
Melalui disertasi doktornya, Wakil Gubernur Sulawesi Tenggara menawarkan pendekatan HUGUA untuk menjawab tantangan pariwisata Sulawesi Tenggara melalui keberlanjutan, identitas, dan akses
Bagi sebagian orang, pariwisata mungkin hanya tentang perjalanan menuju tempat yang indah speerti laut yang biru, budaya yang unik, atau makanan yang tidak ditemukan di tempat lain.
Namun bagi Hugua, persoalannya jauh lebih besar.
Pariwisata, menurutnya, bukan sekadar bagaimana mendatangkan wisatawan. Ia adalah tentang bagaimana sebuah daerah mengelola manusia, budaya, alam, dan ekonomi agar dapat tumbuh dalam satu ekosistem yang sama.
Cara pandang itu menjadi dasar penelitian yang mengantarkannya meraih gelar doktor Ilmu Pemerintahan di Institut Pemerintahan Dalam Negeri (IPDN).
Wakil Gubernur Sulawesi Tenggara itu resmi menyandang gelar doktor setelah menyelesaikan studi selama tiga tahun atau enam semester dengan Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) 3,73. Ia diwisuda bersama 1.404 lulusan lainnya pada Minggu (26/7/2026), dalam prosesi yang turut dihadiri Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian.
Disertasi berjudul “Pengembangan Pariwisata Berkelanjutan Berbasis Kearifan Lokal di Provinsi Sulawesi Tenggara” itu berangkat dari sebuah ironi.
Sulawesi Tenggara memiliki kekayaan wisata yang besar. Daerah ini memiliki bentang laut yang luas, budaya masyarakat lokal yang beragam, hingga kekayaan kuliner yang menjadi identitas daerah.
Namun potensi tersebut belum sepenuhnya berbanding lurus dengan jumlah kunjungan wisatawan maupun kontribusi sektor pariwisata terhadap Pendapatan Asli Daerah (PAD).
Dalam penelitiannya, Hugua menemukan bahwa wisatawan datang ke Sulawesi Tenggara terutama karena tiga daya tarik utama yakni wisata bahari, budaya lokal, dan kuliner khas.
“Hasil riset menunjukkan daya tarik utama Sultra berada pada wisata bahari, budaya lokal, dan kuliner khas. Wisatawan umumnya datang untuk mencari pengalaman baru, berpetualang, serta mengeksplorasi budaya daerah,” kata Hugua.
Namun di balik daya tarik itu, terdapat persoalan yang masih menghambat pertumbuhan pariwisata.
Wisatawan masih menghadapi persoalan akses transportasi antarwilayah yang mahal, waktu tempuh yang panjang, keterbatasan fasilitas pendukung, serta informasi destinasi yang belum sepenuhnya transparan.
Dari persoalan tersebut, Hugua menawarkan sebuah kerangka pendekatan yang ia sebut Humanity, Uniqueness, Governance, Universal Promotion, dan Accessibility (HUGUA).
Kerangka ini bukan teori tunggal yang menggantikan teori-teori sebelumnya. HUGUA merupakan sebuah pendekatan konseptual yang mencoba mempertemukan berbagai pemikiran dalam pembangunan pariwisata berkelanjutan.
Ketika Pariwisata Tidak Lagi Sekadar Mengejar Jumlah Wisatawan
Selama beberapa dekade, penelitian mengenai pariwisata berkelanjutan berkembang melalui berbagai pendekatan.
Sebagian penelitian menempatkan keberlanjutan dalam keseimbangan ekonomi, sosial, dan lingkungan melalui konsep triple bottom line seperti people, planet, profit.
Penelitian lain memilih fokus yang lebih spesifik yakni bagaimana meningkatkan daya tarik destinasi, bagaimana masyarakat lokal terlibat, bagaimana pemerintah mengelola kawasan wisata, bagaimana destinasi dipasarkan, atau bagaimana wisatawan memperoleh kemudahan akses.
Namun, pendekatan tersebut sering berjalan dalam jalurnya masing-masing.
Ada penelitian yang kuat pada aspek ekonomi, tetapi kurang melihat masyarakat lokal. Ada penelitian yang menekankan budaya, tetapi belum menghubungkan dengan tata kelola. Ada pula kajian promosi wisata yang tidak selalu mempertimbangkan aksesibilitas dan keberlanjutan.
Di titik inilah HUGUA mencoba mengambil posisi.
Pendekatan ini melihat pembangunan pariwisata bukan sebagai satu persoalan tunggal, melainkan sebagai hubungan antara lima unsur yang saling berkaitan: manusia, keunikan daerah, tata kelola, promosi, dan akses.
Humanity
Dimensi pertama adalah Humanity, menempatkan manusia di Tengah destinasi
Gagasannya sederhana yakni destinasi wisata tidak boleh hanya menjadi ruang ekonomi, tetapi juga ruang kehidupan masyarakat.
Pariwisata harus memberikan manfaat bagi warga lokal, termasuk masyarakat pesisir, komunitas adat, pelaku usaha kecil, dan pekerja sektor wisata.
Pandangan ini memiliki hubungan dengan literatur pembangunan pariwisata berkelanjutan, salah satunya buku Tourism Governance in the Anthropocene karya Federica Burini, Andrew Holden, dan Sara Belotti.
