Suasana di titik pusat peresmian Sekolah Rakyat di Banjarbaru, Kalimantan Selatan, Senin (12/1/2026), mendadak hening saat Presiden Prabowo Subianto mulai mengalihkan topik pembicaraannya dari angka-angka pembangunan menuju soal martabat dan etika hidup.
Di hadapan ribuan murid yang hadir, Presiden menyampaikan sebuah pesan tentang relasi antara orang tua, kejujuran, dan masa depan bangsa.
Presiden Prabowo dengan tegas meminta generasi muda Indonesia untuk membuang jauh rasa rendah diri terhadap latar belakang ekonomi keluarga. Menurut beliau, profesi orang tua, seberapa pun sederhananya di mata sosial adalah sebuah kemuliaan selama dilakukan dengan cara yang halal.
“Murid-murid dan anak-anakku, jangan kau kecil hati, jangan kau malu. Orang tuamu hanya buruh atau petani miskin atau hanya tukang pemulung, jangan kau malu,” ujar Presiden
Bagi Presiden, tetesan keringat seorang pemulung atau buruh bukan sekadar usaha bertahan hidup, melainkan investasi suci untuk masa depan generasi berikutnya.
“Mereka mulia, mereka kerja keras, halal, bekerja dengan keringat, untuk masa depanmu. Jangan pernah kecil hati,” tegasnya.
Presiden membandingkan antara rakyat kecil yang jujur dengan kelompok berpendidikan yang menyalahgunakan kekuasaan. Prabowo melakukan dekonstruksi terhadap makna kehormatan yang selama ini sering disalahartikan sebagai jabatan dan kekayaan.
“Saya lebih hormat sama pemulung, saya lebih hormat dengan tukang becak yang kerja dengan keringat, daripada mereka yang pintar-pintar tapi mencuri uang rakyat. Mereka (pekerja kasar) lebih mulia dari orang-orang pintar yang berkhianat kepada negara dan bangsa,” ucap Prabowo yang disambut riuh tepuk tangan hadirin.
