KOLAKA – Sebuah video amatir yang memperlihatkan puluhan orang membawa senjata tajam menyerang seorang warga yang juga memegang senjata tajam viral di media sosial Facebook. Peristiwa tersebut disebut terjadi di Desa Sopura, Kecamatan Pomalaa, Kabupaten Kolaka, tepatnya di kawasan PT Indonesia Pomalaa Industry Park (IPIP).
Video yang beredar luas itu memicu beragam reaksi dari warganet. Di grup Facebook “Kita Putra-Putri Konsel”, unggahan tersebut tercatat memperoleh sekitar 1.100 tanda suka, 255 komentar, dan 32 kali dibagikan.
Sejumlah netizen menyoroti dugaan keterlibatan kelompok organisasi masyarakat (ormas) serta munculnya persaingan kepentingan di kawasan pertambangan.
Akun AttractivePhoenix6062 meminta aparat penegak hukum bertindak tegas terhadap pihak-pihak yang dianggap meresahkan masyarakat.
Sementara itu, akun Yemi Yemitewanda menilai sosok Tamalaki dalam tradisi Tolaki sejatinya berperan sebagai penjaga keamanan dan pendamai dalam menyelesaikan persoalan di tengah masyarakat, bukan sebaliknya.
Komentar lain datang dari Ismail Casannov yang menilai persoalan tersebut sudah mengarah pada perbedaan kepentingan yang berpotensi menggeser nilai-nilai adat masyarakat Tolaki. Ia berharap organisasi adat dan kemasyarakatan dapat memperkuat pemahaman kader mengenai supremasi hukum adat serta pemeliharaan nilai budaya lokal.
Senada dengan itu, akun Ilyas Fikal menyoroti dampak kehadiran industri pertambangan yang dinilai memicu persaingan antar kelompok masyarakat lokal. Ia mengajak seluruh pihak untuk menahan diri dan menyelesaikan persoalan melalui dialog serta musyawarah.
Berdasarkan berbagai tanggapan yang berkembang di media sosial, konflik tersebut diduga berkaitan dengan perebutan ruang, pengaruh, atau kepentingan di sekitar kawasan pertambangan PT IPIP.
Kapolres Kolaka, AKBP Yudha Widyatama Nugraha, membenarkan adanya insiden tersebut. Menurutnya, keributan terjadi di kawasan Proyek Strategis Nasional (PSN) PT IPIP.
“Benar ada kejadian pemalangan di kawasan IPIP dan sempat terjadi ketegangan antara dua kelompok masyarakat. Namun, situasi saat ini sudah kondusif,” kata Yudha, Selasa (23/6).
Yudha menjelaskan, ketegangan bermula saat sekelompok masyarakat melakukan pemalangan terhadap aktivitas PT IPIP. Aksi tersebut kemudian memicu reaksi dari kelompok lain yang merasa dirugikan sehingga terjadi keributan di lokasi.
“Adanya pihak yang merasa dirugikan akibat adanya pemalangan tersebut,” ujarnya.
Berdasarkan informasi yang berkembang di masyarakat dan berbagai komentar yang beredar di media sosial, konflik tersebut diduga berkaitan dengan perebutan ruang, kepentingan, maupun pengaruh di sekitar kawasan pertambangan dan industri PT IPIP. Namun, motif pasti dari konflik tersebut masih dalam penyelidikan aparat kepolisian.
Sejumlah netizen menilai peristiwa tersebut mencerminkan meningkatnya persaingan kepentingan di kawasan industri yang berkembang pesat. Ada pula yang mengingatkan pentingnya menjaga nilai-nilai adat Tolaki dan menyelesaikan persoalan melalui musyawarah.
Untuk mencegah konflik susulan, Polres Kolaka telah meningkatkan pengamanan di sekitar kawasan PT IPIP. Aparat juga melakukan patroli rutin dan menyiapkan rapat koordinasi bersama Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) Kabupaten Kolaka guna mencari solusi atas persoalan yang terjadi.
“Upaya mitigasi sudah dilakukan, baik dari kepolisian maupun instansi terkait dengan melaksanakan pengamanan dan patroli di sekitar lokasi. Selain itu, direncanakan rapat koordinasi Forkopimda Kabupaten Kolaka untuk mencari solusi,” jelas Yudha.
Terkait dugaan penggunaan senjata tajam yang terlihat dalam video viral tersebut, pihak kepolisian masih melakukan penyelidikan. Sejumlah pihak yang diduga terlibat telah dipanggil untuk dimintai keterangan.
“Saat ini masih dalam proses penyelidikan dan para pihak sudah diundang untuk diambil keterangan,” pungkasnya.
Hingga berita ini diterbitkan, situasi di kawasan PT IPIP Pomalaa dilaporkan dalam keadaan aman dan kondusif, sementara proses penyelidikan masih terus berlangsung.
