Pangan

Kisah Dapur MBG di Jakarta Utara

JAKARTA UTARA – Dapur itu berdenyut sejak dini hari, menampung 50 pasang tangan yang bergerak cepat di tengah uap nasi dan aroma daging ayam dan sapi. Dapur Makanan Bergizi Gratis (MBG) di Warakas, Jakarta Utara, adalah episentrum kecil, sebuah inkubator harapan yang mengubah nasib para penganggur dan gizi ribuan anak.

Panglimanya adalah Bapak Heri, lelaki yang sebelumnya malang melintang di gelanggang politik relawan, kini mendapati dirinya sibuk mengawasi higienitas air dan memastikan irisan ayam fillet bebas dari cacat. Sejak Januari lalu, ia didapuk Owner untuk memegang kendali dapur. “Fokus saya dua saja, pengiriman harus tepat waktu, dan jangan sampai ada kasus keracunan,” ujarnya datar, namun dengan intonasi yang memegang tanggung jawab besar, saat kami temui di dapur MBG Penjagalan kemarin (01/12/2025).

Bagi Heri, bekerja di MBG adalah urusan dua sisi, dunia dan akhirat. “Sisi sosialnya, ini untuk anak sekolah, balita, dan ibu-ibu,” katanya, menyebutkan bahwa Dapur Warakas menanggung 3.900 penerima manfaat setiap hari, melayani 12 sekolah dan 2 Posyandu, termasuk jatah khusus bagi ibu hamil dan menyusui.

Dari Garam Menuju Daging

Dampak program ini, kata Heri, terhitung sebagai multiplayer effect yang merambat. Bukan hanya penerima manfaat, namun juga para pekerjanya dan penyuplai bahan dapur.

Program ini dirancang sebagai skema padat karya. Hampir semua pekerja di dapur dibayar UMR. Mereka adalah ibu-ibu dan bapak-bapak yang sebelumnya menganggur dan berasal dari kelompok miskin di sekitar Warakas.

“Tadinya, orang kadang sehari-hari tidak makan. Sekarang, sekeluarga bisa makan,” tutur Heri, suaranya sedikit meninggi. “Yang tadinya sehari-hari hanya makan garam, sekarang bisa makan pakai telor. Yang biasanya makan pakai telor, sekarang sesekali pakai daging sapi.”

Kesejahteraan itu membuahkan cerita-cerita kecil. Anak dari seorang pekerja, yang tadinya tak terpikir bisa memiliki gawai, kini bisa memegang handphone. Bahkan, ada yang mampu membelikan kendaraan untuk dipakai anaknya bersekolah.

Rantai Pasok yang Menghidupkan UKM

Efek riak ekonomi tak berhenti di Warakas saja. MBG sengaja menggiatkan ekonomi sekitar dapur melalui rantai pasok.

“Kami ambil telor dari agen sekitar dapur. Sayur, ikan, daging, semua diusahakan dari pemasok lokal,” jelasnya.

Salah satu kisah paling nyata datang dari seorang tukang tempe. Usahanya sempat lesu. Namun, sejak bermitra dengan dapur MBG, permintaannya melonjak drastis. “Usahanya kembali pulih, dan ia bahkan harus mempekerjakan lima orang lagi untuk memenuhi suplai. Ini semua menghidupi keluarganya,” kata Heri. Petani pisang dan petani beras pun merasakan berkah serupa.

Heri percaya bahwa program ini menuntaskan janji gizi, bahkan untuk mereka yang paling miskin. “Anak-anak itu butuh gizi untuk perkembangan otaknya. Kami tidak hanya menyajikan makanan biasa. Anak-anak yang tadinya tidak tahu Kentucky Fried Chicken atau Kitchen Katsu, sekarang bisa merasakan nasi kebuli, burger daging, bahkan buah naga dan jeruk,” ujarnya, sembari menunjukkan video di ponselnya: rekaman anak-anak sekolah yang tampak lahap menikmati menu Dapur Warakas.

Pengawasan dan Harapan

Program ini lanjut Heri, memiliki pengawasan superketat. “Tidak bisa dikorupsi. BPK, KPK, Kejaksaan, Polisi, semua mengawasi. Kalau ketahuan, dapur akan ditutup,” tegasnya, menegaskan bahwa modal pun berasal dari kolaborasi mitra termasuk BUMN.

Namun, kendala tetap ada. Heri berharap agar anggaran per porsi dapat dinaikkan agar kualitasnya bisa lebih maksimal. Mereka ingin selalu menggunakan beras dan ayam premium, memastikan kebersihan air untuk mencuci sayuran, dan mempekerjakan chef profesional.

Di tengah ketidakpastian politik dan pergantian kekuasaan, Heri menyimpan satu harapan besar. “Mudah-mudahan program ini tetap jalan. Kasihan kalau berhenti. Program ini membantu anak-anak yang tidak biasa makan enak, untuk mendapatkan bekal gizi terbaik sejak lahir.”

Pembagian makanan dilakukan setiap pagi, memastikan asupan gizi tiba di tangan penerima manfaat, dari Posyandu hingga gerbang sekolah, sebagai ikhtiar mencerdaskan anak bangsa satu porsi demi satu porsi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *