
Puncak Wakila menjadi saksi lahirnya kepengurusan baru HMI Cabang Raha yang berkomitmen memperkuat kaderisasi dan pengabdian kepada masyarakat.
MUNA — Matahari belum sepenuhnya tinggi ketika puluhan mahasiswa mulai memenuhi kawasan wisata Puncak Wakila, pada Minggu pagi, 12 Juli 2026. Di antara hamparan perbukitan yang membentang hijau, jas-jas hijau Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) tampak kontras dengan kabut tipis yang masih menggantung di lereng gunung di Desa Kondongia, Kecamatan Lohia, Kabupaten Muna.
Tak ada gedung megah. Tak ada panggung yang berlebihan.
Hanya angin pegunungan, rerumputan yang bergoyang pelan, dan deretan kursi yang menghadap ke sebuah panggung sederhana. Di tempat itulah kepengurusan baru HMI Cabang Raha periode 2026–2027 dilantik.
Pilihan lokasi itu bukan kebetulan.
Selama bertahun-tahun, pelantikan organisasi mahasiswa lazim digelar di aula kampus atau gedung pemerintahan. Kali ini, panitia memilih membawa prosesi ke ruang terbuka. Dari puncak bukit, bentang Kabupaten Muna terlihat tanpa sekat, seolah mengingatkan bahwa persoalan daerah tidak pernah sesempit ruang rapat.
Ketika pembacaan surat keputusan dimulai, suasana berubah hening. Satu per satu nama pengurus dipanggil. Mereka berdiri tegak, mengucapkan ikrar, lalu menerima amanah yang akan mereka jalankan selama satu periode ke depan.
Di antara tamu yang hadir tampak Bupati Muna, Drs. H. Bachrun, M.Si., para pengurus Majelis Daerah Korps Alumni HMI (MD KAHMI) Muna dan Muna Barat, Presidium FORHATI, para alumni, serta organisasi mahasiswa lain seperti GMNI dan PMII.
Tema yang diangkat tahun ini, “Optimalisasi Peran HMI sebagai Organisasi Perjuangan dalam Merespons Problematika Kedaerahan,” menjadi penanda arah yang ingin ditempuh organisasi. Bukan sekadar mempertahankan tradisi kaderisasi, tetapi juga menempatkan diri sebagai bagian dari percakapan tentang masa depan Muna.

Ketua Umum HMI Cabang Raha yang baru, L.M. Idul Rahim, mengatakan organisasi tidak boleh berhenti menjadi ruang diskusi. Menurutnya, HMI harus hadir ketika masyarakat menghadapi persoalan, mulai dari pendidikan, ekonomi, hingga tata kelola pemerintahan.
“Tema yang kita usung hari ini bukan sekadar slogan, tetapi merupakan komitmen bersama. HMI harus mampu menjadi organisasi perjuangan yang hadir di tengah masyarakat, responsif terhadap berbagai persoalan daerah, serta mampu menawarkan solusi melalui kekuatan intelektual dan nilai-nilai keislaman,” katanya.
Pernyataan itu mencerminkan tantangan yang dihadapi banyak organisasi mahasiswa saat ini. Di tengah derasnya arus media sosial dan perubahan cara generasi muda berorganisasi, menjaga relevansi menjadi pekerjaan yang tidak ringan. Organisasi tidak lagi cukup dikenal karena sejarahnya, ia dituntut menunjukkan manfaat nyata di tengah masyarakat.
Bupati Muna, Bachrun melihat tantangan itu sebagai peluang.
Dalam sambutannya, ia mengajak HMI menjadi mitra pemerintah, bukan hanya sebagai penyampai kritik, tetapi juga penghasil gagasan yang dapat diterjemahkan menjadi kebijakan.
“Pemerintah Kabupaten Muna membuka ruang kolaborasi dengan seluruh organisasi kepemudaan, termasuk HMI. Kami berharap HMI terus melahirkan kader-kader yang berintegritas, memiliki kapasitas intelektual, serta mampu memberikan kontribusi nyata melalui pemikiran dan aksi yang membangun daerah,” ujarnya.
Ajakan itu memiliki jejak sejarah yang panjang.
Sejak berdiri pada 1947, Himpunan Mahasiswa Islam dikenal sebagai salah satu organisasi mahasiswa tertua di Indonesia. Banyak tokoh nasional, birokrat, akademisi, hingga politisi pernah tumbuh dari ruang-ruang diskusi organisasi ini. Di berbagai daerah, termasuk Muna, HMI masih mempertahankan tradisi kaderisasi yang menjadi identitas utamanya.
Tetapi zaman berubah.
Mahasiswa kini menghadapi persoalan yang berbeda dibanding satu atau dua dekade lalu. Digitalisasi, perubahan ekonomi, isu lingkungan, hingga ketimpangan pembangunan daerah menghadirkan tantangan baru yang membutuhkan cara berpikir yang lebih adaptif.
Barangkali karena itulah pelantikan kali ini memilih berlangsung di atas bukit.
Di Puncak Wakila, alam menjadi metafora. Dari tempat yang lebih tinggi, seseorang dapat melihat lebih jauh, tetapi juga menyadari betapa luas persoalan yang harus dihadapi.
Menjelang sore, prosesi resmi berakhir. Para kader muda berbaur dengan para alumni. Mereka berbincang tentang masa kuliah, pengalaman memimpin organisasi, dan harapan bagi Muna.
Dan seperti banyak organisasi mahasiswa lainnya, ujian sesungguhnya bukanlah bagaimana pelantikan dilaksanakan, melainkan apa yang akan dikerjakan setelah panggung dibongkar dan para peserta kembali ke kehidupan sehari-hari.
Sebab pada akhirnya, sebuah organisasi tidak dikenang karena upacara pelantikannya, tetapi karena jejak yang ditinggalkannya bagi masyarakat yang dilayaninya.