
Sebanyak 1.228 dulang makanan khas Muna mengiringi pengukuhan Pengurus Kerukunan Keluarga Masyarakat Muna (KKMM) Sultra di Kendari, sekaligus memecahkan rekor MURI.
KENDARI — Ribuan orang berdiri mengelilingi pelataran Tugu Religi bekas MTQ di Kota Kendari, Minggu sore (19/07/2026). Di antara deretan pakaian adat dan lantunan doa, seorang tetua adat melangkah perlahan membawa simbol kehormatan masyarakat Muna. Sesaat kemudian, Andi Sumangerukka menundukkan kepala ketika Gelar Adat Muna Sangia Mondono Wite Bhalano disematkan kepadanya.
Tepuk tangan bergemuruh. Bagi masyarakat Muna, momen tersebut menandai penyerahan sebuah amanah yang jauh melampaui jabatan politik.
Gelar itu adalah pengakuan bahwa seorang pemimpin dipercaya menjaga nilai yang diwariskan lintas generasi seperti adat, martabat, dan keharmonisan sebuah masyarakat yang hidup dalam keberagaman.
Baca juga : 49 Tahun Riset Rock Art Pulau Muna
Di Sulawesi Tenggara, provinsi yang dihuni beragam suku, bahasa, dan agama, simbol-simbol adat masih memiliki ruang penting dalam kehidupan publik. Karena itu, penganugerahan gelar Sangia Mondono Wite Bhalano kepada Gubernur Sulawesi Tenggara menjadi lebih dari seremoni budaya. Ia menjadi pernyataan bahwa legitimasi kepemimpinan tidak hanya diukur melalui mandat politik, tetapi juga melalui penerimaan kultural dari masyarakat adat.
Secara filosofis, Sangia merepresentasikan sosok pemimpin yang dihormati karena kebijaksanaan, keluhuran budi, dan kemampuannya menjaga nilai moral, budaya, serta spiritual. Sementara Mondono Wite Bhalano bermakna pemimpin di negeri yang besar dan luas, tempat masyarakat yang berbeda-beda hidup berdampingan dalam satu ruang bersama.
Makna itu terasa selaras dengan tantangan yang dihadapi Sulawesi Tenggara hari ini. Dengan keragaman etnis yang menjadi kekuatan sekaligus tantangan, stabilitas sosial bergantung pada kemampuan merawat ruang kebersamaan tanpa menghapus identitas masing-masing.
Prosesi penganugerahan berlangsung dalam rangkaian Silaturahmi Akbar Kerukunan Keluarga Masyarakat Muna (KKMM) Sulawesi Tenggara yang mengangkat tema Merajut Persaudaraan, Melestarikan Adat dalam Semangat Kawunaha yang Luhur Menuju Indonesia Emas 2045.
Baca juga : Galeri Seni Liang Kabori Bercerita Akar Budaya Maritim Sulawesi Tenggara
Ribuan warga Muna dari berbagai daerah memadati lokasi kegiatan, menghadirkan suasana yang lebih menyerupai pertemuan keluarga besar dibanding agenda organisasi.
Di panggung yang sama, Andi Sumangerukka kemudian memimpin pengukuhan Pengurus KKMM Sultra Masa Bakti 2026–2031. La Ode Darwin resmi dikukuhkan sebagai Ketua KKMM Sultra bersama jajaran kepengurusan baru yang diharapkan menjadi penghubung antara nilai adat dan dinamika pembangunan daerah.
Ketika tiba menyampaikan sambutan, nada pidato gubernur bergeser dari seremoni menuju refleksi. Ia mengaku menerima gelar tersebut dengan rasa syukur sekaligus kesadaran bahwa penghormatan adat selalu membawa konsekuensi moral.
“Gelar ini bukan sekadar simbol penghargaan. Ini adalah amanah untuk menjaga marwah budaya dan terus mendukung pelestarian adat sebagai bagian dari pembangunan Sulawesi Tenggara.” Kata Andi Sumangerukka
Pernyataan itu memperlihatkan bagaimana pemerintah daerah berupaya menempatkan kebudayaan bukan sebagai pelengkap pembangunan, melainkan salah satu fondasinya. Dalam banyak komunitas adat di Indonesia, pengakuan terhadap nilai budaya sering dipandang sama pentingnya dengan pembangunan fisik karena keduanya menentukan keberlanjutan identitas masyarakat.
Baca juga : Fadli Zon Mendorong Kebudayaan Berkelanjutan Sultra dari Museum dan Taman Budaya
Andi Sumangerukka juga menyampaikan penghargaan kepada masyarakat Muna yang dinilainya memiliki tradisi kerja keras, gotong royong, serta kepemimpinan yang kuat. Menurutnya, modal sosial seperti itu menjadi aset penting ketika daerah menghadapi tantangan ekonomi dan keterbatasan fiskal.
Karena itu, ia mengajak masyarakat kembali menghidupkan falsafah Kawunaha yang selama ini menjadi pegangan masyarakat Muna: Po Masigho (saling mengasihi), Po Angka-Angkatau (saling menghormati), Po Adha-Adhati (saling menghargai), dan Po Pia-Piara (saling membina serta memelihara). Nilai-nilai tersebut, katanya, tetap relevan sebagai fondasi kehidupan sosial di tengah perubahan zaman.
Di hadapan ribuan peserta, gubernur juga menyinggung kondisi fiskal Sulawesi Tenggara yang masih terbatas. Namun keterbatasan itu, menurutnya, tidak boleh menjadi alasan untuk berhenti membangun.
“Keberhasilan pembangunan bukan hanya hasil kerja pemerintah, tetapi hasil dari kebersamaan dan kolaborasi seluruh komponen masyarakat,” ujarnya.
Baca juga : Geliat Baru Sineas Muda Sulawesi Tenggara
Pesan itu kemudian diikuti harapan agar kepengurusan baru KKMM mampu memperkuat persaudaraan, melestarikan adat, membina generasi muda, mengembangkan ekonomi masyarakat, sekaligus menjadi mitra strategis pemerintah.

Menjelang senja, perhatian ribuan peserta kembali tertuju pada satu tradisi yang telah lama hidup di tengah masyarakat Muna. Sebanyak 1.228 dulang berisi aneka makanan tradisional dibawa bergotong royong oleh warga dari berbagai daerah. Dulang-dulang itu tersusun memenuhi arena kegiatan, menciptakan pemandangan yang kemudian mengantarkan Silaturahmi Akbar KKMM Sultra meraih Rekor Dunia MURI.
Baca juga : Film Dokumenter Menjaga Ingatan Budaya Wabula
Namun angka 1.228 bukanlah cerita utamanya.
Yang lebih penting adalah makna di balik setiap dulang yang dipikul bersama. Dalam tradisi Muna, makanan tidak hanya disajikan untuk mengenyangkan tamu. Ia adalah bahasa penghormatan, simbol persaudaraan, sekaligus pengingat bahwa kebersamaan selalu lahir dari kesediaan berbagi.
Ketika acara perlahan usai dan masyarakat mulai meninggalkan pelataran Tugu Religi, gelar adat yang baru saja disematkan kepada gubernur tinggal sebagai simbol. Tetapi simbol itu membawa harapan yang lebih Panjang, bahwa kepemimpinan di Sulawesi Tenggara tidak hanya diukur dari kebijakan yang dihasilkan, melainkan juga dari kemampuannya menjaga warisan budaya, merawat keberagaman, dan memastikan nilai-nilai yang diwariskan leluhur tetap hidup di tengah perubahan zaman.