
49 tahun diteliti, gua prasejarah Pulau Muna mencatat sejarah dunia setelah Nature menetapkan lukisan cadas berusia 67.800 tahun
MUNA – Pengakuan dunia terhadap lukisan cadas atau rock art Pulau Muna melalui publikasi di jurnal Nature pada 21 Januari 2026 bukanlah sebuah penemuan yang muncul secara tiba-tiba. Di balik capaian itu, tersimpan perjalanan penelitian hampir setengah abad yang melibatkan puluhan akademisi, dosen, mahasiswa, hingga masyarakat lokal yang sejak awal mengetahui keberadaan gua-gua bergambar tersebut.
“Gua ini tidak ditemukan oleh orang asing seperti dalam film Indiana Jones,” ujar Ajuk Wakalele, Salah satu anggota tim yang menjaga Benda Cagar Budaya (BCB) di Pulau Muna, yang kami temui pada Festival Liangkabori, Sabtu (12/7/2026).
Menurutnya, masyarakat di sekitar kawasan karst telah lama mengenal gua-gua itu. Mereka mengetahui adanya gambar-gambar di dinding batu, meski belum memahami nilai ilmiah yang tersimpan di baliknya. Informasi dari masyarakat inilah yang kemudian sampai kepada Pusat Penelitian Purbakala dan Peninggalan Nasional di Jakarta, membuka babak baru penelitian arkeologi di Pulau Muna.
1977: Kosasih Membuka Peta Arkeologi Muna
Tonggak penelitian modern dimulai pada 1977 ketika arkeolog Kosasih bersama tim dari Pusat Penelitian Purbakala dan Peninggalan Nasional melakukan survei awal.
Penelitian dilakukan setelah adanya laporan petugas Direktorat Sejarah dan Purbakala mengenai keberadaan gua-gua bergambar di Kabupaten Buton, yang saat itu masih mencakup wilayah Pulau Muna.
Tim mendatangi sejumlah situs penting, antara lain yakni Gua Metanduno, Liang Kabori, Ceruk La Sabo, Tangga Ara.
Survei tersebut menjadi dokumentasi ilmiah pertama mengenai keberadaan lukisan cadas di Pulau Muna.
1984: Penelitian Diperluas ke Situs Baru
Tujuh tahun kemudian, 1984, Kosasih kembali bersama tim untuk memperluas cakupan penelitian.
Tidak hanya meninjau ulang lokasi yang telah ditemukan sebelumnya, mereka juga mengidentifikasi situs-situs baru seperti Gua La Kalombu, Gua Toko, Gua Wa Bose, Ceruk La Nsaropa, Ida Malanga.
Penelitian ini memperlihatkan bahwa kawasan karst Muna memiliki sebaran gambar cadas yang jauh lebih luas daripada dugaan awal.
1986: Ekskavasi Pertama
Penelitian memasuki tahap yang lebih mendalam pada 1986. Untuk pertama kalinya dilakukan ekskavasi arkeologi di Gua Metanduno dan Liang Kabori.
Tujuannya tidak hanya mendokumentasikan gambar cadas, tetapi juga mencari tinggalan budaya berupa artefak dan data nonartefaktual yang dapat menjelaskan siapa pembuat lukisan tersebut serta bagaimana kehidupan mereka.
Hasil penelitian ini kemudian dipublikasikan oleh Kosasih (1991) dan menjadi salah satu rujukan utama penelitian lukisan cadas atau rock art di Muna.
1986–1995: Mahasiswa Mulai Meneliti Muna
Setelah fondasi diletakkan oleh peneliti pemerintah, penelitian mulai diteruskan oleh kalangan akademik.
Mahasiswa Universitas Gadjah Mada menjadi salah satu kelompok pertama yang menjadikan Muna sebagai lokasi penelitian tugas akhir, di antaranya Nuryanto (1986) dan Haryanto (1995)
Karya-karya mereka memperluas pembahasan mengenai karakteristik gambar cadas dan lingkungan karst Pulau Muna.
