
Festival Film Euphoria Comins di Taman Budaya Sultra menghadirkan sembilan film pendek yang membangkitkan optimisme perfilman lokal.
Minggu malam, 12 Juli 2026, suasana Taman Budaya Sulawesi Tenggara berubah dari biasanya. Deretan kursi dipenuhi mahasiswa, dosen, keluarga, pelaku seni, hingga masyarakat yang datang untuk menyaksikan karya sineas muda Universitas Halu Oleo.
Ketika lampu mulai diredupkan, percakapan perlahan menghilang. Layar menyala, lalu sembilan film pendek bergantian membawa penonton memasuki beragam cerita yang lahir dari ruang kelas.
Bagi penonton, malam itu adalah hiburan sekaligus ruang refleksi. Bagi para pembuat film, setiap adegan menjadi penanda perjalanan panjang yang dipenuhi kerja keras, kegagalan, dan harapan.
Festival Film Mahasiswa Euphoria Comins mencatatkan rekor jumlah penonton terbanyak sepanjang penyelenggaraan pemutaran film mahasiswa di Program Studi Ilmu Komunikasi Universitas Halu Oleo.
Rekor itu lebih dari sekadar pencapaian statistik. Antusiasme penonton menunjukkan bahwa karya mahasiswa mampu melampaui ruang akademik dan menemukan tempat di tengah masyarakat.
Festival menghadirkan sembilan film pendek dengan tema dan pendekatan visual yang beragam.
- Ashes
- Dalis
- Saudade
- Dua Piring Penantian
- Before I Know
- Kawin Silang
- Untukku Selamanya
- Silent
- Opss I’m The Killer
Setiap film menawarkan cara pandang berbeda terhadap kehidupan. Ada kisah tentang keluarga, pencarian jati diri, relasi sosial, hingga persoalan kemanusiaan yang dekat dengan keseharian penonton.
Film-film itu tidak lahir dalam semalam. Mahasiswa melewati proses panjang, mulai dari menyusun naskah, mencari lokasi, mengatur pencahayaan, mengulang adegan, hingga menyelesaikan penyuntingan.
Setiap revisi menjadi bagian dari pembelajaran. Setiap kesalahan berubah menjadi pengalaman yang membentuk mereka sebagai pembuat film.
Gemuruh tepuk tangan setelah pemutaran menjadi penghargaan yang sulit diukur dengan nilai akademik. Malam itu, mereka menyaksikan karya yang sebelumnya hanya tersimpan di layar komputer akhirnya diterima oleh publik.
Dosen Pengampu Mata Kuliah Film Digital, Aswan Zanynu, menilai tingginya jumlah penonton sebagai tanda meningkatnya apresiasi terhadap karya mahasiswa.
“Ini rekor jumlah penonton terbanyak. Karya yang lahir dari ruang kelas kini terbukti mampu menarik perhatian publik dan layak dinikmati di luar lingkungan akademik,” ujarnya.
Menurut Aswan, festival ini menjadi ruang pertemuan antara teori dan praktik. Mahasiswa tidak hanya belajar membuat film, tetapi juga belajar menyampaikan gagasan yang relevan bagi masyarakat.
Pemutaran film tidak berakhir ketika lampu kembali menyala. Banyak penonton memilih bertahan untuk berbincang dengan para pembuat film mengenai cerita yang baru saja mereka saksikan.
Diskusi berlangsung hangat tanpa sekat. Penonton menyampaikan kesan, sementara mahasiswa menjelaskan proses kreatif yang melahirkan setiap adegan.

Ketua Panitia, Muh. Hamzah Altafariza Abunawas, berharap Euphoria Comins berkembang menjadi agenda yang terus melahirkan karya kreatif sekaligus memperkuat budaya perfilman mahasiswa di Sulawesi Tenggara.
Festival itu juga menghadirkan sineas Sulawesi Tenggara, Tomy Almyjun, sebagai salah satu dewan juri. Baginya, antusiasme penonton dan kualitas karya mahasiswa menjadi pertanda baik bagi masa depan perfilman daerah.
“Saya melihat masa depan film Sultra yang terus bertumbuh,” kata Tomy.
Ia juga mengapresiasi penyelenggara yang melibatkan praktisi perfilman dalam proses penilaian karya mahasiswa.
“Terima kasih atas kepercayaannya kepada Pak Susilo Raharjo, Pak Aswan Zanynu, dan Pak Dasmin Ekeng yang telah mengundang saya sebagai salah satu juri,” ujarnya.
Menurut Tomy, kolaborasi antara kampus dan sineas lokal perlu terus diperkuat. Sinergi seperti ini dapat membuka ruang belajar sekaligus memperluas ekosistem perfilman di Sulawesi Tenggara.
Malam itu memang menghasilkan rekor jumlah penonton. Namun, yang tertinggal bukan hanya angka, melainkan keyakinan bahwa karya mahasiswa mampu menggerakkan emosi, memantik percakapan, dan membangun harapan.
Di Taman Budaya Sulawesi Tenggara, sembilan film pendek menjadi penanda bahwa mimpi besar bisa berawal dari ruang kelas. Ketika bertemu penonton, mimpi itu berubah menjadi harapan baru bagi perjalanan perfilman Sulawesi Tenggara.