
Malam baru saja turun di Desa Wabula, Kabupaten Buton, ketika halaman tempat pemutaran film mulai dipenuhi warga. Anak-anak berlarian di antara kursi-kursi plastik yang tersusun rapi. Para orang tua duduk berdampingan sambil berbincang pelan, sementara sebagian pemuda sibuk mengabadikan suasana dengan telepon genggam mereka. Dari kejauhan, semilir angin laut membawa aroma khas pesisir yang berpadu dengan riuh percakapan masyarakat yang menanti layar putih itu menyala.
Tak lama kemudian, lampu dipadamkan. Proyektor mulai memancarkan cahaya. Puluhan pasang mata berubah menjadi ratusan, semuanya tertuju pada satu layar yang malam itu bukan sekadar menampilkan film, melainkan menghadirkan kembali cerita tentang identitas mereka sendiri.
Begitulah suasana Layar Benteng Edisi Desa Adat Wabula, yang diselenggarakan Seribu Benteng Production pada Sabtu malam, 18 Juli 2026. Bagi masyarakat yang hadir, film bukan sekadar hiburan. Ia menjadi ruang untuk mengenang, memahami, sekaligus menjaga kebudayaan yang diwariskan dari generasi ke generasi.
Program melalui rangkaian kegiatan bertajuk CineCAMP, penyelenggara menghadirkan ruang belajar, diskusi, dan kolaborasi yang mempertemukan generasi muda dengan sineas, budayawan, serta tokoh adat.
Baca juga : Kaleleo dalam Hukum Adat Buton
Di antara para tamu yang hadir malam itu terdapat Sekretaris Dinas Kebudayaan Kabupaten Buton, La Ode Zainal Abidin Ana, yang mewakili Kepala Dinas Kebudayaan Kabupaten Buton. Turut hadir Camat Wabula, Kapolsek Wabula, Babinsa, Kepala Desa Wabula, para narasumber, peserta CineCAMP, insan perfilman, serta ratusan warga yang mengikuti seluruh rangkaian acara hingga selesai.
Dalam sambutannya, La Ode Zainal Abidin Ana mengingatkan bahwa kebudayaan tidak hanya bertahan melalui cerita lisan atau arsip tertulis. Film, menurutnya, telah menjadi medium baru yang mampu membawa tradisi menjangkau generasi yang tumbuh di tengah derasnya arus teknologi digital.
Ia mencontohkan tradisi Kaombo, yang telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia pada 2025. Namun, baginya, Kaombo hanyalah satu bagian dari kekayaan budaya Wabula. Masih banyak tradisi lain yang menunggu untuk didokumentasikan sebelum waktu perlahan menggerus ingatan kolektif masyarakat.
Baca juga : Geliat Baru Sineas Muda Sulawesi Tenggara
Harapan serupa disampaikan Kepala Desa Wabula, La Unci. Ia melihat film dokumenter tentang Kaombo sebagai langkah awal untuk memperkenalkan identitas budaya masyarakat adat Wabula kepada publik yang lebih luas. Di benaknya, masih ada kisah-kisah lain yang layak diangkat ke layar, termasuk tradisi Kaleo-Leo yang selama ini hidup dalam keseharian masyarakat.

Para penonton pemutaran Film Dokumenter Budaya Buton di Wabula. Foto Istimewa
Bagi Ketua Panitia, Andhy Loppes Eba, kekuatan sebuah film tidak berhenti ketika lampu proyektor dipadamkan. Film justru membuka ruang percakapan.
Melalui CineCAMP, para peserta diajak tinggal bersama, berdiskusi, belajar teknik produksi film, hingga mendengar langsung cerita dari para tokoh adat. Mereka tidak hanya mempelajari cara mengoperasikan kamera atau menyusun gambar, tetapi juga belajar memahami bahwa setiap tradisi menyimpan nilai yang hanya dapat dipahami jika seseorang bersedia mendengarkan masyarakat yang menjaganya.
Baca juga : Film Kocika Lestarikan Tradisi Cia-Cia
“Ekosistem perfilman tidak lahir hanya dari pembuat film,Ia tumbuh ketika masyarakat merasa cerita mereka penting untuk direkam dan diwariskan.” kata Andhy.
Pandangan itu terasa nyata ketika malam memasuki sesi pemutaran film. Tepuk tangan pecah saat empat karya sineas Sulawesi Tenggara diputar bergantian yakni Kaombo, Tuli-Tuli Kapatuli, Cahaya untuk Nur, dan Anak Anyaman. Masing-masing menghadirkan wajah berbeda tentang Sulawesi Tenggara—tentang adat, kehidupan sosial, hingga nilai-nilai kemanusiaan yang tumbuh dari keseharian masyarakat.
Sesekali terdengar tawa penonton. Di lain waktu, suasana berubah hening ketika adegan tertentu mengingatkan mereka pada pengalaman yang begitu dekat dengan kehidupan sendiri. Tidak sedikit warga yang saling berbisik, menunjuk layar, seolah sedang mengenali kembali bagian dari sejarah kampung mereka.
Usai pemutaran film, percakapan tidak berhenti.
Diskusi Film dan Budaya mempertemukan Ketua Asosiasi Dokumenteris Nusantara (ADN) Sulawesi Tenggara, Tomy Almijun Kibu, Tokoh Adat Wabula Makmur, serta sutradara Tuli-Tuli Kapatuli, Rizaldi Noegraha. Mereka berbicara mengenai masa depan film dokumenter di Sulawesi Tenggara, tantangan mendokumentasikan budaya, hingga pentingnya kolaborasi antara sineas, pemerintah, tokoh adat, dan masyarakat.
Baca juga : Filosofi Perahu Boti dan Kapita Lau Buton
Percakapan itu memperlihatkan bahwa pelestarian budaya bukan hanya tanggung jawab lembaga kebudayaan ataupun komunitas film. Ia membutuhkan keterlibatan masyarakat sebagai pemilik cerita.
Menjelang akhir acara, denting musik dari Yandi Pantura menghidupkan kembali suasana. Anak-anak kembali berlarian. Warga bercengkerama. Sebagian masih membahas film yang baru saja mereka saksikan, sementara yang lain mengabadikan malam itu dalam foto bersama.
Ketika layar akhirnya dipadamkan, yang tersisa bukan hanya kenangan tentang sebuah pemutaran film.
Yang pulang bersama masyarakat Wabula malam itu adalah keyakinan bahwa budaya tidak selalu diwariskan melalui museum atau buku sejarah. Kadang-kadang, ia hadir melalui cahaya proyektor yang menerangi layar sederhana di tengah desa, lalu menetap di ingatan orang-orang yang menontonnya.
Di tempat seperti Wabula, film telah menemukan perannya yang paling mendasar yakni menjaga agar sebuah kebudayaan tetap hidup, terus diceritakan, dan tidak hilang ditelan waktu.