Dato Sri Tahir memastikan peresmian Museum Budaya Sains dan Teknologi Bengawan Solo akan dilakukan Maret 2026. Proyek senilai Rp600 miliar yang diinisiasi sejak era Gibran Rakabuming Raka ini mengusung konsep museum terintegrasi baru di Indonesia, memadukan budaya, sains, dan teknologi. Namun, museum ini menghadapi tantangan besar akibat penurunan drastis minat kunjungan ke museum, seiring beralihnya fokus generasi muda ke gawai dan Kecerdasan Buatan (AI)
Dato Sri Tahir mengunjungi kediaman Presiden Joko Widodo kemarin (11/12/2025). Setelah keluar dari kediaman Jokowi, wartawan mencegat dan menanyai Tahir mengenai perkembangan Museum Begawan Solo. Tahir mengonfirmasi bahwa mereka merencanakan peresmian museum tersebut pada Maret 2026
Pembangunan Museum Begawan Solo oleh Dato Sri Tahir ini memiliki kaitan erat dengan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka. Proyek ini bermula pada Januari 2023, saat Gibran masih menjabat sebagai Walikota Solo.
Kerja sama ini melibatkan Tahir Foundation dengan Pemerintah Kota Solo. Dalam kesepakatan tersebut, Pemerintah Kota Solo menyediakan lahan seluas 5 hektar untuk lokasi museum. Sementara itu, Tahir Foundation menyediakan dana pembangunan sebesar Rp600 miliar.
Saat menjabat sebagai Walikota Solo, Gibran Rakabuming Raka menyampaikan hal penting saat acara peletakan batu pertama.
Gibran menyatakan: “Saya ingin konsepnya tetap sederhana (simple) namun harus mempertahankan branding Solo, serupa dengan Solo Technopark dan Solo Safari. Jadi, identitas Solo harus tercermin kuat.”
Oleh karena usulan tersebut, Pemerintah Kota Solo kemudian menamai resmi museum itu sebagai Museum Budaya Sains dan Teknologi Bengawan Solo.
Museum ini mengintegrasikan berbagai bidang ilmu pengetahuan terdiri dari museum budaya, ilmu pengetahuan alam, ilmu pengetahuan dasar, museum teknologi, serta museum astronomi dan Antariksa serta pertanian model permakultur yang berkelanjutan.
Selain itu, museum juga menyediakan pusat penelitian, ruang perkuliahan, area pementasan seni, dan fasilitas diskusi ilmiah yang terbuka untuk umum.
Museum Budaya Sains dan Teknologi Bengawan Solo mengusung model museum terintegrasi, sebuah konsep yang tergolong baru di Indonesia. Berbagai negara maju telah menerapkan model serupa jauh sebelum Indonesia, misalnya Cité des Sciences et de l’Industrie di Prancis dan Museum Sains dan Industri (MSI) di Chicago.
Proyek ini menjadi terobosan baru yang meningkatkan tingkat pengetahuan masyarakat. Tujuannya adalah membangun Indonesia yang berkelanjutan melalui pembelajaran sejarah masa lalu untuk masa depan.
Namun upaya pembangunan museum menghadapi tantangan besar akibat penurunan drastis jumlah pengunjung museum dalam beberapa tahun terakhir.
Data BPS Jakarta menunjukkan, pengunjung museum di Jakarta pada tahun 2021 hanya 119.657 orang, anjlok tajam dari 11.092.256 orang yang tercatat pada tahun 2019
Situasi serupa terulang di Jawa Tengah, di mana total pengunjung museum pada periode sebelumnya mencapai 259.115 orang, namun turun tajam menjadi hanya 1.144 orang pada tahun 2022.
Era digital salah satu penyebab melemahnya minat kunjungan ke museum. Saat ini, generasi muda lebih terfokus pada gawai, internet, dan kecerdasan buatan (AI). Kondisi ini mengakibatkan berkurangnya ketertarikan mereka untuk belajar melalui media tradisional, seperti museum ilmu pengetahuan. Oleh karena itu, Museum Budaya, Sains dan Teknologi Bengawan Solo harus mengatasi fenomena ini sebagai tantangan di masa depan.
