Makanan Bergizi Gratis
Jakarta – Siaran langsung TikTok yang digelar pada Rabu (1/7/2026) menjadi ruang diskusi mengenai masa depan anak-anak Indonesia.
Penyanyi dangdut Dewi Luna dan Cut Mila memandu perbincangan bersama Ricky Tamba, tenaga ahli Presidential Communication Office (PCO), mengenai Program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Percakapan tersebut tidak hanya membahas program pemerintah, tetapi juga mengangkat realitas yang selama ini luput dari perhatian banyak orang.
Ricky Tamba mengungkapkan bahwa sebelum program MBG dijalankan, jutaan anak Indonesia berangkat ke sekolah dalam kondisi belum sarapan.
“Lebih dari 60 persen atau sekitar 40 jutaan anak Indonesia pergi ke sekolah dengan perut kosong. Kalau kita berasal dari keluarga menengah ke atas mungkin tidak merasakan itu. Tetapi bayangkan jutaan anak kita belajar dalam keadaan lapar,” ujarnya.
Menurut Ricky, gagasan Presiden Prabowo tidak berhenti pada sekadar mengenyangkan perut anak-anak.
Program tersebut dirancang agar setiap anak memperoleh asupan gizi yang seimbang, mulai dari protein, karbohidrat, vitamin, hingga nutrisi lain yang dibutuhkan untuk tumbuh dan belajar.
“Pak Prabowo tidak hanya ingin anak-anak kenyang, tetapi kebutuhan gizinya juga terpenuhi.”
Dalam kesempatan itu, Dewi Luna yang juga aktif sebagai pengurus Perempuan Sayang Indonesia (PEMSI) menilai masih banyak informasi yang keliru mengenai MBG beredar di media sosial.
Menurutnya, pengalaman para ibu yang telah merasakan langsung manfaat program jauh berbeda dengan berbagai narasi negatif yang beredar di dunia maya.
“Terlalu banyak hoaks di media sosial. Kami di PEMSI turun langsung mendengar cerita para ibu. Banyak yang mengaku program ini sangat membantu, sementara sebagian besar ibu penerima manfaat justru tidak aktif di media sosial,” kata Dewi Luna.
Ia menilai suara masyarakat yang merasakan manfaat program perlu lebih banyak disampaikan agar informasi yang berkembang menjadi lebih berimbang.
Investasi untuk Masa Depan
Bagi Ricky Tamba, MBG bukanlah program bantuan jangka pendek yang hasilnya dapat dilihat dalam hitungan hari.
Ia menyebut program tersebut merupakan investasi sumber daya manusia yang manfaatnya baru akan terasa dalam jangka panjang.
“Program yang dilakukan Pak Prabowo bukan program karitatif. Dampaknya bukan besok atau lusa, tetapi lima sampai lima belas tahun ke depan.”
Selain aspek kesehatan, Ricky juga menyoroti manfaat ekonomi yang dirasakan keluarga.
Berdasarkan perhitungan para ahli, satu anak penerima MBG diperkirakan dapat menghemat pengeluaran keluarga sekitar Rp400 ribu setiap bulan.
Artinya, bagi keluarga yang memiliki dua anak, penghematan dapat mencapai sekitar Rp800 ribu per bulan, sehingga anggaran rumah tangga dapat dialihkan untuk kebutuhan lainnya.
Ricky mengungkapkan bahwa sejumlah penelitian awal mengenai dampak MBG telah menunjukkan hasil yang positif, meski belum dipublikasikan karena proses pengumpulan data masih berlangsung.
Menurutnya, hasil sementara memperlihatkan adanya peningkatan kondisi gizi, pertumbuhan fisik, hingga kemampuan belajar anak-anak penerima manfaat.
“Hasil awal menunjukkan kecerdasan anak meningkat, pertumbuhan badan lebih baik, dan anak-anak menjadi lebih bertenaga. Nanti hasil riset lengkapnya akan diluncurkan setelah jumlah sampel dinilai mencukupi.”
Bagi Dewi Luna dan Cut Mila, diskusi tersebut menjadi pengingat bahwa media sosial tidak hanya menjadi ruang hiburan, tetapi juga dapat dimanfaatkan untuk menyampaikan informasi yang edukatif.
Di balik perdebatan yang kerap muncul di ruang digital, mereka berharap masyarakat dapat melihat MBG dari pengalaman nyata para penerima manfaat.
Sebab, bagi jutaan anak Indonesia, seporsi makanan bergizi bukan sekadar makan siang. Ia adalah bekal untuk belajar, tumbuh sehat, dan membangun masa depan yang lebih baik.
1 thought on “Ricky Tamba : Jangan Lihat MBG Hari Ini, Lihat Dampaknya 10 Tahun Mendatang”
Comments are closed.