
Di tengah perubahan zaman, tradisi Pakande-Kandea di Buton Tengah tetap bertahan sebagai simbol syukur, persatuan, dan kebersamaan masyarakat.
BUTON TENGAH — Di sebuah ruang terbuka di Buton Tengah, hidangan tersaji dan masyarakat duduk berdampingan. Tidak ada jarak antara pemimpin dan warga, antara tokoh masyarakat dan rakyat biasa. Semua hadir dalam satu meja yang sama, berbagi makanan, percakapan, dan ingatan tentang sebuah tradisi yang telah bertahan selama berabad-abad.
Tradisi itu bernama Pakande-Kandea. Bagi masyarakat Buton Tengah, ia bukan sekadar acara makan bersama. Ia adalah cara sebuah komunitas mengingat asal-usulnya, merawat hubungan sosial, dan menjaga nilai kebersamaan yang diwariskan dari generasi ke generasi.
Momentum itu kembali terlihat dalam peringatan Hari Ulang Tahun ke-12 Kabupaten Buton Tengah. Gubernur Sulawesi Tenggara, Andi Sumangerukka, yang hadir dalam perayaan tersebut, mengajak masyarakat untuk terus menjaga Pakande-Kandea sebagai bagian dari identitas budaya daerah.
“Pemerintah Provinsi Sulawesi Tenggara mengucapkan selamat Hari Ulang Tahun ke-12 kepada Buton Tengah,” kata Andi Sumangerukka.
Namun, di balik perayaan bertambahnya usia sebuah kabupaten, ia melihat ada pesan yang lebih besar yakni pentingnya mempertahankan budaya yang mampu mempertemukan manusia tanpa sekat.
“Salah satu rangkaian kegiatan adalah acara Kande-Kandea. Mari kita lestarikan budaya ini. Artinya, yang bisa menjaga adalah kita,” ujarnya.
Menurutnya, Pakande-Kandea menyimpan nilai yang melampaui sekadar ritual adat. Tradisi tersebut menjadi ruang untuk mensyukuri kehidupan sekaligus memperkuat hubungan sosial.
“Budaya ini adalah budaya untuk mensyukuri sekaligus kebersamaan,” katanya.
Sebuah Tradisi dari Masa Kesultanan
Jauh sebelum menjadi bagian dari agenda perayaan daerah, Pakande-Kandea telah memiliki akar sejarah yang panjang dalam kehidupan masyarakat Buton.
Mengutip kajian Hasni Hasan dari Jurusan Ilmu Sejarah, Fakultas Ilmu Budaya Universitas Halu Oleo (2025) dalam jurnal “Pelaksanaan Tradisi Pakande-Kandea Berbasis Festival pada Masyarakat Tolandona”, tradisi ini merupakan bentuk kearifan lokal yang berperan dalam memperkuat solidaritas sosial dan gotong royong masyarakat.
Tradisi tersebut disebut telah berkembang sejak masa Kesultanan Buton sekitar tahun 1597, pada masa pemerintahan Sultan Dayanu Ikhsanuddin.
Pada awalnya, Pakande-Kandea menjadi bentuk penghormatan kepada para kesatria yang menjaga wilayah Kesultanan Buton dari berbagai ancaman. Tradisi ini juga menjadi ungkapan rasa syukur masyarakat kepada Tuhan atas keamanan, kedamaian, serta kehidupan yang diberikan.
Seiring perjalanan waktu, makna Pakande-Kandea mengalami perkembangan. Ia tidak lagi terbatas sebagai tradisi kerajaan, tetapi menjadi milik seluruh masyarakat.
Warga berkumpul, membawa makanan yang dipersiapkan bersama, lalu duduk dalam suasana yang setara. Tidak ada perbedaan antara mereka yang memiliki jabatan dan mereka yang tidak. Semua hadir sebagai bagian dari komunitas yang sama.
Meja Makan sebagai Simbol Persatuan
Bagi Andi Sumangerukka, kekuatan utama Pakande-Kandea justru terletak pada kesederhanaannya.
Tradisi tersebut memperlihatkan bagaimana hubungan antara pemimpin dan masyarakat dapat dibangun melalui ruang budaya.
“Siapa pun pemimpin, antara pemimpin dengan masyarakat, antara pemimpin dengan tokoh, semua duduk bersama-sama untuk merasakan dan menikmati hidangan,” ujarnya.
Dalam kehidupan modern yang sering menghadirkan jarak sosial, tradisi seperti Pakande-Kandea menjadi pengingat bahwa kebersamaan tidak hanya dibangun melalui kebijakan atau institusi, tetapi juga melalui pertemuan manusia secara langsung.
Dari sebuah meja makan, masyarakat menemukan kembali nilai tentang saling menghormati, berbagi, dan menjaga hubungan sosial.
Merawat Warisan Budaya
Kini tantangan terbesar bagi Pakande-Kandea bukan hanya mempertahankan keberadaannya, tetapi memastikan generasi muda memahami makna di balik tradisi tersebut.
Bagi masyarakat Buton Tengah, melestarikan Pakande-Kandea berarti menjaga lebih dari sekadar sebuah acara adat. Yang dipertahankan adalah nilai gotong royong, rasa syukur, dan semangat persatuan yang telah menjadi bagian dari perjalanan sejarah masyarakat Buton.
“Mari kita lestarikan budaya ini, dan saya merasakan bahwa ini adalah bagian dari kebersamaan kita,” ujar Andi Sumangerukka.
Di Buton Tengah, Pakande-Kandea terus menjadi pengingat bahwa sebuah tradisi tidak hidup hanya karena masa lalunya, tetapi karena masyarakat hari ini masih menemukan makna di dalamnya.
Sebab pada akhirnya, sebuah budaya bertahan bukan hanya karena diwariskan, tetapi karena terus dirasakan penting oleh orang-orang yang menjaganya.