
Dari kawasan miskin Rocafonda, Lamine Yamal tumbuh dalam keterbatasan hingga menjelma menjadi bintang Barcelona dan penakluk dunia.
Matahari musim panas menyinari lapangan beton di Rocafonda, sebuah kawasan padat di pinggiran Mataró, sekitar 32 kilometer dari Barcelona. Tidak ada rumput hijau seperti di stadion Camp Nou.
Di salah satu tembok, seseorang menyemprotkan sebuah kalimat dengan cat hitam.
“EN EL BARRIO DE ROCAFONDA MÁS LAMINE YAMALS Y MENOS DESAHUCIOS.” artinya
“Di Rocafonda, Jika lebih banyak Lamine Yamal, maka akan lebih sedikit penggusuran.“
Kalimat itu tidak ditulis untuk Lamine Yamal.
Kalimat itu ditulis untuk anak-anak yang setiap sore masih berlari mengejar bola di antara bangunan tua, sementara orang tua mereka menghitung sisa uang untuk membayar sewa rumah bulan depan.
Di Rocafonda, mimpi sering kali lahir bersamaan dengan rasa lapar.
Menurut Institut Statistik Nasional Spanyol yang dikutip Al Jazeera, hampir separuh warga di kawasan itu hidup dalam risiko kemiskinan. Penggusuran bukan berita besar di sana. Ia adalah kenyataan yang bisa datang kapan saja ketika uang sewa tak lagi sanggup dibayar.
Jauh sebelum dunia mengenalnya sebagai bintang Barcelona dan Timnas Spanyol, Lamine Yamal adalah salah satu anak yang tumbuh di gang-gang sempit itu.
Kampung yang Membesarkannya

Rocafonda bukanlah kawasan wisata yang dikenal orang ketika menyebut Barcelona. Lingkungan padat di Kota Mataró, sekitar 32 kilometer di timur laut Barcelona itu dibangun pada dekade 1960-an sebagai permukiman bagi para pekerja dan pendatang dari Andalusia serta Extremadura di Spanyol selatan.
Blok-blok apartemen bertingkat berdiri rapat untuk menampung arus urbanisasi. Namun pembangunan yang cepat tidak selalu diikuti fasilitas yang memadai. Sekolah, jalan, hingga pasokan air bersih pernah menjadi persoalan yang dihadapi warga.
Memasuki dekade 1990-an, ketika banyak keluarga Spanyol pindah ke kawasan yang lebih mapan, Rocafonda justru menjadi tempat tinggal para imigran dari Maroko, Guinea Khatulistiwa, Aljazair, Pakistan, dan berbagai negara Afrika lainnya karena biaya hidup yang lebih terjangkau.
Kini sekitar 11.600 orang tinggal di Rocafonda. Lebih dari separuh lahir di luar Katalonia, sementara sekitar 37 persen merupakan kelahiran luar negeri. Komunitas terbesar berasal dari Maroko, tanah kelahiran ayah Yamal.
Namun keberagaman itu juga dibayangi persoalan ekonomi. Data Instituto Nacional de Estadística (INE) menunjukkan sekitar separuh penduduk Rocafonda berada dalam kategori berisiko kemiskinan. Pada 2021, kawasan ini bahkan tercatat sebagai wilayah dengan pendapatan per kapita terendah di comarca Maresme. Banyak keluarga bertahan dari pekerjaan berupah rendah, sementara ancaman penggusuran karena tidak mampu membayar sewa menjadi kenyataan yang berulang.
Di lingkungan seperti itulah Lamine Yamal belajar menendang bola, jauh sebelum namanya bergema di stadion-stadion terbesar dunia.
Tekanan Terbesar Bukan Bermain di Final
Orang-orang sering bertanya bagaimana rasanya bermain di depan puluhan ribu penonton.
Apakah gugup?
Apakah takut gagal?
Yamal hanya tersenyum.
Lalu pikirannya kembali kepada ibunya.
