tata kelola bentang lahan yang dipadukan dengan perspektif responsif gender untuk membentengi ketahanan pangan dari hulu hingga hilir

Di Kabupaten Bone, matahari tidak lagi sekadar terbit sebagai penanda hari. Bagi para petani sebagai salah satu lumbung pangan Sulawesi Selatan ini, cahaya fajar kini membawa kecemasan. Di bawah langit yang tampak tenang, sebuah krisis mengancam tumpuan hidup yang telah bertahan selama berabad-abad yakni tanah dan air.

Laporan terbaru Organisasi Meteorologi Dunia (WMO) mendarat bak lonceng kematian bagi tatanan lama pertanian. Data menunjukkan suhu rata-rata permukaan bumi telah mencapai anomali +1,42°C. Angka yang terlihat dingin di atas kertas statistik ini, di Bone, menjelma menjadi panas yang membakar ladang jagung, merusak kalender tanam tradisional yang diwariskan turun-temurun.

Masyarakat dan pemerintah kini membangun perlawanan sunyi untuk menghadapi ancaman tersebut. Sulawesi Community Foundation SCF dan Yayasan Lembaga Pengkajian Masyarakat Indonesia YLPMI memimpin konsorsium program Land4Lives atau Lahan untuk kehidupan guna merancang ulang masa depan pertanian, mulai dari tingkat birokrasi hingga pelosok desa. Mereka tidak hanya menanam bibit, tetapi membangun benteng pertahanan terakhir untuk adaptasi perubahan iklim.

Perjalanan adaptasi ini bermula dari ruang pertemuan di Hotel Novena, Bone, Selasa (16/12/2025). Di sana, para pejabat daerah, akademisi, dan aktivis lingkungan berkumpul dalam sebuah talkshow interaktif. Agenda utamanya: menggeser cara pandang lama menjadi Pertanian Cerdas Iklim atau Climate-Smart Agriculture.

Suasana Pertemuan multipihak di Hotel Novena Kabupaten Bone (16/02/2025).
Dok Affandy

Dray Vibrianto, Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Bone, menekankan bahwa krisis iklim bukanlah masalah lingkungan yang berdiri sendiri, melainkan masalah ekonomi, sosial, dan politik. Menurutnya, pengelolaan lahan di Bone tidak bisa lagi dilakukan secara sektoral atau terfragmentasi.

“Kita harus melihatnya sebagai satu kesatuan bentang lahan. Apa yang terjadi di hutan pegunungan akan berdampak langsung pada debit air di persawahan, dan akhirnya memengaruhi salinitas di garis pantai,” tegas Dray di hadapan perwakilan petani hulu hingga hilir DAS Walennae.

Dalam diskusi yang dipandu oleh Syamsidar, Kepala Bidang Perumahan dan Kawasan Permukiman (Tarkim), muncul kesadaran kolektif bahwa kebijakan daerah harus mulai membumi. Salah satu poin krusial yang diangkat adalah integrasi perspektif responsif gender.

Selama ini, perempuan sering kali dianggap hanya sebagai pendukung di sektor pertanian. Namun, dalam konteks perubahan iklim, perempuan adalah kelompok yang paling rentan sekaligus aktor paling potensial dalam menjaga ketahanan pangan keluarga.

Strategi Pertanian Cerdas Iklim yang dipaparkan bukan sekadar pendekatan teknis seperti perubahan pola tanam atau pengelolaan air, melainkan sebuah cara berpikir baru dalam mengelola sumber daya secara terhubung dari hulu ke hilir.

Koordinator International Centre for Research in Agroforestry (ICRAF) Provinsi Sulawesi Selatan, Muh. Syahrir, menegaskan bahwa tantangan iklim membutuhkan keterhubungan antara kebijakan daerah, peran desa, dan praktik pertanian di tingkat tapak.

“Kegiatan ini bertujuan membangun kesamaan cara pandang antar pemangku kepentingan dalam mengelola bentang lahan secara kolaboratif,” ujar Syahrir.

Dalam pertemuan itu menghadirkan sejumlah narasumber dan peserta, yakni Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Bone Dray Vibrianto, Kepala Desa Mattampawalie Abdul Makkis, Kepala Bidang Perekonomian Akifah Akhsa dan BAPPEDA Kabupaten Bone, serta tenaga pendidik asal Desa Bulu Sirua, Kecamatan Bonto Cani serta petani dampingan DAS Walennae hingga para kepala desa.

Perjalanan satu jam dari pusat kota membawa kita ke Desa Mattampawalie, Kecamatan Lappariaja, Kabupaten Bone. Di desa ini, proyek Lahan Untuk Kehidupan mewujudkan aktivitas fisik yang mendukung adaptasi krisis iklim Di sini, berdiri sebuah struktur yang terbuat dari plastik dan bambu, Rumah Pembibitan Green House.

