Masa depan Sungai Walennae kini di tangan petani. Melalui simulasi visual “H2ours” CIFOR–ICRAF (12/12/2025), perwakilan Desa Pallime, Pusungge, dan Laoni Kabupaten Bone melihat dampak setiap keputusan kecil pertanian. Pola tanam dan pengelolaan air adalah pertaruhan besar yang menentukan keberlanjutan ekologis sungai Walennae.
Sebuah replika tanaman di atas meja menjadi cermin nasib Daerah Aliran Sungai (DAS) Walennae. Di tangan puluhan petani, setiap keputusan menanam, mengelola air, dan merawat tanah, bukanlah sekadar rutinitas bercocok tanam, melainkan sebuah pertaruhan masa depan ekologi desa dan sungai mereka.
Suasana di lokasi pelatihan CIFOR Center for International Forestry Research atau Pusat Penelitian Kehutanan Internasional dan ICRAF International Center for Tropical Agroforestry, jauh dari kesan ceramah kaku kemarin (12/12/2025). Peserta yang terlibat berasal dari kelompok tani Desa Pallime, Pusungge, dan Laoni, Kabupaten Bone, Provinsi Sulawesi Selatan.
Kawasan hilir DAS Walennae yang krusial sedang tenggelam dalam simulasi bertajuk H2ours. Tema itu terdiri dari dua kata H20 atau pengelolaan air, dan Hours artinya waktu, yang berorientasi skala waktu yang berdampak jangka Panjang.
Metode visual interaktif ini secara gamblang memperlihatkan bagaimana aktivitas pertanian, ketersediaan air, kualitas tanah, dan keberlanjutan ekologis bentang lahan saling berhubungan secara kompleks.
“Permainan ini bikin kita sadar bahwa satu keputusan kecil dalam bertani bisa berdampak besar. Pola tanam, cara mengelola air, sampai bagaimana memperlakukan tanah itu saling berhubungan” Ujar Taufik, Seorang petani dari Desa Pusungge.
Taufik menegaskan, “Salah langkah Hulu, Tengah dan Hilir dalam memilih dan menentukan tanaman di daerah aliran sungai , seluruh desa di Kabupaten Bone turut menanggung dampaknya”. Ia mengakui permainan ini telah membuka cara pandang baru dalam membaca risiko ekologis jangka panjang.
Pelatihan ini merupakan bagian dari upaya CIFOR–ICRAF dalam memperkuat kapasitas dan tata kelola lahan berkelanjutan di level sub DAS. Fasilitator mengajak para peserta untuk menganalisis keputusan menentukan tanaman dapat menghasilkan dampak lingkungan seperti banjir.
Erni, fasilitator ICRAF Sulawesi Selatan, memimpin fasilitasi, didampingi seluruh pendamping lapangan. Peserta mengerjakan pre-test untuk mengukur pemahaman awal mengenai konsep pengelolaan bentang lahan, lalu mereka memasuki inti permainan. Mereka menutup sesi dengan post-test untuk mengukur peningkatan pemahaman.
Erni, fasilitator Kegiatan, berharap metode interaktif ini tidak berhenti sebagai wacana di ruang pelatihan. “Metode ini harus betul-betul ditransformasikan menjadi praktik di tingkat desa” harapnya.
Ia menambahkan, “Semakin banyak petani memahami keterkaitan lahan, air, dan ekologi, semakin besar peluang kita menjaga Sungai Walennae tetap produktif subur dan lestari.”.
Pengetahuan baru ini membekali petani untuk mengambil keputusan bijak. Keputusan yang selaras dengan upaya menjaga lingkungan hidup. Petani Bone diharapkan menjadi garda terdepan menjaga keberlangsungan pertanian dengan adanya Kontrol bersama petani hulu, tengah dan hilir.
Sehari sebelumnya, telah diselenggarakan pertemuan Tim Inti Tapak Percontohan Pertanian Cerdas Iklim (TP2CI) yang dihadiri oleh Pengurus ICRAF Bogor, Yulia Saputri, Koordinator ICRAF Provinsi Sulawesi Selatan, Muh. Syahrir; serta perwakilan dari Bappeda dan Dinas Perikanan Kabupaten Bone.
Dalam sambutannya, Muh. Syahrir menekankan peran ICRAF dalam memberikan pemahaman terkait perubahan iklim dan penerapan sistem Pertanian Cerdas. Ia menegaskan bahwa TP2CI sangat penting membantu petani dan petambak melalui pendekatan tambak belajar serta budidaya perikanan, yang menjadi fokus utama di Sub Lanskap 73.
“ICRAF ingin memastikan petani memahami dampak perubahan iklim dan menerapkan praktik pertanian cerdas iklim. Di Cenrana, kami menyediakan tiga tapak percontohan sebagai pusat pembelajaran bagi masyarakat,” jelasnya.
Sementara itu, Yulia Saputri memperkenalkan Portal TP2CI, sebuah platform yang memuat perkembangan seluruh tapak, mendokumentasikan kisah sukses petani, serta mengidentifikasi hambatan dalam pengelolaan TP2CI.
“Kami berharap Portal TP2CI menjadi pusat informasi yang mencakup data tapak, cerita keberhasilan petani, hingga tantangan di lapangan,” ungkapnya.
Menanggapi hal tersebut, Indra, anggota tim inti TP2CI Sub Lanskap 73, mengungkapkan bahwa penggunaan canvas model sangat membantu dalam menyusun konsep dan ide pengelolaan TP2CI. Hal ini dinilai penting terutama dalam memperkuat edukasi kepada petani dan petambak di Bone maupun daerah lain.
Kontributor Affandy
