
KENDARI – Penelitian terbaru yang dipublikasikan dalam Journal of Engineering and Applied Science, Volume 73, Artikel 121 Tahun 2026, mengungkap bahwa penggunaan nanoaditif mampu meningkatkan ketahanan Aspal Buton terhadap proses penuaan akibat oksidasi dan perubahan suhu.
Penelitian yang dilakukan Andi Muhammad Ifrad berjudul “Statistical Approach on Aging Characteristic of Buton Rock Asphalt Modified by Nanoadditives” menyoroti karakteristik aspal batu Buton yang selama ini dikenal sebagai salah satu sumber aspal alami terbesar di Indonesia.
Dalam penelitian tersebut dijelaskan bahwa proses penuaan oksidatif menjadi salah satu faktor utama yang menyebabkan penurunan kualitas aspal. Penuaan membuat material menjadi lebih kaku sehingga mengurangi sifat viskoelastisnya dan berpotensi mempercepat kerusakan jalan.
Untuk mengatasi persoalan tersebut, peneliti mengembangkan campuran Aspal Buton menggunakan oli mesin bekas sebagai bahan pelunak yang dipadukan dengan karet remah (crumb rubber) serta abu terbang (fly ash) yang diproses hingga berukuran nano.
Campuran tersebut kemudian diuji menggunakan Dynamic Shear Rheometer (DSR) guna mengetahui perubahan sifat material setelah mengalami penuaan jangka pendek maupun jangka panjang pada suhu antara 25 hingga 60 derajat Celsius.
Kekakuan Meningkat Empat Kali Lipat
Hasil penelitian menunjukkan bahwa penambahan nanoaditif mampu meningkatkan nilai kekakuan campuran Aspal Buton hingga empat kali lipat dibandingkan kondisi awal.
Selain itu, campuran tersebut juga memiliki ketahanan yang lebih baik terhadap pengaruh oksidasi maupun perubahan suhu, sehingga dinilai lebih stabil dalam mempertahankan karakteristik mekanisnya.
Peneliti menemukan bahwa penggunaan nano crumb rubber dan nano fly ash mampu memperbaiki ketahanan struktural campuran terhadap pengaruh termal dan proses penuaan.
Nilai koefisien suhu yang negatif menunjukkan material tetap memiliki sifat termoplastik, sedangkan koefisien penuaan yang positif mengindikasikan peningkatan kekakuan sebagai akibat dari proses oksidasi.
Model Statistik Sangat Akurat
Dalam penelitian tersebut, tim peneliti juga mengembangkan model reologi berbasis Evolution Power Law untuk memprediksi perilaku Aspal Buton setelah mengalami penuaan.
Model statistik yang digunakan menghasilkan nilai koefisien determinasi (R²) antara 0,962 hingga 0,987, yang menunjukkan tingkat kecocokan sangat tinggi antara hasil prediksi dengan data pengujian laboratorium.
Validasi terhadap data aktual memperlihatkan penyimpangan model sangat kecil pada berbagai kondisi suhu maupun tingkat penuaan.
Temuan ini dinilai dapat menjadi salah satu referensi ilmiah dalam pengembangan teknologi pemanfaatan Aspal Buton sebagai material perkerasan jalan yang lebih tahan terhadap perubahan suhu dan proses penuaan.
Aspal Buton merupakan salah satu sumber daya alam unggulan Indonesia yang berasal dari Pulau Buton, Sulawesi Tenggara. Berbagai penelitian terus dilakukan untuk meningkatkan kualitas dan daya saingnya sebagai alternatif pengganti maupun pelengkap aspal minyak dalam pembangunan infrastruktur jalan di Indonesia di masa yang akan datang.