
KENDARI – Angka-angka itu hanya ditulis dengan spidol hitam di atas papan rekapitulasi. Namun, di balik deretan angka tersebut, arah kontestasi pemilihan Rektor Universitas Halu Oleo (UHO) periode 2026–2030 mulai terbaca.
Di urutan paling atas, nama Ida Usman tercatat dengan 15 suara. Tak jauh di bawahnya, Takdir Saili mengumpulkan 11 suara, disusul Herman dengan 10 suara. Tiga nama itu untuk sementara menjadi poros utama dalam bursa kepemimpinan kampus terbesar di Sulawesi Tenggara.
Selisih suara yang tipis membuat persaingan belum benar-benar mengerucut. Tidak ada kandidat yang tampil dominan. Sebaliknya, hasil penyaringan justru memperlihatkan bahwa dukungan masih tersebar dan ruang untuk bergeser masih terbuka lebar.
Di luar tiga besar, Edy Karno memperoleh 5 suara, Ruslin meraih 3 suara, La Ode Santiaji Bande memperoleh 2 suara, sedangkan Yusuf Sabilu mendapatkan 1 suara. Forum juga mencatat 1 suara abstain, sehingga total suara yang masuk berjumlah 48. Adapun Baru Sadarun, Ma’ruf Kasim, dan Muluddin belum memperoleh dukungan pada tahap ini.
Namun, dalam tradisi pemilihan rektor perguruan tinggi negeri, papan rekapitulasi bukanlah garis akhir. Ia hanya potret sesaat tentang ke mana arah dukungan mulai bergerak.
Keunggulan Ida Usman belum dapat dibaca sebagai tiket menuju kursi rektor. Demikian pula Takdir Saili dan Herman. Ketiganya masih harus melewati tahapan yang lebih menentukan, ketika dukungan tidak lagi hanya dibangun melalui angka, tetapi juga melalui gagasan, rekam jejak, serta kemampuan meyakinkan para pemegang hak suara.
Tahapan berikutnya adalah sidang pemilihan rektor oleh Senat Universitas. Pada fase ini, para calon akan memaparkan visi, misi, dan arah pengembangan Universitas Halu Oleo untuk empat tahun mendatang. Gagasan tentang mutu akademik, produktivitas riset, tata kelola universitas, kerja sama internasional, hingga transformasi digital akan menjadi bagian dari penilaian.
Berbeda dengan penyaringan awal, penentuan rektor di perguruan tinggi negeri tidak hanya bergantung pada suara anggota senat. Sesuai ketentuan yang berlaku, Menteri Pendidikan Tinggi atau kuasa yang ditunjuk juga memiliki hak suara dalam proses pemilihan, dengan komposisi sebagaimana diatur dalam peraturan perundang-undangan dan Statuta Universitas Halu Oleo. Mekanisme itu membuat hasil penyaringan belum tentu berbanding lurus dengan hasil akhir pemilihan.
Pengalaman di berbagai perguruan tinggi menunjukkan bahwa peta dukungan dapat berubah menjelang pemungutan suara penentu terutama Suara Menteri Pendidikan. Selain itu, Komunikasi antaranggota senat, penyampaian visi-misi, rekam jejak kepemimpinan, hingga kemampuan membangun kepercayaan sering kali menjadi faktor yang menggeser arah pilihan.
Karena itu, kontestasi Rektor UHO sesungguhnya baru memasuki babak pembuka. Angka-angka yang kini terpampang di papan rekapitulasi belum lebih dari penanda awal sebuah perlombaan yang masih menyisakan sejumlah tikungan.