1990-an: Universitas Hasanuddin Melanjutkan Estafet
Memasuki dekade 1990-an, mahasiswa Jurusan Arkeologi Universitas Hasanuddin mulai aktif melakukan penelitian.
Beberapa penelitian tercatat pada tahun 1990, 1991, 2008, 2009
Menurut Ajuk Wakalele, fase ini menjadi penting karena penelitian mulai dilakukan oleh akademisi dari kawasan timur Indonesia yang lebih dekat dengan konteks budaya lokal.
1997–2010: Balai Arkeologi Makassar Intensif Meneliti
Penelitian kemudian dilanjutkan oleh Balai Arkeologi (BALAR) Makassar.
Lembaga ini melakukan berbagai survei dan penelitian pada tahun 1997, 2005, 2007, 2008, 2009, 2010
Penelitian tersebut memperkaya dokumentasi mengenai sebaran situs serta karakteristik lukisan cadas di Pulau Muna.

2000–2018: Kajian Semakin Beragam
Memasuki era 2000-an, penelitian berkembang ke berbagai tema.
Beberapa nama peneliti yang banyak dikutip dalam kajian gambar cadas Muna antara lain:
Bernadeta (2006, 2011) mengenai kawasan karst Liang Kabori, Hakim (2006). Adhi Agus Oktaviana (2009, 2016, 2018, 2021) yang meneliti gambar cadas Metanduno dan Liang Kabori serta kemudian menjadi salah satu peneliti utama seni cadas Indonesia. Susilowati (2000). Awe (2000). Somba (2011). Tang dan Nur (2019). Alamsyah (2014). Iandra (2015). Rahmat (2015). Kharti (2019). Rasyidu dan Suseno (2020) dari Universitas Halu Oleo.
Pada periode ini, penelitian tidak lagi hanya membahas usia gambar, tetapi juga aspek simbolik, sosial, lingkungan, teknologi, hingga konservasi.
Universitas Indonesia Mengungkap Jejak Maritim
Kontribusi penting datang dari Prof. R. Cecep Eka Permana bersama Ingrid H.E. Pojoh (2018).
Dalam publikasi “Perahu Muna: Jejak Budaya Maritim dari Gambar Cadas hingga Tradisi Sekarang”, mereka menunjukkan bahwa gambar-gambar perahu di Metanduno, Liang Kabori, Pominsa, Gofigofina, Maarewu
merepresentasikan tradisi maritim yang masih memiliki kesinambungan dengan budaya masyarakat Muna hingga sekarang.
Analisis tersebut mengidentifikasi dua tipe perahu, yaitu perahu dengan layar dan tanpa layar, yang memperlihatkan bahwa aktivitas pelayaran telah menjadi bagian penting kehidupan masyarakat prasejarah Pulau Muna.
2016–2017: BPCB Pendataan dan Pelestarian
Pada 2016–2017, Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Makassar atau sekarang disebut Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) kembali mengintensifkan seperti pendataan, pemetaan, dokumentasi, serta upaya pelestarian situs-situs gua prasejarah di Pulau Muna.
Langkah ini menjadi fondasi penting bagi penelitian lanjutan yang menggunakan teknologi dokumentasi digital dan penanggalan modern.
2023: Potensi Rock Art Liang Kabori
Perjalanan penelitian tersebut dirangkum secara komprehensif dalam tesis Amaluddin Sope Mahirta di Universitas Gadjah Mada pada 2023 berjudul Potensi Arkeologis : Gambar Cadas Kompleks Gua Prasejarah Liang Kabori Sulawesi Tenggara.
Penelitian itu mencatat bahwa kompleks Liang Kabori memiliki kekayaan gambar cadas dari berbagai warna, bentuk, dan tema.
Selain itu, penelitian tersebut juga melaporkan lima situs gambar cadas baru, sehingga jumlah keseluruhan situs bergambar di Pulau Muna meningkat menjadi 43 situs.