“Ibu saya melahirkan saya ketika berusia 16 tahun. Ayah saya harus mencari nafkah, terkadang mengambil barang-barang di jalan agar bisa membawa makanan pulang untuk kami. Itulah tekanan yang sebenarnya.”
Kalimat itu diucapkannya kepada wartawan Cadena SER, yang dikutip dari media Fortune.
Bagi Yamal, tekanan bukan ketika harus menghadapi bek terbaik dunia.
Tekanan adalah ketika seorang anak melihat kedua orang tuanya pulang dalam keadaan lelah, tetapi tetap berusaha tersenyum agar anak mereka tidak ikut cemas.
Tekanan adalah ketika dapur harus tetap mengepul, meski isi dompet hampir kosong.
Sebelum Lahir, Ia Sudah Ditolong Orang Lain
Sedikit orang mengetahui bahwa nama Lamine Yamal bukan sekadar nama.
Wikipedia mencatat kedua nama itu diberikan sebagai penghormatan kepada dua sahabat keluarga yang membantu orang tuanya secara finansial menjelang kelahirannya.
Artinya, bahkan sebelum menarik napas pertamanya, hidup Yamal telah diselamatkan oleh kebaikan orang lain.
Kemudian kedua orang tuanya berpisah.
Neneknya, Fatima, mengambil alih banyak hal.
Mengantar latihan.
Menunggu di pinggir lapangan.
Memastikan cucunya tidak berhenti bermimpi hanya karena keluarga mereka tidak memiliki banyak uang.
Tidak ada kamera.
Tidak ada tepuk tangan.
Tidak ada trofi.
Hanya seorang nenek yang percaya cucunya bisa menjadi seseorang.
Sepasang Kaki Kecil dari Rocafonda
Ketika berusia enam tahun, seorang pencari bakat Barcelona melihatnya bermain.
Tidak ada sepatu edisi terbatas.
Tidak ada pelatih pribadi.
Tidak ada lapangan mewah.
Yang ada hanya seorang bocah kurus dengan bola di kakinya.
Ia bermain seolah lapangan beton itu adalah Camp Nou.
Barcelona melihat sesuatu yang tidak dilihat orang lain.
Setahun kemudian, Yamal masuk La Masia.
Perjalanan keluar dari Rocafonda akhirnya dimulai.
Setiap kali mencetak gol, Yamal membentuk angka 304 dengan kedua tangannya.
Sebagian penonton menganggapnya hanya selebrasi.
Padahal itu adalah tiga angka terakhir kode pos Rocafonda yakni 08304.
Ia tidak pernah lupa dari mana ia berasal.
Ia seolah berkata kepada dunia
“Saya mungkin bermain di stadion terbaik dunia, tetapi hati saya masih tinggal di gang-gang sempit itu.” Kata Yamal
Ketika Satu Anak Mengubah Sebuah Kampung

Kemarin, Yamal mengangkat trofi Piala Dunia.
Jutaan orang melihat seorang juara.
Namun di Rocafonda, orang-orang melihat anak tetangga mereka.
Anak yang dahulu berlari di lapangan beton.
Anak yang keluarganya pernah kesulitan membawa makanan ke meja makan.
Anak yang membuktikan bahwa kemiskinan bukanlah warisan yang harus diterima selamanya.
Di dinding lapangan tempat anak-anak masih bermain hingga hari ini, mural itu tetap berdiri.
“Di Rocafonda, Jika lebih banyak Lamine Yamal, maka akan lebih sedikit penggusuran.”
Barangkali itulah trofi terbesar yang dimiliki Lamine Yamal.
Bukan Piala Dunia.
Bukan Ballon d’Or yang mungkin suatu hari akan diraihnya.
Melainkan ketika seorang anak kecil di Rocafonda memandang mural itu, menggenggam bola lusuh di kakinya, lalu pulang dengan keyakinan baru kepada ibunya.
“Suatu hari nanti, Bu… giliran saya.”
1 thought on “Yamal, Anak Kampung Miskin Penakluk Dunia”
Comments are closed.