
Fadli Zon bersama Andi Sumangerukka mengunjungi rock art berusia 67.800 tahun di Liang Kabori, Muna, yang mengubah sejarah peradaban manusia
MUNA — Jalan menuju Gua Prasejarah Metanduno tidak dibuat untuk orang yang terburu-buru. Tebing kapur menjulang, udara lembap menggantung di sela pepohonan, sementara langkah demi langkah membawa rombongan memasuki ruang sunyi yang telah bertahan puluhan ribu tahun.
Sabtu sore, 11 Juli 2026, Menteri Kebudayaan Fadli Zon berjalan perlahan menyusuri lorong batu itu. Di sampingnya, Gubernur Sulawesi Tenggara Andi Sumangerukka mengikuti sambil sesekali memandang dinding gua yang dipenuhi lukisan cadas berwarna merah kecokelatan.
Kunjungan dalam rangka Festival Liang Kabori IV, merupakan perjalanan yang seperti memasuki ruang waktu, tempat manusia purba meninggalkan jejak yang kini diyakini sebagai salah satu temuan arkeologi paling penting di dunia.
“Saya baru sekali ini datang di Muna ini,” kata Fadli Zon sesaat sebelum memasuki kawasan situs prasejarah.
Baca juga : Galeri Seni Liang Kabori Bercerita Akar Budaya Maritim Sulawesi Tenggara
Ia mengaku selama ini hanya mendengar nama Liang Kabori. Namun baru kali itu ia menyaksikan sendiri bentangan lukisan batu yang belakangan mengubah cara ilmuwan memandang sejarah manusia.
Hasil penelitian itu kolaborasi para arkeolog dari BRIN, Griffith University Australia, Balai Pelestarian Kebudayaan, perguruan tinggi Universitas Hasanuddin dan Universitas Haluoleo Kendari. Penelitian tersebut menyebut kawasan Liang Kabori dan Metanduno menyimpan lukisan cadas yang diperkirakan menjadi salah satu rock art tertua di dunia.
Di hadapan gambar-gambar babi rusa, cap tangan, hingga bentuk-bentuk geometris yang masih melekat di dinding batu, Fadli Zon menghentikan langkahnya.
“Lukisan cadas atau rock art yang tertua di dunia, ini adalah satu kekayaan budaya yang harus kita jaga,” ujar Fadli Zon.
Ia menunjuk beberapa bagian dinding gua.
Menurutnya, lukisan-lukisan di balik pigmen merah kecoklatan yang masih bertahan setelah puluhan ribu tahun, tersimpan ekspresi budaya manusia masa lampau.
“Ini lukisan gua yang banyak sekali memperlihatkan ekspresi-ekspresi budaya. Mungkin waktu itu bagian dari ritual atau seremoni, dengan usia yang berbeda-beda, mulai 10 ribu tahun, 40 ribu tahun hingga sekitar 67.800 tahun yang lalu. Temuan itu, penting bagi Indonesia”.
Ia percaya penelitian tersebut dapat menggeser cara dunia membaca perjalanan manusia.
“Temuan ini berpotensi mengubah teori migrasi manusia yang selama ini berpusat pada Out of Africa. Temuan ini bisa mengubah teori-teori tentang asal-usul peradaban. Apakah mereka yang mempengaruhi kita, atau justru kita yang mempengaruhi dunia luar.”
Kalimat itu menggema di dalam ruang batu yang sunyi.
Bagi para arkeolog, pernyataan tersebut memang masih menjadi hipotesis ilmiah yang membutuhkan penelitian lanjutan. Namun bagi pemerintah, temuan itu membuka peluang baru bagi Indonesia untuk menjadi salah satu pusat kajian arkeologi dunia.
“Ini menjadi subyek penelitian-penelitian berikutnya,” ujar Fadli Zon.
Baca juga : Fadli Zon Mendorong Kebudayaan Berkelanjutan Sultra dari Museum dan Taman Budaya
Namun, bagi Menteri Kebudayaan, pekerjaan tidak berhenti pada publikasi ilmiah.
Menurutnya, situs purba hanya akan menjadi tumpukan batu apabila gagal dijaga dan dikenalkan kepada masyarakat.
