Di Laonti, Konawe Selatan, keselamatan pasien kerap bergantung pada air pasang. Perahu menjadi satu-satunya akses menuju rumah sakit di Kota Kendari.

Langit pagi di dermaga Laonti masih diselimuti warna abu-abu ketika warga mulai berdatangan. Tidak ada hiruk-pikuk pelabuhan, tidak pula suara sirene kapal yang bersiap berlayar. Yang terdengar hanya percakapan pelan, langkah kaki di papan dermaga, dan bunyi ombak kecil yang memukul tiang-tiang kayu.
Di tengah kerumunan, seorang perempuan mengangkat barang-barang satu per satu ke dalam perahu. Sebuah bantal diletakkan lebih dulu di bagian belakang, disusul tas berisi pakaian dan perlengkapan lain yang disiapkan untuk perjalanan panjang menuju Kota Kendari.
Tak jauh dari situ, sebuah ambulans berhenti. Beberapa warga berdiri mengelilinginya dalam diam.
Sesaat kemudian, delapan orang mengangkat tandu secara bersamaan. Seorang perempuan yang sakit dibawa perlahan keluar dari ambulans menuju perahu yang telah menunggu di bibir dermaga. Pengemudi kapal segera mengulurkan tangan, membantu memasukkan tandu ke atas geladak sempit. Semua dilakukan dengan hati-hati, seolah satu gerakan yang keliru bisa mengubah harapan menjadi penyesalan.
Bagi banyak daerah, perjalanan menuju rumah sakit adalah urusan hitungan kilometer. Di Laonti, perjalanan itu lebih dulu ditentukan oleh air laut.
Jika air surut, kapal tidak dapat keluar dari muara. Jika angin bertiup terlalu kencang, pelayaran harus dibatalkan. Ketika alam berkata tidak, bahkan keadaan darurat pun harus menunggu.
“Baru kemarin merujuk orang sakit menuju Kota Kendari, sekarang ada lagi yang mau dirujuk ke Kota Kendari,” kata Heriyanti melalui siaran langsung di akun Facebook miliknya kemarin (20/07/2026).
Suaranya terdengar tenang, tetapi menyimpan kelelahan yang telah lama dipikul warga kecamatan di pesisir Kabupaten Konawe Selatan itu.
“Terjadi masalah keberangkatan karena kami di Kecamatan Laonti ini seperti ini kondisinya. Orang sakit ini sudah lama mau diberangkatkan karena cuaca, air surut, dan kapal tidak bisa keluar di muara,” ujarnya.
Kalimat itu menggambarkan kenyataan yang sudah menjadi rutinitas. Di Laonti, kondisi pasien bukan satu-satunya yang menentukan cepat atau lambatnya mendapat pertolongan medis. Pasang surut air laut ikut menentukan nasib seseorang.
“Kalau angin kencang, tidak bisa berangkat,” lanjutnya.
Laonti adalah sebuah kecamatan yang berada di jazirah tenggara Sulawesi. Ironisnya, wilayah ini masih belum terhubung oleh jalan darat yang dapat digunakan masyarakat menuju ibu kota kabupaten Konawe Selatan maupun Kota Kendari. Laut menjadi satu-satunya jalur utama transportasi.
Bagi nelayan, laut adalah sumber kehidupan. Namun bagi warga yang membutuhkan layanan kesehatan, pendidikan, atau sekadar mengurus administrasi pemerintahan, laut sering kali menjadi penghalang yang tidak bisa mereka kendalikan.
Setiap kali ada warga yang sakit keras, keluarga harus lebih dulu memastikan apakah cuaca bersahabat. Mereka menghitung arah angin, menunggu air pasang, mencari kapal yang bersedia berangkat, lalu berharap perjalanan berjam-jam melintasi Teluk Kendari dapat dilalui dengan selamat.
Tidak sedikit cerita tentang pasien yang harus menahan sakit lebih lama hanya karena gelombang sedang tinggi.
Di tempat lain, ambulans melaju di atas aspal. Di Laonti, ambulans hanya mengantar sampai bibir laut.
Selebihnya, nyawa diserahkan kepada perahu.
Heriyanti mengatakan masyarakat tidak meminta sesuatu yang mewah. Mereka hanya menginginkan akses jalan darat yang selama puluhan tahun menjadi harapan.
“Ini kondisi warga di Laonti karena tidak adanya akses jalan darat. Entah sampai kapan diselesaikan tembusan jalan darat agar masyarakat Lapuko, Tambuluso, Laonti, sehingga kami masyarakat Laonti bisa menggunakan secara umum,” katanya.
Harapan itu kembali disampaikan kepada Bupati Konawe Selatan, Irham Kalenggo, yang menurutnya telah melihat langsung kondisi wilayah tersebut.
“Semoga di bawah Irham Kalenggo dapat memperhatikan masyarakat Laonti. Jadi kami berharap di bawah kepemimpinan Bupati Irham Kalenggo bisa menyelesaikan penderitaan warga Laonti,” ujarnya.
Ia menambahkan, sejak Kabupaten Konawe Selatan berdiri sebagai daerah otonom sekitar 23 tahun lalu, masyarakat Laonti merasa belum menikmati pembangunan yang setara.
“Karena Bupati Irham Kalenggo sudah melihat sendiri kondisi Kecamatan Laonti. Sejak Konawe Selatan berdiri secara otonom 23 tahun lalu, kami masyarakat Laonti belum merasakan kesejahteraan.”
Di atas perahu itu, seorang pasien akhirnya bersandar di atas tandu. Mesin kapal dinyalakan perlahan. Warga di dermaga melambaikan tangan, sebagian hanya memandang hingga perahu menjauh meninggalkan muara.
Tidak ada yang tahu apakah perjalanan akan berlangsung mulus atau harus melawan ombak di tengah laut.
Tetapi bagi masyarakat Laonti, pemandangan seperti itu bukanlah peristiwa luar biasa. Ia telah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari, ketika jalan menuju rumah sakit harus lebih dulu meminta izin kepada laut.
Dan selama jalan darat belum benar-benar hadir, setiap kali seseorang jatuh sakit, warga Laonti akan terus menunggu, menunggu cuaca membaik, menunggu air pasang, dan menunggu negara datang lebih dekat.