
Di atas panggung Indonesia Agricultural Investment Summit 2026 di Pullman Jakarta Central Park, Jakarta Barat, Kamis, 9 Juli 2026, H. Jumarding sebagai Wakil Bupati Kolaka Utara memberi pemaparan dihadapan investor, akademisi, pelaku usaha, perbankan, serta perwakilan kementerian dan Lembaga. Ia membawa sebuah gagasan yang lahir dari kebun-kebun kelapa di daerahnya yakni menjadikan Kolaka Utara sebagai pusat hilirisasi kelapa di Indonesia.
Presentasi bertajuk Peluang Hilirisasi Kelapa Terpadu Kabupaten Kolaka Utara itu bukan hanya berisi data produksi dan peluang investasi. Di balik angka-angka tersebut, tersimpan visi untuk mengubah daerah yang selama ini dikenal sebagai penghasil bahan baku menjadi kawasan industri yang mampu menciptakan nilai tambah bagi masyarakat.
“Kami tidak ingin lagi hanya menjadi daerah penghasil bahan baku. Kami ingin menjadi daerah industri, menjadi pusat pengolahan, menciptakan lapangan kerja baru, meningkatkan pendapatan petani, dan membangun ekonomi daerah yang lebih tangguh serta berkelanjutan melalui hilirisasi kelapa,” ujar Jumarding.
Gagasan itu tidak muncul begitu saja. Jumarding memahami kehidupan masyarakat pedesaan sejak kecil. Ia tumbuh di lingkungan agraris yang membuatnya akrab dengan kehidupan petani. Pendidikan dasarnya ditempuh di SD Negeri 1 Kebo, kemudian dilanjutkan ke SMP Negeri Salaonro, Kabupaten Soppeng. Pengalaman hidup di desa membentuk pandangannya bahwa kekayaan alam hanya akan membawa kesejahteraan apabila mampu diolah menjadi produk bernilai tambah.
Pandangan itulah yang kini ia bawa ke ruang-ruang investasi.
Menurutnya, kelapa bukan sekadar hasil perkebunan. Hampir seluruh bagian tanaman dapat diolah menjadi berbagai produk industri, mulai dari minyak kelapa, Virgin Coconut Oil (VCO), santan, tepung kelapa, desiccated coconut, coconut chips, nata de coco, cuka kelapa, arang tempurung, karbon aktif, cocopeat, cocofiber, hingga berbagai produk kerajinan.
Potensi itu didukung oleh produksi yang terus meningkat. Dalam empat tahun terakhir, luas perkebunan kelapa di Kolaka Utara bertambah dari 3.516 hektare pada 2021 menjadi 3.906 hektare pada 2025. Produksi pun meningkat dari 3.808 ton menjadi 4.545 ton pada periode yang sama.
Namun bagi Jumarding, peningkatan produksi tidak akan banyak berarti apabila daerah hanya menjual kelapa dalam bentuk bahan mentah. Karena itu, ia mendorong pembangunan industri pengolahan yang mampu memperpanjang rantai nilai ekonomi sehingga manfaatnya dapat dirasakan langsung oleh petani, pelaku UMKM, hingga tenaga kerja lokal.
Di hadapan para calon investor, ia menawarkan lebih dari sekadar potensi bahan baku. Pemerintah Kabupaten Kolaka Utara, siap memfasilitasi penyediaan lahan bagi pembangunan pabrik pengolahan kelapa, mempercepat proses perizinan, serta menjamin pasokan bahan baku tidak hanya dari Kolaka Utara, tetapi juga dari wilayah penyangga seperti Kabupaten Kolaka, Kolaka Timur, dan Bombana.
Melalui pendekatan tersebut, Jumarding berharap investasi tidak berhenti pada eksploitasi sumber daya alam, melainkan menjadi penggerak lahirnya industri berbasis komoditas lokal yang mampu membuka lapangan kerja, meningkatkan pendapatan petani, dan memperkuat fondasi ekonomi Kolaka Utara.
Bagi Jumarding, hilirisasi kelapa adalah jalan untuk memastikan bahwa kekayaan alam yang selama ini tumbuh di kebun-kebun rakyat dapat menjadi sumber kesejahteraan yang lebih besar bagi generasi mendatang.