Kajian tersebut membuka peluang penelitian baru mengenai sistem kepercayaan, kehidupan sosial, penggunaan perahu, makna cap tangan, representasi hewan, hingga simbol layang-layang dalam kehidupan masyarakat prasejarah Muna.
Baca juga
Fadli Zon Menyusuri Rock Art Tertua Dunia
Fadli Zon Mendorong Kebudayaan Berkelanjutan Sultra dari Museum dan Taman Budaya
Galeri Seni Liang Kabori Bercerita Akar Budaya Maritim Sulawesi Tenggara
Bagaimana Jurnal Nature Menetapkan Rock Art Berusia 67.800 Tahun ?
Selama puluhan tahun, gua-gua prasejarah di Pulau Muna hanya dikenal oleh masyarakat setempat, para arkeolog Indonesia, dan segelintir peneliti mancanegara. Namun pada 21 Januari 2026, nama Pulau Muna resmi masuk dalam peta besar sejarah peradaban manusia setelah jurnal ilmiah bergengsi Nature menerbitkan hasil penelitian berjudul “Rock art from at least 67,800 years ago in Sulawesi.“
Publikasi tersebut menjadi tonggak penting karena menyajikan bukti ilmiah bahwa salah satu lukisan cadas di Liang Metanduno, Pulau Muna, Sulawesi Tenggara, memiliki usia minimum 67.800 tahun. Angka ini menjadikannya sebagai lukisan cadas tertua yang diketahui di dunia berdasarkan bukti penanggalan yang tersedia saat ini, melampaui rekor sebelumnya dari Spanyol.
Kolaborasi Indonesia–Australia
Penelitian ini merupakan hasil kolaborasi internasional yang melibatkan puluhan peneliti dari Indonesia dan Australia.
Nama-nama penulis yang tercantum dalam publikasi tersebut antara lain Adhi Agus Oktaviana, Renaud Joannes-Boyau, Budianto Hakim, Basran Burhan, Ratno Sardi, Shinatria Adhityatama, Andrea Jalandoni, Hamrullah, Iwan Sumantri, M. Tang, Rustan Lebe, Iswadi, Imran Ilyas, Abdullah Abbas, Andi Jusdi, Dewangga Eka Mahardian, Fadhlan S. Intan, Sofwan Noerwidi, Marlon N.R. Ririmasse, Irfan Mahmud, Akin Duli, Laode M. Aksa, M. Nur, Nasrullah Aziz, serta Maxime Aubert.
Riset tersebut melibatkan sejumlah institusi, di antaranya Griffith University, Griffith Centre for Social and Cultural Research, serta Southern Cross University di Australia, bersama berbagai lembaga penelitian dan Universitas Hasanuddin.
Penentuan Umur Lukisan
Salah satu pertanyaan yang sering muncul adalah bagaimana ilmuwan dapat mengetahui usia sebuah lukisan yang dibuat puluhan ribu tahun lalu.
Jawabannya bukan dengan mengukur usia pigmen cat, melainkan dengan meneliti lapisan kalsit yang secara alami terbentuk di atas permukaan lukisan selama ribuan tahun.
Tim peneliti menggunakan metode Laser Ablation Uranium-Series (LA-U-series), yaitu teknik penanggalan isotop uranium dengan bantuan sinar laser berpresisi tinggi.
Laser digunakan untuk mengambil sampel mikroskopis dari lapisan kalsit yang menutupi gambar telapak tangan di Liang Metanduno. Sampel tersebut kemudian dianalisis berdasarkan peluruhan isotop uranium menjadi thorium untuk mengetahui kapan lapisan mineral itu mulai terbentuk.
Karena lapisan kalsit berada di atas lukisan, maka usia lapisan tersebut menunjukkan bahwa gambar di bawahnya setidaknya sudah ada sebelum mineral itu terbentuk. Dengan kata lain, hasil penelitian memberikan batas usia minimum bagi lukisan tersebut.
