
Jaringan Febrie Adriansyah seri kedua menyoroti kendali Nurman Herin, Don Ritto dan Ferry Yanto Hongkiriwang dengan sejumlah perusahaan dalam satu klaster korporasi
Seri kedua memperlihatkan lapisan jaringan kerja kerah putih yang lebih kompleks. Diagram yang beredar di ruang publik mulai mengarah pada sejumlah individu yang digambarkan sebagai penghubung antarklaster perusahaan.
Dalam jaringan kerja Febrie Adriansyah, tiga nama yang paling menonjol adalah Nurman Herin, Don Ritto dan Ferry Yanto Hongkiriwang. Dalam visualisasi tersebut, keduanya ditempatkan sebagai simpul yang menghubungkan berbagai perusahaan, individu, dan struktur kepengurusan korporasi.
Dalam teori Social Network Analysis (SNA), posisi seperti itu dikenal sebagai broker node. Broker bukan selalu pemilik perusahaan, melainkan pihak yang menjadi penghubung antarkelompok sehingga arus informasi, hubungan bisnis, atau struktur organisasi tampak terpusat pada beberapa simpul tertentu.
Pertama, Jaringan yang menghubungkan Irwan Yulisma dan Rinaldi dengan PT Panutran Pratama Adiwibawa. Hubungan tersebut digambarkan berada dalam jalur yang sama dengan Don Ritto dan Ferry Yanto Hongkiriwang.
Kedua, nama Agustinus Antonius muncul di Perusahaan Sebamban Mega Energy dan Declan Informatika. Kedua perusahaan itu ditempatkan dalam klaster yang sama dengan Don Ritto sehingga membentuk pola hubungan yang saling beririsan.
Klaster Tambang dan Investasi
Ketiga, lapisan berikutnya memperlihatkan hubungan sejumlah perusahaan yang bergerak di sektor pertambangan, logistik, dan investasi.
Dalam diagram, PT Nukkuwatu Lintas Nusantara disebut memiliki nilai aset sekitar Rp190 miliar dan dikaitkan dengan Purnawan Hardiayanto serta Helmi. Pada klaster yang sama juga muncul nama Jeffri Ardiatma, Rangga Cipta, dan Ryanda Rachmadi, yang dikaitkan melalui jabatan direktur maupun komisaris pada beberapa perusahaan.
Perusahaan-perusahaan lainnya yang tercantum meliputi PT Andika Yoga Pratama, PT Perintis Bara Bersaudara, PT Saudagar Nikel Nusantara, dan PT Raja Kutai Baru Makmur. Pola yang terlihat menunjukkan penggunaan individu yang sama pada lebih dari satu perusahaan.
Keempat, Diagram juga memasukkan PT Nagan Cipta Nusantara, yang disebut memiliki nilai investasi sekitar Rp1,3 triliun dan dikaitkan dengan kepemilikan fasilitas pelabuhan di Aceh Barat.
Pada lapisan kelima, penyusun diagram menghubungkan Jeffri Ardiatma dan Rangga Cipta dengan PT Blok Bulungan Bara Utara. Diagram juga klaim mengenai adanya aliran dana sebesar Rp19 triliun kepada Nurman Herin.
Klaster Gontran Cherrier Senopati
Nama Nurman Herin kembali muncul pada klaster lain yang menghubungkannya dengan Gontran Cherrier Indonesia bersama Agus Handojo dan Ferry Yanto Hongkiriwang.
Diagram juga menampilkan Gontran Cherrier Senopati sebagai perusahaan yang dikaitkan dengan sejumlah individu, antara lain Pradana Adi Wilianto, Sudandi Sumantri, Robert, Robby Roberthus Kurnia, Robin Lo, Mei Ik (Luje Dewi Kusuma Istri Tan Kian), Tjoe Ivana Chandra, Ixiell Nimeiry Nursalim, dan Christian Halim.
Selain individu-individu tersebut, PT Dharma Dua Saudara juga dicantumkan sebagai bagian dari struktur yang digambarkan dalam diagram sebagai pemilik saham di Gontran Cherrier Senopati. Perusahaan itu disebut memiliki hubungan dengan Gontran Cherrier Senopati melalui jajaran direksi yang mencantumkan William Ong, Erix, dan Suyanti sebagai komisaris.