Peta Perang Kamboja Thailand
Bencana - Geopolitik

Perang Kamboja-Thailand : Ratusan Ribu Warga Mulai Pulang, Ancaman Ranjau Menghadang

Memasuki minggu keempat krisis di perbatasan Kamboja-Thailand, gelombang pengungsian mulai menunjukkan tren penurunan. Meski ratusan ribu warga dilaporkan telah kembali ke kampung halaman, situasi di lapangan masih dibayangi ketidakpastian. Ancaman bahan peledak yang belum meledak (UXO) serta rusaknya infrastruktur dasar menjadi tembok besar bagi pemulihan kehidupan warga terdampak.

Laporan terbaru dari Humanitarian Response Forum (HRF) per 8 Januari 2026 menunjukkan dinamika lapangan yang masih sangat cair. Data National Committee for Disaster Management (NCDM) mencatat sedikitnya 475.000 warga telah kembali ke daerah asal. Namun, angka ini tidak serta-merta menghapus krisis kemanusiaan yang ada.

Saat ini, masih terdapat 173.776 orang yang bertahan di pengungsian. Dari jumlah tersebut, kelompok rentan mendominasi dengan rincian 91.170 perempuan dan 56.757 anak-anak. Sebagian dari mereka, yakni sekitar 64.018 orang, berjejal di 127 titik pengungsian resmi, sementara 109.758 lainnya menggantungkan nasib di rumah-rumah kerabat atau komunitas lokal.

Ancaman UXO Hambatan terbesar bagi pemulihan. Sebagian besar warga yang belum bisa kembali terganjal oleh kontaminasi peledak sisa perang atau unexploded ordnance (UXO) di sekitar tempat tinggal mereka.

“Ada ketidakpastian bagi mereka untuk pulang dalam waktu dekat. Selain faktor keamanan dan rumah yang rusak parah, ancaman ranjau dan bahan peledak di habitat asli mereka menjadi risiko yang terlalu besar untuk diabaikan,” tulis laporan tersebut.

Kondisi di kamp pengungsian pun dilaporkan masih memprihatinkan. Kebutuhan akan air bersih, sanitasi, dan kesehatan menjadi prioritas yang belum sepenuhnya terpenuhi. Selain itu, bantuan pangan dan layanan kesehatan primer bagi penyandang disabilitas serta lansia masih menjadi rapor merah yang harus segera dibenahi oleh para pemangku kepentingan.

Kesenjangan di Daerah Asal Ironisnya, kepulangan warga ke desa asal justru memicu persoalan baru. Di daerah-daerah tujuan kepulangan, layanan publik lumpuh. Sekolah-sekolah rusak, akses air bersih terputus, dan fasilitas kesehatan tidak berfungsi optimal. Warga yang kembali pun harus menghadapi kenyataan pahit kehilangan aset produktif dan mata pencaharian.

Para aktivis kemanusiaan menekankan bahwa bantuan tidak boleh berhenti saat warga meninggalkan kamp evakuasi, melainkan harus terus dikawal hingga mereka mampu mandiri di tanah kelahiran sendiri.