
Ekspansi pertambangan nikel tidak hanya mengubah bentang alam Sulawesi Tenggara, tetapi juga memutus mata rantai tradisi pembuatan kapal kayu. Hutan yang selama ratusan tahun menjadi habitat kayu hitam, bahan utama pembuat lunas kapal tradisional kian menyusut, sementara pohon yang tersisa membutuhkan puluhan hingga lebih dari seratus tahun untuk kembali mencapai ukuran yang layak ditebang.
Bagi masyarakat pesisir Sulawesi Tenggara, sebuah kapal tidak lahir di galangan. Ia justru bermula dari hutan.
Perjalanannya dimulai ketika sebatang pohon tua dipilih karena kekuatan dan kekerasan seratnya. Selama puluhan bahkan lebih dari seratus tahun, pohon itu tumbuh di kawasan hutan Pulau Buton, Buton Utara, Muna, Toli-Toli, hingga Kabaena. Setelah ditebang, batangnya diangkut melintasi laut menuju pesisir. Di tangan para tukang kapal, kayu itu menjelma menjadi lunas, tulang punggung yang menentukan kekuatan dan umur sebuah kapal. Masyarakat mengenalnya sebagai kayu hitam atau kayu besi.
Di Desa Bahari, Kabupaten Buton Selatan, tradisi membangun kapal lambo dan phinisi masih bertahan.
Di bawah rindangnya pohon kelapa yang menghadap Laut Banda, suara palu bersahut-sahutan memecah keheningan. Balok-balok kayu berukuran besar tersusun di sepanjang pantai. Sebagiannya mulai menyerupai rangka kapal, sementara sisanya masih menunggu giliran untuk dipahat.
Saharuddin, salah seorang tukang kapal, mengatakan bahwa pemilihan kayu merupakan tahap paling menentukan dalam proses pembangunan kapal.
“Kayu dasar memakai kayu hitam dari Ereke. Harganya kurang lebih Rp10 juta sampai Rp30 juta. Kayu untuk lunas harus keras.” katanya
Lunas menjadi bagian pertama yang dipasang. Seluruh beban kapal bertumpu pada balok kayu tersebut. Karena terus-menerus bersentuhan dengan air laut, hanya kayu dengan serat rapat, keras, dan tahan lapuk yang dianggap layak digunakan.
Menurut Saharuddin, sebagian besar kayu hitam berasal dari kawasan Ereke di Kabupaten Buton Utara. Selain itu, pasokan juga datang dari Raha, Kabupaten Muna, dan Pulau Kabaena, Kabupaten Bombana.
“Kayu hitam dari Ereke, dari Raha, Kabaena. Tapi sekarang orang sini lebih banyak mengambil dari Ereke atau Raha. Kalau dari Kabaena sudah jarang.”
Di kalangan pembuat kapal, bobot kayu hitam menjadi penanda kualitas.
“Kayu hitam atau kayu besi itu bisa diangkat kalau sekitar tiga puluh orang.”
Bagi mereka, berat bukanlah kelemahan, melainkan bukti kerapatan serat kayu. Semakin padat seratnya, semakin tinggi ketahanannya terhadap air laut, rayap, dan perubahan cuaca. Karena itulah kayu hitam selama puluhan tahun menjadi pilihan utama sebagai bahan lunas kapal tradisional di Sulawesi Tenggara.
Namun, sebuah kapal tidak dibangun hanya dari satu jenis kayu.
Bagian lambung atau mbui menggunakan kayu wolang, sedangkan kayu jati dipasang sebagai penguat pada beberapa titik konstruksi. Setelah seluruh rangka selesai dirakit, sambungan antarpapan ditutup menggunakan campuran lem dan acian agar kedap air.
“Kayunya habis dilem dicampur dengan acian begitu.”
Selanjutnya, bagian kapal yang selalu terendam air laut dilapisi cat merah yang dicampur lem sebagai pelindung tambahan.
“Kalau yang terendam air pakai cat merah dicampur lem. Kalau bagian atas cukup dicat biasa.”