Karena itu pemerintah berkomitmen membangun ekosistem kebudayaan yang lebih utuh di Sulawesi Tenggara.
“Warisan budaya bernilai tinggi ini tidak berhenti pada penemuan semata. Situs ini harus dilindungi, dipromosikan, dan dimanfaatkan untuk mendorong pengembangan ekonomi berbasis budaya bagi masyarakat sekitar Liang Kabori.”
Komitmen itu akan diwujudkan melalui pembangunan infrastruktur pendukung pariwisata sejarah, pusat informasi, hingga penguatan museum di Kendari maupun Kabupaten Muna.
“Saya yakin dengan infrastruktur dan ekosistem yang baik, akan semakin banyak orang datang ke Muna untuk melihat bukti perjalanan panjang peradaban manusia ini.”
Tak hanya itu.
Ia juga menyatakan siap mendukung Festival Liang Kabori agar berkembang menjadi agenda budaya bertaraf internasional.
Festival, menurutnya, dapat menjadi jembatan antara ilmu pengetahuan, pelestarian budaya, dan pertumbuhan ekonomi masyarakat.
Baca juga : Filosofi Perahu Boti dan Kapita Lau Buton
Bagi Gubernur Sulawesi Tenggara Andi Sumangerukka, kunjungan Menteri Kebudayaan memiliki arti daripada sekadar agenda pemerintahan.
Ia melihatnya sebagai pengakuan bahwa Sulawesi Tenggara menyimpan warisan budaya yang bernilai global.
“Kawasan Liang Kabori menyimpan jejak peradaban yang membuktikan Muna memiliki warisan budaya yang bernilai dunia.”
Menurut Andi, gua-gua prasejarah di kawasan itu merupakan aset nasional yang harus dijaga bersama.
“Warisan ini tidak hanya penting bagi daerah, tetapi memiliki arti strategis bagi bangsa. Karena itu pelestarian sejarah membutuhkan sinergi antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, akademisi, media, dan generasi muda agar nilai sejarahnya tetap terjaga.”
Pemerintah Provinsi Sulawesi Tenggara akan menjadikan Festival Liang Kabori sebagai penggerak ekonomi berbasis kebudayaan.
Harapannya, Liang Kabori tidak hanya dikenal sebagai destinasi wisata Kabupaten Muna.
“Kita berharap destinasi Liang Kabori menjadi ikon pariwisata Sulawesi Tenggara yang mampu bersaing di tingkat nasional bahkan internasional serta memberikan dampak terhadap kesejahteraan masyarakat.”
Di dalam Gua Metanduno, waktu seolah berhenti.
Cap-cap tangan manusia purba masih menempel pada dinding batu, seakan menyapa generasi yang datang puluhan ribu tahun kemudian.
Di luar gua, Festival Liang Kabori menghadirkan tarian, musik, dan kehidupan masyarakat yang terus bergerak.
Di antara dua dunia itu, masa lalu dan masa depan, terselip harapan baru bahwa Muna tidak lagi hanya dikenal sebagai sebuah pulau di tenggara Sulawesi, melainkan sebagai salah satu titik penting dalam peta awal peradaban manusia.
Jika penelitian terus berkembang dan pelestarian berjalan beriringan dengan pembangunan, Liang Kabori mungkin tidak hanya akan dikenang sebagai tempat ditemukannya lukisan cadas tertua di dunia. Ia berpeluang menjadi panggung tempat Indonesia memperkenalkan kembali kisah panjang asal-usul manusia kepada dunia.
Peneliti Griffith University, Australia, yang telah berkontribusi banyak di Kabupaten Muna adalah Adhi Agus Oktaviana, Basran Burhan, dan Adam Brumm. Penelitian mereka dipublikasikan dalam jurnal Nature dengan judul artikel Rock art from at least 67,800 years ago in Sulawesi pada 21 Januari 2026. Temuan ini kemudian menggemparkan para ilmuwan karena mengungkap keberadaan lukisan cadas atau rock art tertua di dunia.
1 thought on “Fadli Zon Menyusuri Rock Art Tertua Dunia”
Comments are closed.