
Bagi sebagian orang, penghasilan besar identik dengan mobil mewah, makan di restoran mahal, liburan ke luar negeri, hingga barang-barang bermerek. Tak sedikit pula yang menjadikan gaya hidup sebagai simbol kesuksesan dan status sosial.
Namun, di balik kemewahan yang dipamerkan, tidak sedikit orang justru hidup “dari gaji ke gaji”. Pendapatan yang terus meningkat diiringi kenaikan pengeluaran demi memenuhi gaya hidup dan gengsi.
Fenomena tersebut dikenal sebagai lifestyle inflation, yakni kondisi ketika seseorang menaikkan standar hidup setiap kali penghasilannya bertambah. Akibatnya, kemampuan menabung dan membangun aset tidak berkembang, meski pendapatan terus meningkat.
Perbincangan mengenai pentingnya hidup sederhana kembali mencuat setelah investor sekaligus pendiri akademi kripto, Timothy Ronald, membagikan kebiasaan finansialnya dalam sebuah video yang viral di media sosial.
Meski mengaku memiliki penghasilan hingga ratusan juta rupiah setiap bulan, Timothy mengatakan dirinya masih memilih makan di warung tegal (warteg).
“Saya punya income Rp100 juta, tapi masih makan di warteg. Opor saya tidak beli, kuahnya doang, nasi, tempe, orek tempe biar murah,” ujarnya.
Menurut Timothy, sebagian besar penghasilannya tidak digunakan untuk meningkatkan gaya hidup, melainkan dialokasikan untuk membeli aset investasi, terutama saham.
“Sebenarnya duitnya ratusan juta itu dibeliin semua sama saham. Saya pikir masa depan. Ibarat ingin pohon besar, bibit saya tanam. Nanti kalau pohonnya sudah besar, saya tinggal menikmati hasilnya,” katanya.
Pernyataan tersebut memicu beragam respons. Sebagian warganet menilai sikap Timothy mencerminkan disiplin dalam mengelola keuangan. Namun, ada pula yang berpendapat bahwa setiap orang memiliki cara masing-masing dalam menikmati hasil kerja kerasnya.
Terlepas dari pro dan kontra tersebut, para perencana keuangan telah lama mengingatkan bahaya gaya hidup konsumtif yang mengikuti kenaikan pendapatan.
Sebagai contoh, seseorang yang sebelumnya mampu menabung saat bergaji Rp5 juta belum tentu memiliki tabungan lebih besar ketika penghasilannya meningkat menjadi Rp20 juta atau lebih. Kenaikan pendapatan sering kali diikuti dengan cicilan kendaraan baru, rumah yang lebih besar, gawai terbaru, hingga kebiasaan nongkrong di tempat yang lebih mahal.
Akibatnya, kenaikan penghasilan tidak berbanding lurus dengan pertumbuhan kekayaan.
Dalam prinsip perencanaan keuangan, kekayaan tidak hanya diukur dari besarnya pendapatan, tetapi juga dari kemampuan seseorang membangun aset yang menghasilkan nilai di masa depan. Aset seperti saham, obligasi, reksa dana, atau properti produktif berpotensi memberikan imbal hasil jangka panjang, sedangkan pengeluaran konsumtif umumnya hanya memberikan kepuasan sesaat.
Karena itu, tidak sedikit orang yang tampak sederhana justru memiliki kondisi keuangan yang lebih sehat dibanding mereka yang terlihat mewah tetapi dibebani cicilan dan utang konsumtif.
Hidup hemat juga bukan berarti pelit atau menolak menikmati hasil kerja keras. Yang terpenting adalah menjaga keseimbangan antara memenuhi kebutuhan saat ini dan mempersiapkan masa depan.
Pada akhirnya, penghasilan besar memang dapat dinikmati sesuai kemampuan dan pilihan masing-masing. Namun, jika seluruh kenaikan pendapatan habis untuk mengejar gaya hidup dan pengakuan sosial, kesempatan membangun kekayaan jangka panjang bisa terlewat.
Seperti analogi yang disampaikan Timothy Ronald, kekayaan tidak tumbuh dalam semalam. Layaknya menanam bibit pohon, aset membutuhkan waktu untuk berkembang. Ketika pohon itu telah besar, hasilnya dapat dinikmati tanpa harus terus mengejar gengsi.