Teknik sederhana itu diwariskan secara turun-temurun dan tetap dipertahankan hingga kini.
Galangan Kapal Mengikuti Jejak Hutan
Jejak kayu hitam ternyata turut menentukan perpindahan pusat-pusat pembangunan kapal.
Di Kecamatan Kolono, Kabupaten Konawe Selatan, sejumlah pembuat kapal mengaku memindahkan aktivitas mereka dari Bulukumba, Sulawesi Selatan. Alasannya bukan semata-mata karena kedekatan dengan laut, melainkan untuk mempermudah akses memperoleh kayu besi dari Buton Utara.
“Lokasi pembuatan kapal sengaja dipindahkan dari Bulukumba ke Kolono karena lebih mudah mendapatkan kayu besi dari Buton Utara,” ujar salah seorang pembuat kapal.
Secara geografis, Kolono dinilai lebih strategis karena dekat dengan jalur distribusi kayu dari Ereke. Kedekatan itu menekan biaya angkut, sementara harga kayu merupakan komponen terbesar dalam pembangunan kapal kayu.
Fenomena tersebut menunjukkan bahwa perkembangan galangan kapal tradisional tidak hanya mengikuti jalur perdagangan laut, tetapi juga mengikuti lokasi sumber bahan baku terbaik.
Ketika Kayu Hitam dihabisi di Kawasan Tambang Nikel

Jejak kayu hitam kemudian membawa perjalanan ini ke Kabupaten Konawe Utara.
Di Kecamatan Lembo, sejumlah galangan kapal tradisional terus membangun kapal-kapal kayu yang dipasarkan ke berbagai daerah di Indonesia. Para pembuat kapal menyebut sebagian bahan baku mereka berasal dari kawasan Langgikima, Marombo, Boedingi, Kecamatan Lasolo Kepulauan, dan wilayah sekitarnya.
“Kayu-kayu besi didapatkan dari lokasi pertambangan seperti Langgikima, Marombo, Boedingi, Kecamatan Lasolo Kepulauan, dan wilayah sekitarnya.”
Menurut mereka, sebelum kegiatan pertambangan dimulai, perusahaan pemegang Izin Usaha Pertambangan (IUP) pertambangan nikel melakukan pembukaan lahan sehingga pepohonan di dalam kawasan izin ditebang.
“Beberapa lokasi pertambangan yang memiliki IUP otomatis membersihkan lahan. Mayoritas kayu-kayu besi kelas satu kemudian dijual oleh pemilik IUP kepada pembuat kapal.”
Bagi para tukang kapal, kayu-kayu tersebut menjadi salah satu sumber bahan baku yang relatif dekat dengan lokasi galangan. Dari kawasan yang berubah menjadi tambang, sebagian batang kayu memperoleh kehidupan baru sebagai lunas, rangka, dan lambung kapal.
Ketersediaan bahan baku inilah yang, menurut para pembuat kapal, turut mendorong tumbuhnya sejumlah bengkel pembuatan kapal di Konawe Utara.
Pemulihan Kayu Hitam
Jejak kayu hitam yang selama ratusan tahun menghubungkan hutan dengan pesisir kini menghadapi tantangan baru. Persediaan pohon berdiameter besar semakin terbatas, sementara kebutuhan industri kapal kayu tradisional masih terus berlangsung. Di Sulawesi Tenggara, ekspansi pertambangan nikel telah mengubah bentang hutan dalam skala luas melalui pembukaan lahan untuk kegiatan penambangan. Perubahan lanskap tersebut turut mengurangi tegakan kayu keras, termasuk kayu hitam yang selama ini menjadi sumber bahan baku utama pembuatan kapal tradisional.
Kondisi tersebut memunculkan pertanyaan tentang bagaimana keberlanjutan tradisi pembuatan kapal kayu di Sulawesi Tenggara pada masa mendatang.
Tantangan itu tidaklah sederhana. Satu pohon kayu hitam memerlukan waktu puluhan hingga lebih dari seratus tahun untuk mencapai ukuran dan kualitas yang layak digunakan sebagai lunas maupun bagian penting kapal tradisional.