Lukisan Perahu di Liang Kabori Muna
MUNA – Festival Liangkobori 2026 bukan sekadar perayaan budaya tahunan. Tahun ini, festival yang akan berlangsung pada 11–14 Juli 2026 di Desa Liangkobori, Kecamatan Lohia, Kabupaten Muna, menjadi momentum penting untuk memperkenalkan salah satu warisan peradaban manusia tertua di dunia kepada publik nasional maupun internasional.
Momentum tersebut dijadwalkan dihadiri langsung oleh Menteri Kebudayaan Fadli Zon dan Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Arif Satria. Kehadiran keduanya diharapkan menjadi penanda meningkatnya perhatian pemerintah terhadap pelestarian kawasan prasejarah Liangkobori.
Bupati Muna, Bachrun Labuta, membenarkan rencana kunjungan tersebut. Menurutnya, Pemerintah Kabupaten Muna tengah mempersiapkan penyambutan dan rangkaian kegiatan yang akan menampilkan kekayaan budaya serta situs prasejarah yang dimiliki daerah itu.
“Kami akan melakukan berbagai persiapan. Menteri Kebudayaan dan Kepala BRIN dijadwalkan hadir pada Festival Liangkobori tahun ini,” ujar Bachrun yang dikutip dari media telisik.id.
Selama berada di Liangkobori, kedua pejabat negara tersebut akan menyaksikan atraksi budaya khas Muna, mulai dari Ewa Wuna, penerbangan layang-layang tradisional Kolope, ritual Popanga, atraksi Tunuha, pertunjukan gambus, hingga pameran kuliner tradisional. Mereka juga dijadwalkan memberikan ceramah ilmiah mengenai kebudayaan dan riset.
Gua Metanduno, lokasi ditemukannya lukisan cap tangan purba yang diperkirakan berusia sekitar 67.800 tahun, mengubah cara dunia memandang sejarah perkembangan seni dan peradaban manusia.
Mengubah Sejarah Peradaban Dunia
Awal 2026, perhatian dunia tertuju ke Pulau Muna setelah hasil penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal ilmiah Nature mengungkap usia lukisan cap tangan di Gua Metanduno mencapai sekitar 67.800 tahun.
Temuan itu kemudian menjadi sorotan media internasional, termasuk BBC Indonesia, yang mengangkatnya dalam laporan berjudul “Lukisan gua tertua di dunia ditemukan di Sulawesi: Cap tangan ‘serupa cakar’ berusia 67.800 tahun.”
Bagi kalangan arkeolog, lukisan gua bukan sekadar gambar pada dinding batu. Seni cadas merupakan bukti bahwa manusia telah memiliki kemampuan berpikir simbolis, berimajinasi, dan menyampaikan pesan melalui gambar. Kemampuan inilah yang menjadi fondasi berkembangnya bahasa, kebudayaan, kepercayaan, hingga ilmu pengetahuan.
Profesor Adam Brumm dari Griffith University, salah satu peneliti dalam proyek tersebut, menyebut seni cadas sebagai sesuatu yang sangat khas manusia.
Menurutnya, gambar dan ukiran pada dinding gua menunjukkan bahwa manusia tidak hanya hidup mengikuti alam, tetapi telah mampu merepresentasikan dunia melalui simbol, cerita, dan identitas bersama.
Mematahkan Teori Eropa-Sentris
Selama puluhan tahun, banyak ilmuwan meyakini bahwa revolusi kreativitas manusia pertama kali berkembang di Eropa sekitar 40.000 tahun lalu. Pandangan itu muncul karena banyaknya penemuan lukisan gua, ukiran batu, hingga perhiasan prasejarah di Prancis dan Spanyol.
Namun berbagai penemuan baru, termasuk di Indonesia dan Afrika Selatan, perlahan menggugurkan teori tersebut.
Adam Brumm mengungkapkan bahwa ketika dirinya masih menjadi mahasiswa pada pertengahan 1990-an, teori yang diajarkan masih menyebut Eropa sebagai pusat lahirnya kreativitas manusia modern.
Kini, berbagai bukti menunjukkan bahwa perilaku manusia modern telah berkembang di banyak wilayah, termasuk Indonesia. Bahkan, seni naratif yang ditemukan di Sulawesi menjadi salah satu bukti penting bahwa sejarah perkembangan manusia tidak hanya berpusat di Eropa.
Basran Burhan, arkeolog asal Universitas Hasanuddin yang tergabung dalam tim kolaborasi Indonesia–Australia bersama Griffith University, menjelaskan penelitian di kawasan tersebut berlangsung hampir sepuluh tahun.
Tim peneliti memetakan sejumlah gambar cadas di dalam gua. Mereka menemukan bahwa lukisan yang berada di dekat mulut gua memiliki usia sekitar 30.000–50.000 tahun. Sementara cap tangan yang berada jauh di bagian dalam gua ternyata jauh lebih tua, diperkirakan mencapai sekitar 67.800 tahun.
Perbedaan usia itu menunjukkan bahwa kawasan Liangkobori telah digunakan manusia selama puluhan ribu tahun sebagai ruang aktivitas sekaligus media ekspresi budaya.
Festival Liangkobori 2026 menjadi panggung seni dan budaya masyarakat Muna, dan ruang edukasi mengenai warisan arkeologi dunia.
Berbagai kegiatan akan digelar selama empat hari, di antaranya festival layang-layang tradisional, tari kreasi, lagu daerah, permainan tradisional, pidato bahasa Muna, lomba fotografi, fashion show, trail running, ranking satu, jogging, rock climbing, hingga gowes.
1 thought on “Warisan Dunia Muna Ditampilkan di Festival Liangkobori 2026”
Comments are closed.