Buku tersebut melihat pariwisata sebagai aktivitas manusia yang memiliki hubungan erat dengan lingkungan. Tantangan pariwisata masa depan bukan hanya bagaimana meningkatkan pertumbuhan ekonomi, tetapi bagaimana menjaga hubungan manusia dengan ruang hidupnya.
Dalam konteks Sulawesi Tenggara, pendekatan Humanity berarti keberhasilan wisata tidak hanya diukur dari jumlah wisatawan yang datang, tetapi juga dari perubahan kehidupan masyarakat yang berada di sekitar destinasi.
Uniqueness
Setiap daerah memiliki cerita.
Bagi Hugua, kekuatan Sulawesi Tenggara tidak hanya berada pada keindahan alam, tetapi pada identitas yang melekat di dalamnya.
Konsep ini sejalan dengan pemikiran Frans Teguh dalam buku Tata Kelola Destinasi: Membangun Ekosistem Pariwisata (UGM Press, 2021).
Buku tersebut menjelaskan bahwa daya saing destinasi tidak hanya dibangun melalui pembangunan fisik, tetapi melalui kemampuan daerah menjaga nilai lokal, budaya, dan karakter tempat.
Dalam kerangka HUGUA, keunikan menjadi pembeda utama. Sulawesi Tenggara tidak hanya menawarkan tempat untuk dikunjungi, tetapi menawarkan pengalaman yang tidak mudah ditemukan di daerah lain.
Governance
Tidak ada destinasi yang berkembang hanya melalui satu institusi.
Pariwisata membutuhkan pemerintah, masyarakat, pelaku usaha, akademisi, komunitas, hingga investor.
Dimensi Governance dalam HUGUA menempatkan tata kelola sebagai fondasi.
Gagasan ini sejalan dengan buku Strategic Destination Governance: Best Practices for the MICE Sector karya Simone Luongo dan Fabiana Sepe (2025).
Buku tersebut menjelaskan bahwa salah satu persoalan terbesar pembangunan destinasi adalah pengelolaan yang berjalan sendiri-sendiri. Ketika setiap pihak bekerja tanpa koordinasi, potensi wisata sulit berkembang maksimal.
Dalam pendekatan HUGUA, pemerintah bukan hanya regulator, tetapi penghubung yang menyatukan berbagai kepentingan.
Universal Promotion
Destinasi yang indah tidak otomatis dikenal.
Dalam industri pariwisata modern, sebuah daerah harus mampu menceritakan dirinya.
Universal Promotion dalam HUGUA tidak hanya berbicara tentang iklan atau promosi digital, tetapi tentang bagaimana membangun identitas sebuah daerah.
Promosi bukan sekadar menunjukkan pemandangan, tetapi menjelaskan alasan mengapa seseorang harus datang.
Bagi Sulawesi Tenggara, cerita itu dapat berasal dari laut, budaya, sejarah, masyarakat, dan kehidupan lokal yang menjadi ciri khas daerah.
Accessibility
Sebuah destinasi dapat memiliki pemandangan luar biasa, tetapi kehilangan daya tarik ketika sulit dijangkau.
Karena itu, aksesibilitas menjadi bagian penting dalam HUGUA.
Buku Handbook of Accessible Tourism karya Nigel Halpern, Jillian Rickly, Brian Garrod, dan Marcus Hansen (2025) menjelaskan bahwa pariwisata masa depan harus bergerak menuju konsep inklusif.
Akses bukan hanya persoalan jalan dan transportasi.
Ia juga mencakup informasi, fasilitas publik, desain ruang, dan kemampuan destinasi menerima wisatawan dengan berbagai kebutuhan.
Kebaruan Konsep HUGUA
Kebaruan (novelty) penelitian Hugua tidak berada pada penciptaan teori baru yang menggantikan teori sebelumnya.
Kebaruannya terletak pada upaya menyatukan berbagai perspektif yang selama ini sering berdiri sendiri.
Jika penelitian sebelumnya banyak melihat pariwisata melalui satu pintu masuk yakni ekonomi, budaya, lingkungan, tata kelola, atau pemasaran, tetapi HUGUA mencoba melihat destinasi sebagai sebuah ekosistem.
Sebuah destinasi bukan hanya tempat yang dikunjungi wisatawan.
Ia adalah ruang hidup yang mempertemukan manusia, budaya, ekonomi, lingkungan, dan kebijakan publik.
Di situlah posisi penelitian Hugua dalam perkembangan kajian pariwisata yakni menjembatani teori pembangunan wisata berkelanjutan dengan kebutuhan nyata pemerintah daerah.
Masa Depan Pariwisata Sulawesi Tenggara
Pada akhirnya, tantangan Sulawesi Tenggara bukan menemukan destinasi baru.
Daerah ini telah memiliki modal alam dan budaya.
Tantangannya adalah bagaimana mengelola kekayaan tersebut menjadi pengalaman wisata yang manusiawi, memiliki karakter, dikelola bersama, dikenal dunia, dan dapat diakses lebih banyak orang.
Melalui Konsep HUGUA, Wakil Gubernur Sulawesi Tenggara menawarkan satu cara pandang,
bahwa masa depan pariwisata tidak hanya ditentukan oleh seberapa banyak wisatawan datang, tetapi juga oleh bagaimana sebuah daerah menjaga nilai yang membuat wisatawan ingin kembali.