Analisis dilakukan dengan teknologi berpresisi tinggi
Teknologi Laser Ablation Uranium-Series merupakan salah satu metode paling mutakhir dalam penelitian seni cadas dunia.
Peralatan analisis isotop berpresisi tinggi seperti Laser Ablation Inductively Coupled Plasma Mass Spectrometry (LA-ICP-MS) umumnya berada di laboratorium geokimia canggih. Dalam penelitian ini, analisis laboratorium dilakukan melalui fasilitas penelitian internasional di Australia yang memiliki infrastruktur untuk melakukan pengukuran isotop uranium-thorium dengan tingkat presisi sangat tinggi.
Pendekatan tersebut memungkinkan para peneliti memperoleh penanggalan yang jauh lebih akurat dibandingkan metode konvensional.
Hasil yang Mengubah Sejarah Seni Prasejarah
Hasil analisis menunjukkan bahwa lapisan kalsit yang menutupi stensil tangan di Liang Metanduno memiliki umur 71,6 ± 3,8 ribu tahun.
Dari hasil tersebut, para peneliti menetapkan bahwa lukisan telapak tangan di bawahnya memiliki usia minimum sekitar 67.800 tahun.
Temuan ini membawa konsekuensi besar dalam dunia sains.
Sebelumnya, rekor usia minimum seni cadas tertua di dunia dipegang oleh La Pasiega di Spanyol dengan usia sekitar 66.700 tahun, yang dikaitkan dengan kelompok Neanderthal.
Sementara itu, seni cadas tertua yang sebelumnya diketahui dari kawasan Maros–Pangkep, Sulawesi Selatan, memiliki usia minimum sekitar 51.200 tahun.
Dengan demikian, hasil penelitian di Pulau Muna melampaui rekor Spanyol sekitar 1.100 tahun dan lebih tua sekitar 16.600 tahun dibandingkan usia minimum seni cadas yang telah dipublikasikan dari Maros–Pangkep.
Mengubah Cara Pandang tentang Migrasi Manusia
Penelitian ini tidak hanya berbicara mengenai umur sebuah gambar.
Para peneliti menilai keberadaan seni cadas yang sangat tua di Sulawesi Tenggara memberikan petunjuk baru mengenai perjalanan manusia modern menuju Sahul, daratan purba yang kini menjadi Australia dan Papua.
Keberadaan lukisan berusia sedikitnya 67.800 tahun menunjukkan bahwa manusia telah hadir dan menghasilkan ekspresi simbolik di wilayah Wallacea pada masa yang sangat awal. Temuan ini memperkuat dugaan bahwa migrasi menuju Sahul sekitar 65.000 tahun lalu melibatkan perjalanan laut melalui gugusan pulau-pulau Indonesia, termasuk kawasan antara Kalimantan, Sulawesi, dan Papua.
Buah dari Penelitian Hampir Lima Dekade
Publikasi di Nature bukanlah hasil penelitian yang berlangsung dalam hitungan bulan.
Penelitian mengenai gua-gua prasejarah Pulau Muna telah dimulai sejak 1977, ketika peneliti bernama Kosasih bersama Pusat Penelitian Purbakala dan Peninggalan Nasional melakukan survei pertama.
Selama hampir lima dekade berikutnya, penelitian diteruskan oleh Balai Arkeologi Makassar, Balai Pelestarian Cagar Budaya, Universitas Hasanuddin, Universitas Indonesia, Universitas Gadjah Mada, Universitas Halu Oleo, serta berbagai peneliti Indonesia dan mancanegara.
Kini, setelah perjalanan panjang tersebut, Pulau Muna tidak lagi hanya dikenal sebagai kawasan karst yang menyimpan ratusan gambar cadas. Melalui pembuktian ilmiah yang dipublikasikan di salah satu jurnal paling bergengsi di dunia, Muna telah menempatkan Indonesia di pusat diskusi global mengenai asal-usul seni dan kemampuan seni manusia pada masa prasejarah.