Jakarta – Gubernur Aceh, Muzakir Manaf atau yang akrab disapa Mualem, mengungkapkan duka mendalam atas bencana banjir bandang dan longsor yang melanda 18 kabupaten/kota di Aceh. Dalam wawancara eksklusif di program Mata Najwa, Minggu (7/12/2025), Mualem bahkan tak kuasa menahan tangis saat berbicara mengenai status bencana dan tantangan di lapangan.
Bencana yang dipicu oleh hujan deras selama delapan hari delapan malam ini disebut Mualem menimbulkan dampak kerusakan yang jauh lebih kompleks dan parah dibandingkan peristiwa Tsunami 2004.
Mualem menjelaskan, kehancuran yang ditimbulkan banjir kali ini bersifat menyeluruh. “Dulu masa tsunami, 20 menit habis, rumah kayu masih ada yang tinggal. Ini tidak, rumah kayu tidak ada sedikitpun tinggal dan bercampur sama lumpur,” ujar Mualem.
Banjir ini juga membawa karakteristik air yang mengerikan seperti berwarna hitam, berbau, menyebabkan gatal dan perih. Lebih lanjut, Mualem melihat fenomena terkait korban jiwa, di mana mayat korban ditemukan tetapi tidak bisa dikuburkan karena banjir.
“Selepas banjir dapat mayat tidak bisa ditanam, tetapi diikat di kayu karena tidak ada tempat untuk tanam mayat. Sampai 2-3 hari baru dapat ditanam. Itupun harus di bukit-bukit,” tuturnya dengan nada berat.
Keanehan juga terlihat pada fauna, di mana banyak binatang yang seharusnya tidak mati seperti ular dan biawak ditemukan mati, padahal itu habitatnya di air.
Saat memasuki hari ke-10 pasca-bencana, kondisi Aceh masih jauh dari pemulihan total. Aceh Tamiang dikonfirmasi sebagai wilayah yang paling parah terdampak, disusul Aceh Utara, Aceh Timur, Takengon, dan Bireuen.
Meskipun infrastruktur utama, termasuk jembatan kecil dan panjang, sudah berangsur pulih dan membuka akses antar kecamatan, ketersediaan air bersih masih belum berfungsi total.
Bantuan logistik ke daerah terisolir seperti Aceh Timur diklaim belum terjamah satu persen. Begitupun di Pinding, Takengon, dan Aceh Tenggara sangat terhambat karena putusnya jalur darat.
Pemerintah Aceh harus mengandalkan helikopter yang baru beroperasi dua hari setelah permintaan kepada Presiden serta akses laut berupa feri dan kapal boat untuk menyalurkan sembako dan obat-obatan.
Selain meminta langsung bantuan obat-obatan dan tenaga medis kepada negara sahabat Malaysia dan China, ia juga menyampaikan kritikan keras terhadap Bupati.
“Saya garisbawahi bupati cengeng seperti itu. Memimpin tidak fokus dan tidak bertanggung jawab,” kritik Mualem, menuding adanya bupati yang lari pergi karaoke di tengah situasi genting.
Puncak emosi Mualem terjadi ketika membahas status bencana yang bukan berstatus nasional. Dengan suara terseduh-seduh, Mualem menitikkan air mata.
“Saya pada prinsipnya hanya berusaha dan berdoa. Semoga bantuan-bantuan dapat berada di Aceh, dapat menolong orang-orang di Aceh seperti itu,” ucapnya. menekankan pentingnya berserah diri kepada Tuhan, seraya berterima kasih kepada Kawan-kawan dari luar yang justru fokus membantu Aceh.
Mualem berharap pertemuan dengan Presiden RI menunjukkan respons positif dan dapat segera ditindaklanjuti dengan rencana rehabilitasi dan rekonstruksi infrastruktur serta rumah masyarakat.
“Kebutuhan paling mendesak saat ini adalah obat-obatan, perlengkapan dapur, perlengkapan ibadah, pakaian, selimut, dan gas elpiji 3 kg” tutup Mualem
Data terbaru dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) hingga malam ini, menunjukkan dampak yang sangat parah akibat bencana banjir dan longsor di Provinsi Aceh. Total korban meninggal dunia telah mencapai 391 orang, dengan 31 orang masih dinyatakan hilang, dan 4.300 orang tercatat mengalami luka-luka. Selain korban jiwa, kerugian infrastruktur juga masif sebanyak 138.500 unit rumah masyarakat dilaporkan mengalami kerusakan.
