MUNA, SULTRA – Kekecewaan terhadap infrastruktur yang rusak parah memicu aksi protes keras dari masyarakat di Kabupaten Muna, Sulawesi Tenggara (Sultra).
Sekelompok pemuda bersama warga nekat memblokade jalur perbatasan antara Desa Mantobua dan Desa Korihi, Kecamatan Lohia, pada Rabu (27/5/2026) sekitar pukul 15.30 WITA.
Aksi ini dipicu oleh kondisi jalan poros yang bertahun-tahun diabaikan dan tidak kunjung diperbaiki oleh Pemerintah Daerah (Pemda) Kabupaten Muna. Padahal, jalur tersebut merupakan urat nadi perekonomian dan akses mobilitas vital bagi warga setempat.
Bakar Ban Bekas dan Bentangkan Spanduk Protes
Berdasarkan dokumentasi yang beredar di media sosial, aksi pemblokiran jalan di Muna ini berpusat tepat di bawah gapura perbatasan bertuliskan “Selamat Datang di Desa Korihi, Kec. Lohia, Kab. Muna”.
Massa aksi meluapkan kekesalan dengan membakar sejumlah ban bekas di tengah jalan yang berlubang. Asap hitam pekat yang membumbung tinggi seketika melumpuhkan lalu lintas, membuat kendaraan roda dua maupun roda empat sama sekali tidak dapat melintas.
Selain membakar ban, massa juga membentangkan spanduk kain putih berisi kritik menohok yang ditujukan langsung kepada kepala daerah. Spanduk tersebut bertuliskan: “BUPATI MUNA TIDAK TAU CARA MEMBANGUN MUNA”.
Akses Utama Menuju Destinasi Wisata Napabale dan Meleura
Kondisi jalan di lokasi demonstrasi memang terlihat sangat memprihatinkan. Lapisan aspalnya telah terkelupas habis, menyisakan bebatuan tajam serta kubangan tanah yang dalam. Saat intensitas hujan tinggi, jalur ini berubah menjadi kubangan lumpur yang membahayakan pengendara.
Ironisnya, jalan rusak di Muna ini merupakan akses utama menuju sejumlah destinasi wisata unggulan daerah, seperti Permandian Napabale dan Pantai Meleura.
“Kami sudah berulang kali menyampaikan tuntutan perbaikan jalan ini setiap tahun. Namun, sampai hari ini belum ada realisasi pengaspalan atau perbaikan permanen dari pemerintah daerah,” ujar salah satu warga di lokasi aksi.
Selain memukul mundur sektor pariwisata, kerusakan jalan ini juga mempersulit para petani lokal saat hendak mengangkut hasil kebun ke pusat kota, serta mengancam keselamatan anak-anak sekolah yang melintas setiap hari.
Aksi blokade jalan di Kecamatan Lohia ini menjadi puncak dari rasa frustrasi warga yang merasa aspirasinya terus diabaikan. Masyarakat mendesak Pemda Kabupaten Muna untuk segera turun ke lapangan dan memberikan solusi nyata berupa pengaspalan permanen demi keselamatan dan kesejahteraan warga.