Green House di Desa Mattampawalie Kabupaten Bone. Dok Affandy

Bagi mata awam, ini mungkin hanya sekadar bangunan sederhana. Namun, bagi masyarakat Mattampawalie, ini adalah laboratorium hidup. Green house ini berfungsi menciptakan mikroiklim sebagai tempat perlindungan bibit muda dari terpaan suhu ekstrem. Akumulasi gas rumah kaca (CO_2, CH_4, dan N_2O) yang kini menyentuh level tertinggi dalam sejarah menjadi pemicu utama krisis suhu tersebut menurut data WMO

Kebun komunitas mengelilingi rumah pembibitan ini. Dalam praktiknya, warga mengelola kebun tersebut secara kolektif. Inilah wujud nyata dari kedaulatan pangan. Di saat pasar global mulai terombang-ambing akibat gagal panen massal di berbagai belahan dunia, warga desa ini mulai memanen sayuran dan tanaman obat dari lahan mereka sendiri.

Seorang anak muda mempelopori gerakan ini di Desa Mattampawalie. Nur Khazizah sebagai putri Kepala Desa setempat.  Ia memilih untuk tidak meninggalkan tanah kelahirannya untuk menjadi jembatan bagi pengetahuan baru. “Ini bukan sekadar infrastruktur fisik,” ujar Khazizah

“Ini adalah sarana membangun kesadaran bersama. Kami belajar bahwa alam telah berubah, maka cara kami bertani pun harus berubah.” Katanya.

Keterlibatan anak muda seperti Khazizah memberikan secercah harapan di tengah tren penuaan petani di Indonesia. Para pemuda ini memadukan teknologi pertanian sederhana, seperti sistem irigasi hemat air dan pemupukan organik, dengan kearifan lokal untuk menjaga keberlanjutan bentang lahan.

SCF dan YLPMI mengawal program yang berkolaborasi dengan Pemerintah Kabupaten Bone dengan ICRAF World Agroforestry. Program tersebut mendapatkan dukungan pendanaan dari Global Affairs Canada (GAC).

Namun, di balik nama-nama besar organisasi internasional tersebut, inti dari kesuksesannya organisasi penggerak Tingkat bawah. Ini adalah mekanisme diplomasi di tingkat tapak yang memastikan bahwa masyarakat desa bukan sekadar objek program, melainkan subjek yang memberi persetujuan secara sadar.

Pada tahun pertama, 12 desa yang tersebar di tujuh kecamatan di Kabupaten Bone telah menandatangani dokumen kesepakatan ini. Keterlibatan stakeholder mulai dari Babinsa, Bhabinkamtibmas, hingga Balai Penyuluh Pertanian.

Hal ini menunjukkan bahwa pertahanan melawan perubahan iklim memerlukan adaptasi dari semua lini. Hasilnya bukan hanya dokumen di atas meja, melainkan pembentukan kelompok belajar dan kelompok usaha yang akan menjadi motor penggerak ekonomi desa di tengah krisis.

Data BMKG yang mengutip temuan WMO semakin menegaskan pentingnya langkah adaptasi perubahan iklim di Bone. Tahun 2025 bukan sekadar tahun yang panas, melainkan tahun yang memecahkan rekor suhu permukaan laut (SST) tertinggi dan memukul sektor pertanian.

Laju kenaikan permukaan laut ini mencapai hampir dua kali lipat daripada dua dekade sebelumnya. Fenomena ini mengancam lahan pertanian pesisir dengan intrusi air asin. Tanpa intervensi SCF dan YLPMI, lumbung pangan Bone berisiko berubah gagal panen beberapa dekade mendatang.

Melalui laman resmi BMKG, Sekretaris Jenderal WMO Prof. Celeste Saulo menekankan bahwa kenaikan suhu global sekecil apa pun membahayakan jutaan nyawa. “Setiap tahun yang melampaui ambang +1,5°C akan memberikan dampak sosial ekonomi yang besar dan mempercepat kerusakan lingkungan yang tidak dapat dipulihkan,” ujarnya.

Krisis iklim sering kali bersifat tidak adil. Masyarakat marginal dan kelompok perempuan di pelosok Bone yang paling sedikit menyumbang emisi gas rumah kaca, justru menjadi pihak yang paling pertama dan paling berat menanggung dampaknya. Program Land4Lives di Bone mencoba menutup celah ketimpangan tersebut.

Dengan memberikan akses pada pengetahuan, teknologi adaptif, dan penguatan ekonomi melalui kelompok usaha, SCF dan YLPMI sedang membangun sekoci bagi mereka yang rentan. Mereka membuktikan bahwa adaptasi bukan hanya soal bertahan hidup, tapi soal keadilan.

Praktik di Mattampawalie memberikan pesan kuat bahwa adaptasi krisis iklim bermula dari desa. Komunitas yang memiliki kepercayaan dan pengetahuan, maka tidak akan menyerah pada keadaan. Mereka justru aktif menjemput harapan di tengah kenaikan suhu bumi yang kian ekstrem.

Kini, saat matahari terbenam, ia tidak lagi membawa ketakutan akan hari esok yang gersang. Di bawah atap plastik green house dan di dalam ruang-ruang rapat kebijakan, Bone sedang menulis ulang narasinya sendiri sebagai sebuah narasi tentang ketangguhan, kolaborasi, dan kemanusiaan di tengah perubahan iklim mengancam sektor pangan dunia.

Kontributor Affandy

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *